Bupati Lampung Timur, Chusnunia (Nunik) di atas gajah dalam Festifal Waykambas, Lampung Timur. (Ist)

WAY KAMBAS  - Taman Nasional Waykambas yang terletak di Lampung Timur merupakan tempat wisata yang banyak dikunjungi wisata lokal maupun asing.

Para pejabat di daerah ini pun dengan bangga memamerkan gajah bermain sepakbola dan atraksi menarik lainnya di tempat wisata itu kepada tamu yang berkunjung ke Lampung.

Taman Nasional Waykambas dengan berbagai atraksi gajah jinak menjadi tempat wisata andalan sekaligus kebanggaan masyarakat Lampung.

Kebanggan itu antara lain diwujudkan dengan dibangunnya Tugu Gajah di pusat ibu kota Provinsi Lampung. Binatang berbelalai ini pun dijadikan ikon daerah berujuluk Sang Bumi Ruwa Jurai ini. Beragam sovenir untuk wisatawan dan kain khas Lampung, tapis,  banyak yang menggunakan motif gajah.

Kebanggaan Lampung terhadap hewan bertelinga lebar itu, antara lain karena di Indonesia hanya Lampung yang memiliki tempat penjikakan gajah liar. Yaitu, Pusat Pelatihan Gajah (PLG) yang terletak di Taman Nasional Waykambas.

Gajah liar yang selama ini dikenal sebagai hama tanaman petani ini,  ditangkap kemudian `disekolahkan` di PLG. Gajah-gajah itu tidak sekadar dijinakkan. Dengan mendatangkan gajah latih dari Thailand, lengkap dengan pawangnya, gajah-gajah itu dilatih melakukan berbagai atraksi, seperti bermain sepak bola.

Keberhasilan PLG menjinakkan dan melatih gajah liar, membuat Taman Nasional Waykambas bersinar sebagai tempat wisata dan menjadi andalan Lampung untuk menarik kunjungan wisatawan.

Seiring dengan perjalanan waktu, pamor Taman Nasional Waykambas sebagai tempat wisata, meredup. Pada libur Idul Fitri yang biasanya Waykambas ramai pengunjung, berubah sepi. Fasilitas dan sarana wisata yang ada di PLG, banyak yang rusak dan tidak terawat.

Di tengah kondisi seperti itu, tiba-tiba Taman Nasional Waykambas didatangi ribuan pengunjung pada Minggu, 13 November 2016 silam. Jalan sekitar lima kilometer dari pintu masuk Waykambas, Plang Hijau sampai ke PLG, disesaki ratusan mobil dan sepeda motor. Kendaraan yang mengangkut ribuan manusia bahkan sempat tak bergerak dalam beberapa waktu.

Seorang pengunjung dari Sumberejo, Kecamatan Wayjepara, Umi Sofiah, mengaku hampir tiga jam untuk menempuh jalan sekitar lima kilometer itu.

"Saya tak menyangka sampai macet seperti ini. Pengunjungnya rame banget," ujar Umi yang datang bersama keluarganya menggunakan mobil Panter untuk berlibur, awal April 2018.

Wanita yang berprofesi sebagai guru itu, mengaku sudah lama tak berkunjung ke PLG Waykambas. Kali ini, dia sengaja datang bersama keluarga karena banyak atraksi kesedian dan budaya pada puncak Festival Waykambas XVI, Minggu, 13 November 2016.

Membludaknya pengunjung PLG Waykambas pada festival itu,  tidak lepas dari kepemimpinan Bupati Lampung Timur Chusnunia dan Wakil Bupati Zaiful Bukhari. Yang mengubah konsep Festival Waykambas tidak lagi monoton dengan hanya mengandalkan pertunjukkan atraksi gajah. Tetapi juga diramaikan berbagai penampilan kesenian tradisional dan pameran beragam karya masyarakat dari desa-desa di Lamtim.

Dalam berbagai kesempatan kepada media, Bupati Chusnunia mengatakan, Festival Waykambas selain sebagai ajang promosi pariwisata, juga menjadi wadah apresiasi dan pelestarian seni budaya daerah. Dengan mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi.

Menjadi Pesta Rakyat

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Festival Waykambas yang pada tahun-tahun sebelumnya sekadar kegiatan tahunan pemerintah, kini berubah menjadi pesta rakyat. Dengan memberikan ruang yang luas bagi masyarakat seluruh desa yang ada di Lamtim untuk berkompetisi menunjukkan kekayaan budaya dan karya kreatifnya dalam ajang itu.

"Setiap desa diminta menampilkan atraksi kesenian yang dimiliki, apa saja. Juga diberikan tempat untuk memajang produk-produknya," kata Suhada, penggerak kelompok sadar wisata desa dari Brajaharjosari, Kecamatan Brajaselebah, Lampung Timur, pada awal Mei 2018.

Pengemasan Festival Waykambas yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, memperoleh respon luar biasa dari masyarakat. Bahkan tidak diduga antusias masyarakat begitu besar terhaap kegiatan ini, hingga menimbulkan kemacetan panjang di sepanjang jalan masuk PLG.

Nunik, sapaan akrab Chusnunia mengatakan, tak menduga pengunjung membeludak pada puncak Festival Waykambas tahun 2016, hingga menimbulkan kemacetan.

"Ini menjadi pelajaran untuk melakukan perbaikan pada festival tahun berikutnya," katanya saat itu.

Menurut Nunik, kemacetan arus kendaraan itu terutama disebabkan tempat parkir di pusat kegiatan tak cukup untuk menampung kendaraan pengunjung. "Alhamdulillah, masyarakat Labuhanratu menghibahkan enam hektare lahan untuk parkir kendaraan," katanya.

Tentu, tidak hanya soal kemacetan kendaraan yang diperbaiki. Hal ini terlihat pada pelaksaan Festival Waykambas 2017, yang menjadi lebih tertata dan meriah. Parade 17 ekor gajah dan dua kereta gajah yang diikuti Pencak Kutau Lampung pada pembukaan festival, Sabtu, 11 November 2017, memperoleh sambutan meriah pengunjung.

Berbagai atraksi gajah, hadirnya foto model untuk selfie para pengunjung, serta tampilnya beragam produk kreatif masyarakat dari berbagai desa di 24 kecamatan di Lampung Timur, tidak hanya membangkitkan kembali Waykambas sebagai tempat wisata yang menarik dikunjungi.

Lebih dari itu, even pariwisata terbukti memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Lampung Timur. Warga di desa-desa pun bersemangat dengan pariwisata. Hal ini ditunjukkan dengan makin banyaknya even wisata yang digelar Pemerintah Kabupaten Lampung Timur. Jika pada 2017 hanya 22 even wisata, maka pada 2018 melonjak menjadi 101 even. Saat ini Nunik sedang cuti sebagai Bupati Lampung Timur dan mencalonkan diri menjadi wakil gubernur mendampingi Arinal Djunaidi sebagai calon gubernur Lampung. Selamat berwisata ke Lampung Timur.  (Muhammad Furqon).