Anggota DPR Komisi XI Eva Kusuma Sundari, dalam sosialisasi dana desa oleh BPK kepada seluruh kepala desa se Kabupaten Kediri dan camat sejumlah 347 orang telah berlangsung di Hotel Grand Surya pada Hari Senin, (14/5). (Ist)

BLITAR- Sosialisasi dana desa oleh BPK kepada seluruh kepala desa se Kabupaten Kediri dan camat sejumlah 347 orang telah berlangsung di Hotel Grand Surya pada Hari Senin, (14/5). Hadir Komisioner 5 BPK Isma Yatun, anggota DPR Komisi XI Eva Kusuma Sundari, perwakilan BPK Jawa Timur dan Bupati Kediri, dr Haryanti Sutrisno.

“Kita berharap para kepala desa menggunakan logika Money Follows Function sehingga penggunaan dana desa memberikan output maksimal,” pesan komisioner Isma Yatun.

Implementasi asas-asas pengelolaan keuangan seperti transparansi, tertib dan disiplin anggaran, partisipatif dan akuntabel menurutnyaakan membantu tercapainya output yang maksimal tersebut, imbuhnya.

Eva Sundari pada sambutan balasan menggunakan ilustrasi kesuksesan Desa Ponggok di Klaten dalam penggunaan dana desa sehingga desa mampu keluar dari status sebagai desa tertinggal bahkan menjadi desa makmur. Melalui pemberdayaan BUMDES Tirta Mandiri yang bisa mendirikan 9 PT untuk berbisnis dan saham dimiliki oleh warga negara.

Kepada Bergelora.com dilapor, BUMDES Tirta Mandiri berpenghasilan Rp 10 milyar di tahun 2017 sehingga punya banyak kesempatan untuk membuat program-program santunan manula, membayar BPJS seluruh warga desa, bedah rumah, maupun subsidi bulanan untuk manula. Tiap warga mendapat tambahan bulanan sekitar Rp 500 ribu per bulan dari saham yang dipunyai di salah satu PT milik BumDes Tirta Mandiri.

“Karena dana desa tujuannya adalah menggerakkan perekonomian desa untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran, maka sepatutnya BPK menggunakan audit kinerja sehingga bisa memfasilitasi pengelolaan keuangan yang output oriented, dan bukan audit keuangan,” argumen Eva Sundari. Dengan audit kinerja, dana desa yang Rp 60 triliun bisa terkawal efektifitasnya sesuai tujuan peruntukannya.

Meski demikian, Eva Sundari mengingatkan bahwa upaya mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial di pedesaan tidak akan terwujud jika tidak ada perdamaian dan kestabilan. Eva Sundari mengajak peserta untuk mengheningkan cipta bagi para korban bom bunuh diri di Surabaya dan mewaspadai gerakan dan ajaran intoleransi yang merupakan cikal bakal terorisme. (Ardiansyah Mahari)