Hukum
Penyerbuan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya berbasiskan rasisme beberapa waktu lalu yang menyulut kemarahan rakyat Papua. (Ist)

SURABAYA – Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Luki Hermawan menyatakan saat ini menangani dua kasus berbeda terkait dengan aksi di depan Asrama Mahasiswa Papua, Jalan Kalasan, Surabaya, beberapa waktu lalu.

"Penyelidikannya dibagi dua, pertama dugaan perusakan bendera dan lainnya tentang ujaran kebencian atau rasisme," kata Kapolda Jatim kepada wartawan usai menerima perwakilan pendeta asal Papua dan Papua Barat di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (26/8).

Kasus dugaan perusakan bendera Merah Putih, kata dia, saat ini ditangani Polrestabes Surabaya. Sedangkan, dugaan ujaran rasial ditangani oleh tim Polda Jatim.

Hingga kini, tim penyidik dari Polrestabes Surabaya masih melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Yakni, 64 orang yang terdiri atas 42 mahasiswa asal Papua dan sisanya dari unsur masyarakat setempat dan ormas.

"Kasus bendera ini kasus inti atau yang awal sebelum terjadi masalah lain," ucap Luki seperti dikutip dari Antara.

Para mahasiswa telah diperiksa pada hari Sabtu (17/8) atau tepat pada hari kejadian setelah dipaksa keluar oleh polisi dan diamankan di Mapolrestabes. Mereka, lanjut Luki, menyatakan tidak tahu tentang perusakan bendera di depan asrama.

Sementara itu, tentang dugaan ujaran rasial yang ditangani Polda Jatim, pada hari Sabtu (24/8), sembilan orang diperiksa. Yaitu, dari unsur ormas, petugas kecamatan, dan masyarakat setempat.

Pada hari Senin, lanjut dia, juga dilakukan kembali pemeriksaan terhadap tujuh saksi.

"Kami lihat hasil pemeriksaan hari ini, kalau ada perkembangan lalu mengarah ke mana, nanti kami sampaikan," kata dia.

Periksa Korlap Demo

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Polda Jawa Timur memeriksa mantan anggota Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FKPPI) Tri Susanti terkait dugaan kasus ujaran kebencian saat beraksi di Asrama Mahasiswa Papua, Jalan Kalasan Surabaya, pada 17 Agustus 2019.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera di Surabaya mengatakan, “Tujuh orang itu termasuk Tri Susanti hari ini dipanggil atas kasus ujaran kebencian untuk dilakukan pembuktian terkait video yang sudah beredar.”

Tri Susanti atau akrab disapa Mak Susi datang ke Ditreskrimsus Polda Jatim sekitar pukul 13.41 WIB didampingi kuasa hukumnya, Sahid. Susi pernah menjadi saksi pasangan calon presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga S Uno terkait Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Mahkamah Kosntitusi (MK).

Susi mengaku tidak tahu kejelasan alasan dipanggil di Siber Polda Jatim. Dia melanjutkan, dia dipanggil bukan mewakili ormas yang kala itu menggelar aksi asrama mahasiswa Papua, melainkan atas nama individu. Setelah aksi di depan asrama itu, FKPPI memecat Susi.

"Saya tidak tahu (siapa saja yang dipanggil) karena saya tidak bisa komunikasi. Yang saya tahu hanya saya. Jumat malam (suratnya sampai) untuk (diperiksa) hari ini," ucapnya.

Mengenai kasus apa dirinya diperiksa, Susi kembali mengaku kalau tidak mengetahui dan hanya memenuhi panggilan sebagai saksi.

"Dimintai keterangan. Tidak tahu saya kalau secara hukum," katanya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Susi, Sahid mengatakan, dari surat yang diterimanya, Susi akan diperiksa menjadi saksi terkait kasus dugaan ujaran kebencian. (Ardiansyah Mahari)

Add comment

Security code
Refresh