Hukum
Mayor Jenderal (Purn) Saurip Kadi, Mantan Asisten Teritorial Kepala Staf TNI-AD (2000) (Ist)

JAKARTA- Hari Jumat 20 Oktober 2017 pagi, segerombolan preman mengawal pengrusakan Panel Listrik Milik Warga Rusun Graha Cempaka Mas (GCM) Jalan Letjen Suprapto, Jakarta Pusat. Tanpa dosa listrik dimatikan dan panel dijaga preman siang malam, sehingga warga tidal bisa memperbaiki panel listrik yang dirusak. Mayor Jenderal (Purn) Saurip Kadi, Mantan Asisten Teritorial Kepala Staf TNI-AD (2000) melaporkan pada Bergelora.com di Jakarta, Sabtu (21/10)

“Mereka tak berdaya. Dua hari hidup di apartemen tanpa listrik. Malam pertama, perwakilan Warga  bersama RT RW setempat lapor ke Polsek Kemayoran tapi ditolak. ULANGI: DITOLAK!” tegasnya.

Warga Rusun Graha Cempaka Mas tidak putus asa,  dan lapor ke Polres Jakarta Pusat.

“Ternyata juga tidak dilayani. Ada apa ini pak Kapolri?” ujarnya.

Akhirnya dihari ke 2, Sabtu 21 Oktober 2017  habis lohor warga lapor ke Polda Metro Jaya.

“Warga tidak mau pulang, kalau tidak dikirim Polisi untuk usir preman dari Rusun GCM. Malam  sekitar pukul 19.00   dikirimlah AKP Lukman yang sedang Piket di Polda dengan rombangan memenuhi permintaan warga,” terangnya.

Sampai Apartemen Graha Cempaka Mas yang ditemui pertama kali oleh AKP Lukman dan rombongan bukan warga yang laporan, tapi malah menemui Pengelola PT. Duta Pertiwi dari Sinar Mas Group.

Warga minta Poilisi usir preman atau Polisi jadi saksi selama warga usir preman bayaran Pengelola dengan caranya sendiri.

“Yang terjadi bukan premannya diusir,  tapi AKP Lukman malah ngacir,” terangnya.

Warga akhirnya mengusir Preman dengan caranya sendiri, semua berjalan dengan aman dan terkendali.

“Alhamdulillah listrik warga nyala kembali,” ujarnya.

Ia melanjutkan, baru 1,5 jam kemudian sekitar 300 Polisi datang dan bergabung dengan pengelola, tanpa menyapa warga.

“Entah mau apa....? Apa Polri menganggap ada wabah gila sedang melanda warga GCM, sehingga bikin ribut di teras rumah sendiri. Lantas utk apa ada RT dan RW kalau Polri sendiri sudah tidak menghormati peran mereka,” katanya.

 

“Inilah gambaran republik kita, bagaimana kekuatan kapital mencengkeram  negeri ini, sampai membikin negara  tak  berdaya terhadap kekuatan Kapital. Rupanya ini yang dimaksud dengan kolonialisme, hanya 2 km dari Istana,” terangnya.  (Web Warouw)

Add comment


Security code
Refresh