Hukum
Penahanan penyebar kebencian dengan sentimen Suku, Agama dan Ras, Jonru Ginting oleh Polda Metro Jaya dengan memakai baju tahanan berwarna oranye di Polda Metro Jaya (Ist)

JAKARTA- Penahanan penyebar kebencian dengan sentimen Suku, Agama dan Ras, Jonru Ginting oleh Polda Metro Jaya didukung oleh berbagai kalangan masyarakat. Sebagian besar berharap Jonru Ginting mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya yang merusak persatuan Indonesia.

“Sudah lama kami menunggu orang seperti Jonru Ginting ditangkap dan diberikan hukuman setimpal. Agar menjadi contoh bagi semua yang masih terus menyebar kebencian,” demikian Muhammad Zamzami, aktivis sosial dari Banda Aceh kepada Bergelora.com di Jakarta, Selasa (3/10).

Hal senada juga disampaikan oleh Sulaiman Haikal, aktivis 90 an. Ia berharap pihak yang berwajib diseluruh daerah juga tidak segan-segan memeriksa semua penyebar kebencian dimasyarakat.

“Karena ini sudah merupakan gerakan yang meresahkan masyarakat dalam waktu cukup lama sehingga membawa pengaruh para pengambil kebijakan  di daerah-daerah sampai di pusat,” tegasnya kepada Bergelora.com di Jakarta.

Kepada Bergelora.com, Jimmy Kiroyan dari Pontianak mengatakan bahwa tindakan tegas aparat hukum pada orang-orang penyebar kebencian semacam Jonru Ginting membuktikan bahwa negara masih ada melindungi setiap warga negara.

“Pembiaran atas penyebaran kebencian selama ini sempat membuat masyarakat ragu atas Polri. Penahanan Jonru, membuktikan bahwa Polri bisa bersikap tegas terhadap semua ancaman terhadap kebhinneka tunggal ikaan Indonesia,” tegasnya.

Sam Awom, Aktivis HAM di Papua menjelaskan bahwa NKRI ini bukan milik sekelompok orang dari satu golongan saja, tapi milik seluruh rakyat Indonesia. Polri telah kembali ke marwahnya, menjaga keamanan dan keselamatan seluruh rakyat Indonesia.

“Semua laporan masyarakat yang masuk ke Polri di daerah maupun di Pusat harus terus ditindak lanjuti. Kami ingin lihat polisi yang menjaga keamanan persatuan rakyat. Bukan lagi sebagai ancaman bagi rakyat,” ujarnya dari Jayapura.

Herny Sualang, Aktivis Bhinneka Tunggal Ika dari Manado mengingatkan agar seluruh rakyat jangan ragu mendukung Polri dalam menegakkan hukum yang selama ini diganggu oleh penyebaran kebencian bersentimen SARA.

“Orang semacam Jonru ini lah yang menjadi ancaman nyata bagi Pancasila dan Kebangsaan Indonesia kita. Kami disini, so pastiu (bosan) dan tidak tahan melihat tingkah pola yang selama ini dibiarkan,” ujarnya.

Hassanudin dari Ternate mempertanyakan, mengapa masih ada orang yang mendukung dan membela Jonru Ginting yang sudah menyebar kebencian berbau SARA.

“Pendukung atau kawan-kawannya Jonru itulah musuh rakyat Indonesia yang mencintai persatuan dan perdamaian di Indonesia. Justru Mereka yang selama ini mensabot semua upaya percepatan pembangunan di Indonesia Timur,” kata relawan kesehatan ini.

Sementara itu Lilit, dari Garut mengatakan, semua yang disampaikan oleh Jonru dan kawan-kawannya itu adalah kebohongan belaka.

“Semua isu yang disebar mereka selama ini justru telah merusak citra Islam. Mereka semua orang terpelajar. Masakan mereka gak sadar, bahwa mereka merusak Islam. Mereka kira, umat Islam bodoh dan bisa dipengaruhi kebohongan yang mereka sebarkan,” ujarnya.

Sebelumnya, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menjadwalkan pemeriksaan lanjutan terhadap Jonru Ginting. Namun, Jonru meminta pemeriksaan tersebut ditunda.

Jonru Ginting dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Kamis (31/8) oleh Muannas Al Aidid. Muannas menilai, unggahan Jonru di media sosial sangat berbahaya dan jika dibiarkan dapat memecah belah bangsa Indonesia.

Polisi memasukkan Pasal 28 ayat 2 Juncto Pasal 45 ayat 2 Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik terkait kasus Jonru itu.

Ditahan Polisi Sejak Sabtu

Jonru Ginting sebagai tersangka kasus dugaan penyebaran ujaran kebencian, sejak Sabtu (30/9) sudah ditahan di Polda Metro Jaya.

Penahanan tersebut dilakukan usai dilakukan pemeriksaan Jonru sebagai tersangka.

"Iya sudah ditahan. Mulai hari ini ditahan," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan.

Argo menjelaskan pada Jumat kemarin, Jonru selesai diperiksa dan mengakui bahwa dia menulis ujaran kebencian di media sosial.

Sementara itu, kata Argo, saat ini sedang dilakukan pemberkasan terhadap kasus tersebut.

"Ia ditahan agar tersangka tidak mengulangi perbuatannya, tidak menghilangkan barang bukti dan tidak melarikan diri. Kami mulai pemberkasan, setelah kita meriksa semua saksi selesai, kita kirim ke jaksa," kata KombesArgo.

Muannas Al Aidid melaporkan Jonru Ginting ke Polda Metro Jaya pada Kamis (31/8/2017). Laporan ini diterima polisi dalam laporan bernomor: LP/4153/ VIII/2017/ PMJ/Dit. Reskrimsus.

Dalam laporan itu, polisi menyertakan Pasal 28 ayat 2 Juncto Pasal 45 ayat 2 Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Ancaman hukumannya yaitu pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

 

Muannas menilai, unggahan Jonru di media sosial sangat berbahaya dan jika dibiarkan dapat memecah belah bangsa Indonesia. (Web Warouw)

Add comment


Security code
Refresh