Hukum

screeshoot media sosial berisikan ancaman pemerkosaan, sudah cukup menjadi barang bukti (Ist)screeshoot media sosial berisikan ancaman pemerkosaan, sudah cukup menjadi barang bukti (Ist)JAKARTA- Belum lagi polisi menindak lanjuti laporan polisi berupa ancaman pemerkosan terhadap perempuan pendukung Basuki Tjahaja Purnama di Polda Metro pada Senin (16/4) lalu, seorang pelapor, Helga Worotitjan kembali mengalami ancaman secara terbuka di akun media sosial twitternya.

Akun twitter @OdyiusJacare mengetwit ke akun twitter @HelgaWorotitjan dengan mentautkan twit Helga tentang ancaman sebelumnya yang sudah dilaporkan polisi.

“Mantap tp ingat jgn suka pamer aurat ntar ente d perkosa beneran ama laki-laki normal,” demikian twit @OdyiusJacare Sabtu (22/4) lalu. Sehari setelah peringatan hari Kartini.

Menurut Helga Worotitjan, ancaman yang diterimanya langsung itu merupakan hal yang wajar. Karena para pelaku melihat polisi tidak serius menanggapi laporan ancaman tersebut.

“Kalau ada yang berani melakukan ancaman lagi seperti itu artinya dia yakin polisi tidak akan menindak lanjuti laporan awal kami. Ancaman pemerkosaan semacam ini akan menjadi pola untuk menteror orang yang berbeda pandangan, keyakinan bahkan ideologi politiknya dimasa depan,” jelasnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (23/4).

Helga Worotitjan mengingatkan bahwa pada pertengahan tahun 2018 nanti akan dari ratusan daerah yang akan mengadakan pilkada serentak yang kemungkinan besar menggunakan isu dan metode yang sama karena berhasil diterapkan dan merebut kemenangan di Jakarta.

“Kalau terus dibiarkan, artinya pihak kepolisian telah ikut menyiapkan lahan untuk teror pada kaum perempuan di daerah-daerah yang akan melakukan pilkada serentak. Jadi negara secara sistmatis ikut melanggar hak kaum perempuan untuk mendapatkan perlindungan dari ancaman kejahatan,” tegasnya.

Akibat Kontestasi Politik

Dalam akun blogspotnya, Helga mencatat bahwa, perempuan,-- kaum yang paling ditindas dan dipinggirkan kehadirannya dalam kontestasi politik yang menghasilkan konflik horizontal serius, dan pasti akan berkepanjangan. Bentuk penindasan dan kekerasan terhadap perempuan yang paling sadis dan menakutkan dalam konflik akibat kontestasi politik adalah, kekerasan seksual dalam berbagai bentuk. Mulai dari pelecehan hingga pembunuhan.

Di berbagai belahan dunia, kekerasan seksual, khususnya pemerkosaan, adalah senjata ampuh yang dipakai mereka yang berperang, atau beradu secara politis untuk menundukkan lawan. Menguasai tubuh perempuan adalah tonggak kemenangan.

“Mengoyak-ngoyak tubuh perempuan adalah penghancuran harkat dan martabat lawan. Pesan politik kejam kepada siapapun, yang dianggap berani melawan,” tulisnya dalam http://helgaworotitjan.blogspot.co.id/2017/04/perkawinan-militer-fasis-agama.html.

Ia melanjutkan,--kesaksian banyak penyintas dari seluruh belahan dunia,-- kekerasan seksual dalam konflik dan kontestasi politik, umumnya dilakukan oleh para fasis; kelompok-kelompok dengan basis militer, kelompok-kelompok radikal berbasis agama, dan kelompok-kelompok fasis lain.

“Baik dalam bentuk intimidasi atau ancaman maupun serangan langsung. Atas nama Tuhan yang marah versi para hipokrit atau patriotisme versi para militer,” jelasnya.

Aktivis kemanusiaan ini menjelaskan, penyerangan seksual yang dilakukan pun memuat pesan-pesan pembersihan baik etnis, agama, maupun lawan ideologis lainnya.  Sebut saja penculikan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh ISIS di Timur Tengah dan Afrika Utara, Boko Haram di Nigeria, dan Lord Resistance Army (kelompok radikal Kristen) di Uganda.

“Ini tiga kelompok yang berdasarkan kisah-kisah para penyintas dan pengerja kemanusiaan, sangat parah melakukan  penyerangan seksual sebagai pesan politik,” ujarnya.

Tak jarang mereka melakukan penyiksaan seksual seperti yang biasa dilakukan umumnya oleh kelompok-kelompok radikalis kejam, yakni dengan memotong puting susu dan membunuh perempuan hamil, atau memperkosa korban dengan benda keras setelah memperkosanya ramai-ramai. Femisida, demikian penindasan dan penundukkan yang disertai kekejaman ini lahir. Kengerian global yang terjadi dalam situasi konflik, apalagi dengan makin bangkitnya kekuatan kanan di hamper seluruh dunia.

Dalam konteks Indonesia, Helga Worotitjan menjelaskan, kekerasan seksual sebagai senjata penundukkan dan pesan politik sadis telah dilakukan sejak peristiwa G30S 1965 kepada kelompok perempuan progresif dan kerusuhan Mei 1998 pada etnis Tionghoa. Dua kelompok perempuan simbol perlawanan sekaligus simbol kerentanan. Dua kelompok perempuan ini merupakan sasaran utama mereka yang merasa insecure perannya disaingi. Peran ekonomi dan peran sosial.

“Penyiksaan dan penyerangan seksual dilakukan pada mereka untuk memberi pesan politik pada lawan: inilah yang terjadi atas nama kecemburuan sosial, bila berani berdiri di atas kebenaran, dan berani melawan oligarki,” jelasnya.

Menurutnya, yang paling anyar adalah maraknya ancaman pemerkosaan di masa pilkada DKI Jakarta yang lalu. Para pelaku jelas melihat model intimidasi di peristiwa sebelumnya, yakni kerusuhan Mei 1998. Bedanya, penyerangan lebih banyak dilakukan lewat media sosial. Bentuk intimidasi seperti itu menyumbang efek berantai jangka panjang berupa rasa takut dan banyaknya perempuan yang menarik diri dari keterlibatannya secara politik, dalam hal ini memilih.

“Ini keberhasilan politisasi agama paling fantastis yang pernah terjadi di Indonesia,” katanya.

Ancaman Awal

Sebelumnya, kaum perempuan dari berbagai kalangan melaporkan ancaman pemerkosaan kepada para perempuan pendukung Basuki Tjahaja Purnama yang disebarkan di media sosial, ke Polda Metro Jaya di Jakarta. Helga Worotitjan adalah salah satu dari para pelapor atas ancaman terbuka di media sosial dari Dwi Ardika pada tanggal 14 Maret 2017 (yang diduga diunggah pada tanggal 12 Maret 2017) Ancaman itu berbunyi:

“Intinya yg dukung ahok tu goblok dan gk bermoral halal darahnya dibunuh dan halal jga kalau wanita diperkosa rame-rame…”

Berita lengkapnya bisa dibaca di http://www.bergelora.com/nasional/penegakan-hukum/5699-anies-sandi-menang-pemeriksaan-kasus-ancaman-pemerkosaan-pada-ahokers-harus-lanjut.html (Web Warouw)

 

 

Add comment


Security code
Refresh