Hukum
Kerusuhan dan vandalisme akibat hoax dan ajakan rusuh oleh kelompok KAMI dalam aksi penolakan UU Cipta Kerja beberapa waktu lalu

JAKARTA- Mabes Polri akhirnya merilis para tersangka yang terdiri dari sejumlah anggota ormas KAMI, dalam aksi ricuh menolak UU Omnibus Law. Dari penyidikan Polisi, ternyata mereka sudah merencanakan aksi berbahaya. Sebagai bukti, Polisi pun membongkar bukti isi chatting grup WA KAMI.

Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, dari jejak chatting di grup WA KAMI, terpantau kalau sejumlah orang memang tengah berniat melakukan aksi rusuh.   

Lalu apa skemanya?    

Sebelum ke sana, Argo menyinggung terlebih dahulu awal mula aparat mengendus ada yang tak beres dengan aksi rusuh. Sebab, ada sejumlah Polisi yang dibuat luka, vandalisme dengan perusakan fasilitas umum seolah massif, kendaraan aparat kena sasaran, sampai bakar-bakaran.

Pola tersebut nampak janggal. Dari sana, Polisi kemudian menyelidikinya dengan bantuan intelijen. Hingga kemudian ditemukanlah bukti ada sejumlah aktivitas mencurigakan, mulai dari hasutan di media sosial, sampai chatting di grup WA KAMI Medan.  

“Dari Medan ini kita menemukan ada dua laporan Polisi, ada empat tersangka. Kita lakukan penangkapan dan penahanan. Inisalnyta KA, JG, NZ, dan WRP. Dari empat tersangka ini, KA ini perannya adalah sebagai admin WA Grup KAMI Medan,” kata Argo, dalam siaran langsung melalui Youtube Mabes Polri,  Kamis (15/1).

Isi WA Grup KAMI

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Argo kemudian menyebut, di dalam salah satu HP anggota KAMI Medan, nampak ada sebuah gambar Gedung DPR yang kemudian dishare dengan kata-kata tajam di grup itu. 

“Tulisannya dijamin komplet. Kantor sarang maling dan setan. Kemudian juga dari pengiriman KA ini, ada tulisannya untuk mengumpulkan saksi untuk melempari DPR dan melempari Polisi.” 

“Kemudian juga ada, tulisannya kalian jangan takut dan jangan mundur. Ada di WA grup ini, kita jadikan barang bukti,” kata Argo menjelaskan.   

Argo kemudian menyebut peran tersangka JG dalam WA grup tersebut. Kata dia, JG berusaha mengkompori untuk menggunakan molotov sebagai alat perjuangan di lapangan.

“Kalau batu cuma kena satu orang, tapi bom molotov bisa puluhan orang, dan bensin bisa berceceran. Ada yang menyatakan, buat skenario 98. Penjarahan toko China dan rumah-rumah, serta preman diikutkan menjarah. Semua kita jadikan barang bukti. Termasuk bom molotovnya,” kata Argo lagi.

Untuk Tersangka inisial NZ, dia sampaikan bahwa Medan cocoknya didaratin. Di mana dia, dianggap melakukan penghasutan di sosial media. Dan satu lagi berinisial WRP, di grup WA KAMI itu, dia sampaikan bahwa para peserta aksi wajib membawa molotov.

“Ini saya sampaikan salah satunya saja,” kata Argo di hadapan sejumlah media.

Dalam penuturannya, Polisi juga mengamankan uang Rp500 ribu. Uang itu merupakan urunan dari para anggota grup, untuk memodali para pendemo.

“Uang yang terkumpul baru segitu, kita ikut amankan.”

(Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh