Hukum
Mantan Menteri Kesehatan, Dr. dr Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) (Ist)

JAKARTA- Mantan Menteri Kesehatan, Dr. dr Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) membacakan pleidoi (nota pembelaan) nya dihadapan majelis hakim Sidang Tipikor di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Rabu (8/6). Mantan Menteri Kesehatan RI yang berhasil menutup labotarorium Angkatan Laut Amerika Serikat, NAMRU-2, dalam Pleidoinya menegaskan,--dirinya bukan koruptor.

Bergelora.com menurunkan bagian terakhir dari empat seri salinan pleidoi tersebut:

Yang Mulia Majelis Hakim,

Perlu saya ungkapkan pula salah satu perjuangan saya untuk menyelamatkan kedaulatan bangsa ini yaitu, menutup NAMRU-2, yaitu sebuah laboratorium kesehatan yang kegiatannya meneliti penyakit-penyakit menular di Asia Pacific yang  di pimpin oleh tentara angkatan Laut Amerika, dengan hak hak imun sesuai dengan kedutaan USA. Artinya tertutup. NAMRU inii di bangun oleh angkatan militer Amerika yang bekerja sama dengan Menteri Kesehatan pada tahun 70-an. Semul di perlukan untuk menghadapi wabah Pes di Boyolali . MOU yang seharusnya hanya berlaku sampai 10 tahun ternyata sampai 40 tahun  NAMRU masih tetap bercokol di Jakarta tepatnya di percetakan Negara di Tanah wilayah Depkes. Konon kegiatan Laboratorium tersebut adalah bagian dari system pertahanan Amerika di ranah Asia Pasific.

Selama itu banyak pejabat militer yang berusaha untuk menutup kegiatan terselubung tersebut namun tidak ada satupun yang berhasil karena MOU nya memang antara Amerika (Departement Pertahanan) dengan Indonesia (Departement Kesehatan) perjuangan yang sangat berat dan berbahaya tapi dengan melalui aksi-aksi diplomasi dengan pemerintah Amerika yang baru kita dapat kesempatan untuk menutup NAMRU berdasarkan persetujuan antar dua negara. Anehnya saya mendapat ancaman keras justru dari orang-orang Indonesia yang berkedudukan tinggi.

Yang Mulia Majelis Hakim,

Kalau kita cermati cerita pendek yang saya sampaikan pada kesempatan ini yang Mulia bisa melihat karakter seperti apa yang saya miliki dalam memimpin Departement Kesehatan, yang Mulia bisa melihat dan mencerna betapa banyak celah-celah untuk korupsi apabila saya mempunyai menset seperti koruptor.

Tetapi saya lebih memilih melawan kepentingan koruptor dengan konsekuensi yang tidak mudah salah satunya saya harus di fitnah, spirit juang saya yang mencintai bangsa dan Negara berdaulat penuh harus di musnahkan dengan karakter assazination luar biasa. Agar generasi muda tidak mewarisi semangat kebangsaan yang saya miliki karena semangat kebangsaan ini membahayakan bagi kepentingan-kepentingan yang ingin menguasai kekayaan alam dan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.

Yang Mulia Majlis Hakim

Demikianlah sekelumit kisah perjuangan saya sebagai Menteri kesehatan. Dan sekarang saya mendekam di rumah tahanan perempuan Pondok Bambu sudah hampir 7 setengah bulan dengan alasan yang saya tidak mengerti banyak orang yang diduga melakukan Tipikor jauh lebih berat daripada dugaan terhadap saya hidup bebas.

Saya ditahan atas nama KPK oleh penyidik Moch.Rifai karena diduga menerima uang yang berupa TC sebanyak 1.375.000.000 rupiah untuk kepentingan pemeriksaan, agar tidak menghilangkan barang bukti, walaupun saya belum tentu bersalah. Pada minggu pertama KPK menempatkan saya di karantina Pondok Bambu dimana saya mantan seorang Menkes yang telah berbuat banyak untuk bangsa dan Negara, mempunyai bintang maha putra adiprana penghargaan tertinggi bagi warga sipil yang berjasa setelah Presiden. Ruang karantina yang saya tempatin adalah sel 5x5m berisi 21 orang yang terdiri dari pencopet, pencuri,pembunuh,penipu,dll.

Setelah itu saya tidak di periksa secara bermakna selama 4 bulan. Setelah di BAP satu kali maka langsung P21 dan diteruskan kepengadilan ini. Dan kemudian di pengadilan ini saya di dakwa dengan cara yang sama sekali tidak berdasar dengan alat bukti dan fakta persidangan yang sahih. Kemudian saya dituntut dengan tuntutan 6thn (sangat tinggi bila saya di dakwa sebagai pembantuan atau ikut serta ,di bandingkan dengan pelaku utama yang  dihukum hanya selama 2,5 thn tahanan kota yang artinya pelaku utama tersebut hanya 6bln kurungan penjara) Yang Mulia dimanakah letak keadilannya?

Yang Mulia, tahun ini usia saya 68thn dengan penyakit-penyakit permanent yang membutuhkan pengobatan, pemeliharaan yang intens dan konsisten (penyakit auto imun, tekanan darah tinggi, aritmia jantung, spondyliosis L5S1, HNP di L3L4,Glaucoma dan CME) .

Harapan hidup bagi manusia Indonesia rata-rata 70thn, maka dengan kerendahan hati ijinkanlah saya dan berikan kesempatan kepada saya untuk bersama-sama dengan anak cucu saya dalam menghadapi akhir hayat saya.

Yang Mulia, demikianlah nota pembelaan saya, mudah mudah menambah pengetahuan yang mulia tentang saya. Pada kesempatan ini saya mohon yang mulia mengabulkan permohonan Kami sbb  :

  1. Membebaskan saya dari segala semua tuntutan JPU (batal demi hukum)
  2. Segera keluarkan saya dari penjara
  3. Kembalikan hak-hak saya sebagai warga Negara dan nama baik saya

Mohon dimaafkan dengan setulus-tulusnya bila ada perbuatan saya yang tidak berkenan di hati para Majelis Hakim yang Mulia selama sidang pengadilan ini berlangsung

Memohon agar peristiwa hukum saya ini di cermati agar tidak terulang bagi pejuang-pejuang Negara lainnya.

Demikian,  Nota Pembelaan ini saya sampaikan mohon maaf, apabila dalam tulisan ada     yang tidak berkenan. Terima kasih.

Wass Wr. Wb.

Jakarta, 07 Juni 2017

Siti Fadilah Supari

(Web Warouw)

Add comment


Security code
Refresh