Ilustrasi Susu Kental Manis (Ist)

JAKARTA- Masyarakat diminta agar tidak dibuat panik oleh pengumuman Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang menegaskan bahwa susu kental manis (SKM) tidak mengandung susu. Hal ini ditegaskan oleh Ahli Gizi, dr. Wijaya Lukito, Ph.D, Sp.GK di Jakarta, Kamis (5/7) merespon kepanikan pasar yang mulai menarik penjualan susu kental manis dari berbagai merek di toko-toko yang ketakutan menjual SKM.

“Yang terpenting, SKM tidak dijadikan sebagai konsumsi utama untuk tumbuh kembang anak. SKM yang tidak mengandung susu itu hanya berbahaya kalau dikonsumsi untuk tumbuh kembang anak secara terus menerus. Tapi kalau untuk es campur, kopi susu dan berbagai minuman dan hidangan lainnya fine-fine saja. Karena sama dengan sirup saja,” tegasnya.

Jadi menurutnya masyarakat tetap membutuhkan SKM, tapi harus diluruskan bahwa SKM bukan untuk menggantikan susu ibu atau produk susu hewani yang bisa dipakai untuk tumbuh kembang anak.

“Selama ini memang ada penyimpangan dalam marketing beberapa produk SKM. Diberbagai iklan dipakai anak-anak. Sehingga masyarakat berpikir bahwa SKM yang dijual itu bisa untuk tumbuh kembang anak,” jelasnya.

Wijaya Lukito saat ini sedang meneliti dampak dari konsumsi SKM yang tidak mengandung susu untuk tumbuh kembang anak dalam jangka waktu panjang.

“Kami sedang kumpulkan evidence base yang membuktikan bahwa SKM memang berbahaya jika dikonsumsi dalam waktu panjang karena untuk tumbuh kembang anak. Karena sampai sekarangpun belum ada penelitian ilmiahnya,” ujarnya.

Pengumuman BPOM

Kepada Bergelora.com dilaporkan sebelumnya, setelah bertahun-tahun terbiasa dikonsumsi oleh masyarakat yang menganggapnya sebagai 'susu', susu kental manis akhirnya secara resmi dinyatakan tidak mengandung susu oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Menurut Kepala BPOM Penny Lukito, susu kental manis hanya mengandung protein (Nx6,38) 6,5% dan lemak susu minimal 8%. Tanpa ada kandungan padatan susu sama sekali.

Tanpa padatan susu sama sekali, susu kental manis telah berhasil "menipu" masyarakat yang justru sering menyajikannya untuk anak, sebagai alternatif dari susu bubuk yang memiliki harga lebih mahal. 

Melalui Surat Edaran tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) pada Mei 2018, BPOM memberikan aturan ketat terkait peredaran susu kental manis, yaitu:

  1. a. Dilarang menampilkan anak-anak berusia di bawah 5 tahun dalam bentuk apapun.
  2. b. Dilarang menggunakan visualisasi bahwa produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3) disetarakan dengan produk susu lain sebagai penambah atau pelengkap zat gizi. Produk susu lain, antara lain susu sapi/ susu yang dipasteurisasi/ susu yang disterilisasi/ susu formula/ susu pertumbuhan.
  3. c. Dilarang menggunakan visualisasi gambar susu cair dan/atau susu dalam gelas serta disajikan dengan cara diseduh untuk dikonsumsi sebagai minuman.
  4. d. Khusus untuk iklan, dilarang ditayangkan pada jam tayang acara anak-anak.

Berbahaya

Selain "menipu", susu kental manis juga dinyatakan berbahaya bagi kesehatan. Mengkonsumsi SKM secara berlebihan akan meningkatkan risiko diabetes dan obesitas pada anak-anak. Hal ini disebabkan karena kadar gula tinggi di minuman SKM.

"Sebagai sumber energi iya, tetapi sangat tidak baik apabila energi anak bersumber dari gula," kata Dr.Rita Ramayulis, DCN, M.Kes, seorang dosen Gizi Poltekkes Kementerian Kesehatan Jakarta,  kepada media, Minggu (6/5).

"Tubuh punya toleransi tertentu dan penelitian menjelaskan, konsumsi gula lebih dari 10% energi total akan berisiko penurunan sensitivitas insulin yang kemudian memicu hiperglikemia (kadar gula darah lebih tinggi dari batas normal) dan memicu risiko diabetes," tambah Rita.

"Tubuh punya toleransi tertentu dan penelitian menjelaskan, konsumsi gula lebih dari 10% energi total akan berisiko penurunan sensitivitas insulin yang kemudian memicu hiperglikemia (kadar gula darah lebih tinggi dari batas normal) dan memicu risiko diabetes," tambah Rita.

Indonesia saat ini berada di urutan ke-4 di dunia yang penduduknya paling banyak terkena diabetes, kata Rita.

Pada piramida gizi seimbang, susu masuk dalam kelompok bahan makanan sumber protein. Kandungan 8 gram protein setara dengan satu porsi telur, daging, ikan dan tempe.

"Harusnya susu itu bisa memberi protein lebih kurang 8 gram, kalsium sekitar 250 gram. Dan gula yang boleh untuk anak menurut piramida gizi seimbang sekitar satu sampai 2 sendok makan atau setara dengan 26 gram," kata Rita.

"Jika kemudian seorang anak minum susu dari susu kental manis sebanyak dua gelas per hari, seperti anjuran gizi seimbang, maka asupan gulanya sangat melebihi dari pembagian makan sehari yang seimbang untuk anak, ini saya sayangkan sekali," kata Rita.

Selain diabetes dan obesitas, asupan gula secara berlebihan akan merusak gigi pada anak-anak.

"Anak-anak yang suka konsumsi gula tinggi dalam bentuk susu dan tidak langsung membersihkannya, maka akan memicu caries dentis (gigi karies). Penelitian tentang ini sudah banyak di jurnal kedokteran," katanya. (Web Warouw)