Eva Sundari berkunjung ke KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) Peduli Mulia pendamping kelompok disabilitas di Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar pada Hari Senin, (14/5). (Ist)

BLITAR- Pak Puguh, Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Blitar, mengajak anggota DPR RI Dapil Blitar, Eva Sundari berkunjung ke KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) Peduli Mulia pendamping kelompok disabilitas di Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar pada Hari Senin, (14/5). Bertempat di Balai Desa, KSM Peduli Mulia melakukan pemberdayaan 25 penyandang cacat fisik maupun intelektual melalui kegiatan membatik.

Para pendamping yang berjumlah 10 orang ini mengarahkan, mengajari teknik batik ciprat, suntik maupun melukis menggunakan canting sambil mengajari pendidikan dasar tentang kebersihan dan kemandirian. Para pendamping harus bersabar karena sering muka mereka menjadi sasaran ciprat dan semprot para pembatik istimewa jika lagi tidak ‘mood’ bekerja.

Mereka mengeluhkan tiadanya tempat permanen untuk berkarya karena tempat produksi mereka numpang di gedung balai desa Resapombo. Jika balai desa digunakan, maka produksi terhenti dan para siswa ini duduk-duduk di luar memunggu hingga rapat selesai. Mereka berharap  bantuan untuk mendirikan gedung seluas 7X12 meter di tanah milik desa.

Mereka mengembangkan batik motif kayu dengan warna dasar kecoklatan yang khas yang Dinas Sosial akan menguruskan hak patennya. Pesanan batik motif ini tidak pernah sepi, dinas-dinas maupun lembaga-lembaga lain di kabupaten sering memesan untuk keperluan seragam maupun souvenir bagi para tamu. Selain melayani pesanan khusus, para pengurus KSM Peduli Mulia juga rajin ikut pameran UMKM tingkat kabupaten maupun propinsi.

“Kami membutuhkan tempat untuk produksi, sekaligus untuk interaksi sesama penyandang disabilitas beserta keluarga mereka masing-masing yang kelak bisa menjadi pendamping yang terampil. Jadi, membatik adalah kegiatan   produksi sekaligus membangun relasi dan edukasi untuk ketrampilan hidup dasar,” kata ibu Anisa salah satu pendamping.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, tiadanya SLB di daerah tersebut menjadikan pentingnya keberadaan gedung ini untuk berbagai  aktivitas bagi kel disabilitas termasuk untuk menambah kapasitas produksi sehingga bisa melibatkan 23 siswa lainnya yang belum tertangani.

Para pendamping bekerja berdasar kerelawanan sehingga tidak ada gaji namun harus pula membawakan makanan untuk makan siang bersama tiap hari. Eva Sundari yang menerima aspirasi ini mencatat semua keluhan.

“Saya  mendukung upaya pemberdayaan dan akan saya lakukan pendekatan agar ada program CSR dari bank-bank pemerintah maupun BUMN lainnya untuk komunitas disabilitas ini. Hanya pendekatan Pemberdayaan yang demikian yang bisa mengantar ke kemandirian.” ujarnya dengan mantap. (Ardiansyah Mahari)