Hukum
Proyek siring beton tipis oleh Dinas PU Lampung yang menggunakan pinjaman dana PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) (Ist)

BANDAR LAMPUNG- Walaupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) semakin rajin melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Provinsi Lampung, namun hal ini tidak membuat jera apalagi takut para rekanan dan oknum pejabat Dinas Pekerjaan Umum bermain-main dengan anggaran proyek yang berasal dari uang rakyat.

Proyek-proyek dari dana PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) diduga kuat asal jadi dan tidak dikerjakan sesuai kontrak. Proses pekerjaan yang asal jadi bisa dilihat dari besi yang digunakan hanya besi ukuran 8 banci dan hanya menggunakan besi ukuran 6 banci. Bergelora.com Senin (25/1) lalu memantau langsung pekerjaan jalan lintas yang ada dibatas jalur dua Korpri Kota Bandar Lampung yang menghubungkan Kota Metro.

Proyek siring beton tipis oleh Dinas PU Lampung yang menggunakan pinjaman dana PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) (Ist)

Pekerjaan yang belum cukup satu tahun dikerjakan oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Lampung pada Tahun 2018 sudah mengalami kerusakan. Pada awal tahun 2019 ini, pihak Dinas Pekerjaan Umum sudah melakukan tambal-sulam  pelapisan Hotmix, akibat pekerjaan proyek yang diduga jauh dibawah standar.

Selain pekerjaan tambal-sulam itu, pihak Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Lampung juga melakukan pekerjaan betonisasi kanan dan kiri jalan  di ruas jalan lintas Provinsi yang ada di Tugu Desa Karang Anyar Lampung Selatan sampai Jalur dua kopri Bandar Lampung.

Saat ini pekerjaan sudah  terpasang saluran beton pra-cetak yang diproduksi pabrik dan telah ditutup dengan plat beton dengan panjang saluran kurang lebih 150 meter sisi kiri dan kanan jalan.

Akan tetapi parahnya, pekerjaan betonisasi yang ada di batas tugu Desa Karang Anyar-Metro-Kibang, yang dikerjakan secara manual, diduga kuat dikerjakan secara asal-asalan. Sebab berdasar pantauan pula ketebalan hanya 2 sentimeter. Mutu beton diduga tidak sesuai spesifikasi beton untuk saluran.

Terlihat jelas ketebalan pekerjaan beton pada bagian tengah dan tinggi saluran kurang dari 2-3 cm.Bisa dipastikan, pekerjaan tersebut tidak akan bertahan lama karena dinding talud beton akan mudah rubuh saat plat beton tergeser roda mobil.

Sejumlah warga yang ada disekitar proyek saat dikonfirmasi menyayangkan cara kerja yang dilakukan oleh rekanan dan Dinas PUPR Provinsi Lampung, yang terkesan amburadul.

“Sayang cara kerja kontraktor dinas PUPR Provinsi Lampung asal-asalan dan diragukan kualitasnya,” ujar salah Masio, warga setempat yang merasa kecewa. Ia mengatakan bahwa proyek tersebut sempat jebol.

Sementara itu, salah satu pekerja proyek saat dimintai tanggapan terkait masalah tersebut mengaku jika dirinya hannya sekedar kerja.

“Ketebalan beton hanya setebal tempe. Tapi saya disini hanya bekerja. Pengawas tidak ada,” ujarnya singkat Ngatimin.

Pihak rekanan juga mengerjakan proyek tersebut diduga tidak transparan. Karena tidak terlihat papan nama proyek sepanjang area pengerjaan. (Salimah)

Add comment

Security code
Refresh