Hukum
Maruly Hendra Utama, Dosen FISIP UNILA, Bandar Lampung ditahan di Rutan Way Hui, Bandar Lampung (Ist)

BANDAR LAMPUNG- Sudah seminggu Maruly Hendra Utama, Dosen  FISIP UNILA, Bandar Lampung ditahan di Rutan Way Hui, Bandar Lampung. Ini bukan hambatan baginya untuk terus menyuarakan perjuangannya membersihkan dunia pendidikan, khususnya dari kampus yang dicintai tempat ia mengabdi.

Dari dalam Maruly mengirimkan pesan-pesan perjuangannya dan dimuat Bergelora.com seperti dibawah ini.

Saya mengagumi PAT (Pramudya Ananta Toer, sastrawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia-red) karenanya saya melawan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Dalam perspektif saya, kampus adalah sumber kebaikan dimana moralitas harus ditanam agar memiliki akar yang kuat,  tumbuh subur dan mengendap dalam pribadi yang beritegritas. Hati saya tidak bisa menerima jika pejabat kampus memiliki rekam jejak sebagai penipu.

Berbeda dengan Rektor yang kekuasaannya terusik ketika saya menggugat penipu yang diangkat menjadi pejabat. Kekuasaan yang menyelesaikan semua persoalan melalui pendekatan hukum dengan mengabaikan nilai, norma dan moral memang bukan tindak pidana. Beda perspektif ini yang menjadi alasan saya dipenjara.

Saya sangat sadar dengan konsekuensi perlawanan ini. Tetapi seperti kata Bimpet (Bimo Petrus), teman saya yang hilang saat kami berjuang dibawah tanah ketika menggulingkan kediktatoran Orde Baru,-- “Walau kita menabrak tembok, paling tidak kita yang melakukannya!”

Dia hilang memang, tapi ingatan saya akan ucapannya tidak akan pernah hilang. Terimakasih bung, kamu adalah kawan yang mempengaruhi perjuangan saya hari ini.

Hari-hari saya dipenjara seperti kuliah lagi buat saya. Yang benar-benar ditempa adalah cara berpikir dan nilai-nilai saya (Jose Mujica)

Keadilan memang tidak jatuh dari lagit. Ia harus diperjuangkan! Saya melaporkan tindak pidana penipuan terhadap Wadek III Fisip Unila dengan Laporan Polisi No.373 yang dilimpahkan ke Polres Metro. Kekuasaan bekerja, terbukti hingga sekarang laporan itu berhenti padahal Iptu Suhadi, KBO Reskrim Polres Metro saat rekontruksi mengatakan peristiwa penipuan itu memang ada.

Saya tidak ingin minta maaf lalu bebas. Yang saya inginkan adalah laporan polisi saya ditindaklanjuti.

Saya mengajar kelas sosiologi. Saya mengkhawatirkan mahasiswa dikelas. Saya takut 6 kelas mahasiswa yang mengambil mata kuliah saya menjadi penipu karena menyaksikan sendiri pelaku penipuan diberi hadiah jabatan Wadek III bidang kemahasiswaan. 

Penjara tidak membuat jera! Peluru tidak pernah membuat ragu!

Maruly Hendra Utama RI

Rutan Way Hui, Bandar Lampung

Tekad Maruly rupanya sudah bulat. Seperti saat ia memimpin perlawanan terhadap Orde Baru bersama Partai Rakyat Demokratik (PRD) dari Jawa Barat, pada tahun 1990-an.

“Soeharto sudah tumbang, tapi dunia pendidikan kita masih korup. Karena dipimpin oleh intelektual tukang dan korup. Mencetak para koruptor dan menjadikan republik yang korup. Anak kita tarohannya,” tegasnya. (Web Warouw)

 

Add comment


Security code
Refresh