Gunung Merapi. (Ist)

MATARAM- Program kemanusiaan dan pengurangan resiko bencana Oxfam di Indonesia mengadakan pembelajaran tahunan untuk mendukung terwujudanya ketangguhan masyarakat dan kesiapsiagaan menghadapi bencana di Kota Mataram awal Juni 2018 ini.

Oxfam di Indonesia telah berkomitmen untuk mendukung program membangun ketangguhan bencana dan adapatasi perubahan ikilm di Indonesia melalui program Hak-hak dalam Krisis dan Kemanusiaan untuk untuk memberdayakan perempuan, laki-laki, anak perempuan dan anak laki-laki serta kelompok rentan lainnya. Upayanya agar kelompok rentan mampu menghadapi situasi krisis dan dapat mengggunakan hak-haknya ketika terjadi  bencana.

Untuk mencapai tujuan itu Oxfam dan para lembaga mitra program kemanusiaan di Indonesia didukung oleh ANCP-DFAT Australia dan Pemerintah Kanada telah melaksanakan berbagai program secara terpadu sejak 2013 hingga saat ini di beberapa kabupaten dan Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Sumatera Barat, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Agar tujuan program ini tercapai Oxfam telah mengimplementasikan beberapa program yang dikelola bersama mitra pelaksana bekerjasama dengan institusi pemerintah, dunia usaha, akademisi dan masyarakat,” kata Ancilla Bere, Koordinator Program Kemanusiaan Oxfam di Indonesia.

Menurut Ancilla program-program tersebut antara lain Konvergensi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana di Kota Bima; Sinergi kawasan dalam Mitigasi Banjir berbasis DAS oleh LP2DER Bima; pertanian adaptif kekeringan di Flores Timur oleh YPPS Flores Timur; membangun Ketangguhan UMKM di Nagari Tiku Selatan, Kabupaten Agam, dan Kota Mataram  oleh Jemari Sakato di Sumatera Barat dan oleh Konsepsi di NTB; kepemimpinan perempuan dalam pengurangan risiko bencana di kabupaten Lombok Utara oleh KOSLATA bekerja bersama Kementerian Sosial dan MPBI, termasuk  mendorong transparansi dan akuntabilitas pendanaan kemanusaiaan dalam Rancangan Undang-Undang Penyelenggaraan Sumbangan.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Oxfam juga bekerja bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam mendorong pelembagaan Pengarusutamaan Gender dalam Penanggulangan Bencana sebagaimana diamanatkan dalam PERKA BNPB Nomor 13 tahun 2014 mengenai Pengarusutamaan Gender dalam Penanggulangan Bencana. Bersama BNPB dan Kementerian koperasi Oxfam mengembangkan panduan nasional ketangguhan UMKM dengan cara bekerja bersama aliansi masyarakat sipil dan YLI Yogyakarta, mendorong perspektif PRB dalam Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Air.

Selain itu juga dikembangkan Humanitarian Knowledge Hub sebagai hasil inisiasi bersama mitra kerja program kemanusiaaan di Indonesia untuk menata kelola pengetahuan dan praktik yang diperoleh dari pengalaman implementasi program agar menjadi kekuatan bersama dalam pengelolaan organisasi dan koordinasi dalam program kemanusiaan yang dikelola Jemari Sekato dari Sumatera Barat.

Selain itu Program Power UP diselenggarakan untuk mendorong partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan secara demokratis di tingkat desa dengan menggunakan teknologi komunikasi dan informasi sedang dilaksanakan di sejumlah desa di empat kabupaten di NTB. Program ini dilakukan Oxfam bersama KPI NTB, KONSEPSI Lombok, Koslata Lombok, dan PKBI NTB.

Program Hak-hak dalam krisi Oxfam di Indonesia terus berupaya untuk mencapai dampak program yang luas dengan mengembangkan berbagai strategi dan inovasi ini dilakukan dalam mendukung upaya yang baik bersama  Pemerintah. Dalam pelaksanaannya Oxfam menyediakan ruang bagi lembaga mitra pelaksana program, masyarakat, pemerintah dan pihak terkait untuk berbagi pengalaman dan pembelajaran agar dapat meningkatkan sinergi bersama dalam penanggulanan bencana di Indonesia.

Pada tahun 2018 Oxfam mengemas proses pembelajaran ini melalui rangkaian kegiatan pembelajaran bersama dalam bentuk unjuk wicara dan pameran hasil kerja serta dilanjutkan dengan uraian pencapaian program periode 2017-2018.  Hasil kegiatan ini menjadi masukan pada pengembangan program Oxfam dan mitra pada saat mendatang denan berorientasi pada perubahan sosial jangka panjang dan mendukung pencapaian kapasitas adaptif, absortif dan transformatif menuju masyarakat yang siap dan tangguh menghadapi bencana. (Calvin G. Eben-Haezer)