Hukum
Petrus Hariyanto. (Ist)

JAKARTA- Mantan Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD) Petrus Hariyanto meminta agar Jenderal (Purn) Agum Gumelar segera mengungkap tempat para aktivis yang diculik pada tahun 1997-1998 segera kepada pihak Kejaksaan Agung. Hal ini disampaikannya Kamis (14/3) di akun facebooknya, setelah mendengar pernyataan Jenderal (Purn) Agum Gumelar beberapa waktu lalu mengetahui dimana tempat mereka dibunuh dan dibuang

“Mohon jangan hanya bercerita. Persoalan itu harus diselesaikan. Kesaksian Anda ini kan penting. Mintalah diperiksa, untuk tambahan bukti kasus penculikan aktivis '98,” kata Petrus yang pernah juga merasakan penjara Orde Baru saat melawan kediktaktoran Soeharto.

Petrus Hariyanto mengatakan setelah mengatakan pernyataan Jenderal (purn) Agum Gumerla, dirinya selalu membayangkan bagaimana kawan-kawan seperjuangannya diculik, dibunuh dan dibuang secara tidak layak.

“Agum mengatakan para aktivis yang diculik Tim Mawar sudah dibunuh dan tahu tempatnya. Pernyataan itu membuat diriku selalu membayangkan bagaimana kawan-kawan ku itu dibunuh? Setiap hari saat aku melamun membayangkan mereka dihabisi. Sungguh mengerikan, aku membayangkannya,” ujarnya.

Sebelumnya, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar mengakui ia mengetahui secara persis sejumlah aktivis 98 yang dibunuh dan dibuang oleh Tim Mawar saat kerusuhan pada 1998 lalu. Tim Mawar adalah sebuah tim kecil dari kesatuan Komando Pasukan Khusus Grup IV, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Tim ini disebut sebagai dalang dalam operasi penculikan para aktivis politik pro-demokrasi.

Agum Gumelar menyebut jika Tim Mawar bertugas melakukan eksekusi. Hal itu diungkapkan oleh Agum dalam sebuah diskusi.

Salah seorang audiens mengabadikan momen Agum Gumelar yang bercerita dengan rinci proses penculikan aktivis 98 dan diunggah di akun Facebook KataKita. Saat itu, Agum Gumelar menjadi salah satu anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang bertugas melakukan investigasi kasus penculikan aktivis.

Agum Gumelar pun melakukan berbagai pendekatan dengan para anggota Tim Mawar yang merupakan anak buahnya saat ia masih menjadi Danjen Kopassus.

“Tim mawar yang melakukan penculikan itu anak buah saya semua itu. Saya juga pendekatan hati ke hati diluar pekerjaan DKP. Kemudian ketika dari hati ke hati di sinilah saya tahu matinya orang-orang, dibuangnya di mana saya tahu,” kata Agum Gumelar, Senin (11/3) lalu.

Dalam penjelasannya yang direkam melalui video, Agum Gumelar tidak membeberkan lebih lanjut lokasi pembunuhan dan para aktivis dibuang. Namun, Agum Gumelar bercerita dari sederetan investigasi yang dilakukan ditemui fakta bahwa ada kesalahan yang dilakukan oleh Prabowo Subianto yang saat itu menjadi Danjen Kopassus.

Seluruh anggota DKP pun mengirimkan rekomendasi kepada panglima TNI untuk memberhentikan Prabowo dari satuan militer. Rekomendasi itu ditandatangani oleh 7 orang perwira, Agum Gumelar dan Susilo Bambang Yudhoyono ikut menyetujui rekomendasi itu.Agum menjelaskan, hingga Danjen Kopassus ke 31, hanya ada satu Danjen Kopassus yang diberhentikan karena terkait dengan kasus pelanggaran HAM berat, yakni Prabowo Subianto.

“Dari 31 Danjen Cuma satu yang diberhentikan dari satuan. Siapa dia? Prabowo. Ini terungkap. Jadi kalau buat saya aneh bin ajaib sampai dia capres. Buat saya ya, entah buat anda-anda,” ungkap Agum.

Meski demikian, Agum menolak jika seluruh pernyataan ini dimasukkan ke dalam kampanye hitam atau black campaign. Sebab, apa yang ia sampaikan mengenai Prabowo yang telah melakukan pelanggaran HAM berat merupakan fakta tak terbantahkan.

“Ini fakta bukan black campaign. Kalau black campaign itu tanpa didukung oleh data. Jadi saya ingin bilang kenapa kok jadi lupa semua,” pungkas Agum. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh