Hukum
Dua Pelaku Persekusi ditangkap Polisi (Ist)

JAKARTA- Koalisi Anti-Persekusi mengapresiasi tindakan tegas kepolisian Polda Metro Jaya untuk menangkap 2 orang pelaku pemukulan ini, karena inilah yang diharapkan oleh warga yang mendamba keadilan. Hal ini disampaikan Damar Juniarto kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (2/6)

“Namun Koalisi Anti-Persekusi mendorong agar para pelaku dalam kasus-kasus persekusi lainnya juga perlu diperiksa karena telah melakukan tindakan persekusi yang melanggar hukum dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” ujarnya.

Terlebih menurutnya, PAM adalah seorang anak yang menjadi korban yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.

“Maka Penyidik wajib mengenakan para pelaku dengan Pasal-Pasal Tindak Pidana di Undang-Undang perlindungan Anak,” tegasnya.

Sekali lagi koalisi mendorong polisi untuk bertindak proaktif, tidak perlu menunggu laporan/aduan karena sifat pidana dari persekusi ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Koalisi juga mendorong agar kepolisian di manapun berada dapat mencontoh dan bertindak tegas seperti halnya Polda Metro Jaya untuk melindungi warga dari tindak pidana persekusi dan menindak tegas para pelaku persekusi sesuai undang-undang yang berlaku di Indonesia,” katanya.

Meskipun demikian, melihat karakter persekusi yang meluas dalam waktu relatif singkat, juga upaya membenturkan masyarakat melalui antara lain pembajakan akun, pembuatan akun palsu, maka Koalisi mendesak Kepolisian untuk mengungkap fakta kemungkinan adanya penggerak yang membuat mesin persekusi bekerja.

Sebelumnya, pada hari Sabtu, 28 Mei 2017 malam pelajar berusia 15 tahun PAM dipersekusi sejak namanya beredar sebagai target sejak 26 Mei 2017. Ada lebih dari 100 orang melakukan persekusi kepada remaja ini dengan cara mendatangi rumahnya di daerang Cipinang Muara. Kemudian para pelaku persekusi ini ditengahi oleh Ketua RW 03 tempat keluarga PAM tinggal dibawa ke kantor RW 03 dan di sana terjadi paling tidak 2 kali tindak pemukulan di bagian kepala, intimidasi verbal dengan ancaman pembunuhan, dan upaya pemaksaan melakukan permintaan maaf.

Semua proses persekusi ini disiarkan secara langsung melalui media sosial disertai dengan narasi yang diskriminatif. Aksi persekusi ini berlangsung hingga lewat tengah malam dan kemudian berangsur-angsur para pelaku persekusi ini membubarkan diri.

Pasca persekusi, hidup PAM dan keluarganya tidak tenang. Video persekusinya menyebar luas di media sosial. Hingga akhirnya pada Kamis, 1 Juni 2017 sore dijemput dan ditemani oleh anggota keluarganya yang tinggal di tempat lain, memutuskan untuk melaporkan ke Polda Metro Jaya. Saat ini polisi dikabarkan telah menangkap dua orang berinisial UC dan M yang diduga melakukan tindak kekerasan sesuai dengan video yang beredar.

Koalisi Anti-Persekusi digerakkan oleh puluhan organisasi masyarakat sipil, di antaranya: AJI, Gusdurian, YLBHI, GP Ansor, SAFENet, Mafindo, Yayasan Pulih, Lakpesdam NU, PSHK, LBH Pers, Perempuan Indonesia Anti Kekerasan, dll.

HOTLINE KOALISI ANTI-PERSEKUSI, Telepon dan SMS ke 0812-86938292, Email: [email protected].

Video Persekusi

Sebelumnya, Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur menangkap dua terduga pelaku persekusi terhadap PMA, 15 tahun. Keduanya ditangkap di wilayah Jakarta Timur.

“Terduga pelaku adalah U alias MH dan satu lagi inisial M. Jadi ada 2 yang sudah diamankan,” kata Kapolres Jakarta Timur Komisaris Besar Andry Wibowo, saat dikonfirmasi, Kamis, 1 Juni 2017.

Kapolres mengkonfirmasi bahwa kedua orang tersebut ada dalam video aksi persekusi terhadap PMA. Video tersebut kemudian viral di media sosial. Kapolres mengatakan saat ini kedua pelaku telah diserahkan ke Polda Metro Jaya. “Diserahkan ke Polda untuk penyidikan lanjut,” kata dia.

Dalam sebuah video yang viral di media sosial, nampak PMA dikerumuni oleh belasan orang yang diduga berasal dari Front Pembela Islam. PMA dituduh telah mengolok-olok FPI dan ulama dalam postingan media sosialnya.

Dalam video tersebut nampak PMA beberapa kali ditempeleng oleh orang-orang itu. Ia kemudian diminta meminta maaf dan mengakui perbuatannya.

Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hendy F Kurniawan, mengatakan saat ini MPA telah dievakuasi dari rumahnya di Cipinang Muara. Korban dijemput bersama keluarga lainnya ke Polda Metro Jaya untuk menghindari intimidasi dari FPI. Ia pun menegaskan aksi persekusi adalah tindakan yang melanggar hukum. Apalagi dilakukan terhadap anak di bawah umur. (Web Warouw)

 

 

Add comment


Security code
Refresh