Anak-anak dan karya tulisnya (Ist)

PALU- “Dongeng Celengan Hati” adalah aksi mendongeng keliling ke Sekolah SD, PAUT, TK dan juga RPTRA yang dilakukan Kak Ardy dalam rangka membantu korban bencana gempa bumi – tsunami di wilayah Sulawesi Tengah, Donggala, Palu, Sigi pada 28 September lalu.

Aksi dongeng tersebut sudah berjalan dari tanggal 4 hingga 25 Oktober 2018 dan pada 26 Oktober 2018 dilakukan penghitungan dengan disaksikan perwakilan sekolah juga RPTRA.

Penghitungan dilakukan di Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) CBS Berseri, Cipinang Besar Selatan – Jakarta Timur dimana berhasil terkumpul Rp. 17.159.900,-

Tidak hanya Kak Ardy, ada juga komunitas seniman teater yang menamakan diri mereka Spirit Art Comunity (Guntur, Iyan, Cici, Botski, Cak Imam dan Wawan) yang juga tergerak lalu mengadakan aksi galang dana dengan cara performance art di beberapa titik seperti di Banjir Kanal Timur dan Alun Alun Bekasi. Dari situ terhimpun Rp. 1.000.000,- lalu mereka menitipkannya ke Kak Ardy sehingga total dana celengan hati menjadi Rp. 18.159.900,-

Sebagai informasi bahwa ke-16 (enam belas) celengan yang terkumpul itu berasal dari 11 (sebelas) sekolah, 5 (lima) dari RPTRA dengan rincian: PAUD Flamboyan UKS, TK An Nasyiriyah, PAUD Melati Klender, PAUD Kepompong, PAUD Tahfidz Ishlah, PAUD Tunas Indah, PAUD Asyifa, PAUD Melati – Penjaringan, TK Theresa Bunda – Cipayung, TK Qolbu Insani Legok –Tanggerang, Rumah Belajar Ozzen, RPTRA Caktim Tersenyum – Jakarta Timur, RPTRA Rorotan Indah – Jakarta Utara, RPTRA Mutiara Rawa Binong – Jakarta Timur, RPTRA Payung Tunas Teratai – Jakarta Timur, RPTRA Kampung Baru – Jakarta Barat.

Tak lupa di kesempatan ini Kak Ardy mengucapkan terima kasihnya ke banyak pihak yang dengan tulus mendukung dan membantu program Dongeng Celengan Hati antara lain Bunda Lailatul Badriyah, Lilis Suryanih, Dijeh, Bunda Irul Azahra Ozzen Uniqe, Ety's Etimologi, Titat Supriyatni, Uwin Nissa, Hani Nu Syifa, Hasanah Nursa, dan para pengelola RPTRA Payung Tunas Teratai, RPTRA Mutiara Rawa Binong, RPTRA Caktim Tersenyum, RPTRA Rorotan Indah, RPTRA Kampung Baru. Juga kepada Micah Fisher, Mas Guntur Teater Sarung, Mba Diah Kulli, Rian Hamzah, Budi Botski, Budi Botski, Imam Tjacks dan Tejo Priyono.

“Mohon doanya, Insya Allah dana yang terkumpul ini saya bawa dan serahkan langsung di lokasi bencana pada tanggal 1 November, dan kawan-kawan ‘Sulawesi Tengah Indonesia Bangkit’ (Junaid Judda, Sakha dan Kifli) telah siap menyambut kedatangan dan  mengantar saya ke tempat-tempat penyaluran bantuan,. Semangat kita adalah menghadirkan senyum mereka, saya ingin menghibur dan memberi penguatan kepada adik-adik di sana,“ ungkap pendongeng yang selalu berkostum warna warni dalam aksinya ini.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, di tempat terpisah Micah Fisher yang berteman dengan pendongeng ini sejak 2007 telah mengenal Kak Ardy sebagai orang teater yang melatih diri dan bisa menarasikan sesuatu dengan bercerita dan itu merupakan sebuah keterampilan luar biasa.

“Jadi memang keberadaan Kak Ardy di Sulawesi Tengah untuk memberi semangat kepada anak-anak disana dengan membantu kembali normal, karena hal-hal tersebut sangat penting sekali bagi masyarakat khususnya anak-anak yang terguncang secara emosional karena banyak kehilangan keluarga, saudara, teman dan sebagainya, “ujar Peneliti Geografi ini.

Micah juga menegaskan beberapa hal terkait aksi Dongeng Celengan Hati, Pertama, hal menarik dari apa yang dilakukan di Sulawesi Tengah ini adalah bukan hanya mengumpulkan uang saja dan jangan sampai nanti yang dianggap penting itu hanya uangnya, tapi pemberian dalam bentuk lain pun macam puisi harapan, surat dan seterusnya itu juga penting. Jadi intinya bukan sekian puluh ribu rupiah yang telah kita beri.

Kedua, prinsipnya Kak Ardy harus bisa membawa sesuatu dari sana saat kembali ke Jakarta, karena saat kita mengumpulkan donasi untuk korban bencana yang tanpa kita sadari bahwa kanak-kanak di tenda-tenda pengungsian itu juga bisa memberi balik kepada kanak-kanak di Jakarta, mereka tidak hanya menerima tetapi mengembalikan celengan hati yang berisi kisah/cerita tentang keseharian mereka, kesukaan terhadap satu hal atau pesan terimakasih kepada teman-temannya di Jakarta. Pesan kami senang sekali bahwa ada teman-teman di luar sana yang mau mendengar cerita tentang kami. Jadi Kak Ardy harus membawa pulang cerita dan kembali keliling ke 16 (enam belas) lokasi tempat awal celengan dikumpulkan, bercerita apa yang terjadi di Palu dan menyampaikan pesan dari kanak-kanak Palu sehingga terbangun jaringan dan timbal – balik.

“Uang memang penting tapi cerita-cerita, pembelajaran-pembelajaran baru, membangun hubungan, atau meningkatkan pengertian untuk lebih sadar terhadap lingkungan juga isu-isu bagaimana menghindari kerawanan saat berada di lokasi atau rentan bencana agar bisa segera diketahui lebih dini itu jauh lebih penting, “tutup Micah.  (Sukir Anggraeni)