Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menuntut Menteri Kesehatan Nila Moeloek (Ist)

JAKARTA- Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Samosir mendesak pemerintah segera membentuk Lembaga Donor Organ, termasuk di dalamnya organ ginjal. Dengan adanya lembaga ini, transplantasi ginjal akan ada yang mengkoordinir dan mengelola dengan regulasi yang jelas. Hal ini disampaikannya kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (16/4).

Selain itu menurutnya, akan semakin banyak jumlah pasien yang akan melakukan cangkok ginjal, karena ada sebuah lembaga yang menghimpun donor yang diakui legalitasnya untuk menghindari praktik jual beli organ yang sampai saat ini masih banyak kita temui dipasar gelap.

“Bukan hanya itu saja, si pendonor juga dilindungi secara hukum,” katanya.

Sebelumnya Tony Samosir yang juga pasien cuci darah yang sudah cangkok ginjal ini, menuntut pemerintah memperhatikan kepentingan pasien gagal ginjal.

"Ibu Menteri Kesehatan, cuci darah saja tidak cukup. Berikan kami hak atas obat-obatan!" serunya dalam acara Kopdar (Kopi Darat) yang digelar Komunitas Pasien Cuci darah Indonesia (KPCDI) dengan bekerjasama AvShunt Indonesia, Minggu (15/4). Bertempat di Taman Wiladatika Cibubur, yang diikuti sekitar 200 pasien gagal ginjal se-JABODETABEK. Selain bertemu, berdiskusi dan sharing pengalaman, panitia juga mengadakan berbagai lomba. Diharapkan Kopdar ini bisa meningkatkan persaudaraan dan solidaritas di kalangan pasien cuci darah.

Tony Samosir juga mengkritik sistem rujukan yang baru, dianggap terlalu berbelit-belit dan menyusahkan pasien cuci darah dimana keadaan fisik mereka yang rata-rata lemah.

"Kami ini harus seumur hidup cuci darah. Kenapa kami harus memperbaharui rujukan setiap tiga bulan? Selain memberatkan kami, hanya akan semakin membuat rumah sakit penuh dan jumlah antrian yang panjang," pungkasnya. (Petrus Hariyanto)