Hukum
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menggelar silaturahmi dan dialog bersama organisasi pemerhati isu perempuan dan gender, bertempat di Kediaman Dinas Kapolri Jalan Patimura Nomor 37 Jakarta Selatan, Senin (23/10) petang.(Ist)

JAKARTA- Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menggelar silaturahmi dan dialog bersama organisasi pemerhati isu perempuan dan gender, bertempat di Kediaman Dinas Kapolri Jalan Patimura Nomor 37 Jakarta Selatan, Senin (23/10) petang.

 

Turut hadir Kabareskrim Polri, Kadiv Propam Polri, Karo Penmas Div Humas Polri, Waka Polda Metro Jaya, serta penyidik tindak pidana terhadap perempuan dan anak di Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya.

Sebanyak 67 aktivis pemerhati isu perempuan dan gender mengikuti kegiatan ini, di antaranya Pertiwi Rusmanhadi (Derap Warapsari), Wulandari Danoekoesoemo (Lentera Sintas Indonesia), dan Netty Prasetyani Achmad Heryawan (istri Gubernur Jawa Barat, anggota Maju Perempuan Indonesia/MPI), yang mewakili 18 organisasi pemerhati isu perempuan dan gender.

Dalam kesempatan ini disampaikan bahwa pernyataan Kapolri yang dikutip oleh BBC dengan judul “Tito Karnavian: Korban Perkosaan Bisa Ditanya oleh Penyidik ‘Apakah Nyaman Selama Perkosaan?'” adalah tidak sesuai dengan yang disampaikan Kapolri saat wawancara yang menggunakan bahasa Inggris. Sehingga mengakibatkan adanya protes dari beberapa LSM yang keberatan dengan komentar Kapolri tersebut.

Jenderal Pol Tito Karnavian menjelaskan bahwa saat itu reporter BBC, Rebecca Hensckhe, menanyakan beberapa topik antara lain perkembangan terorisme di Indonesia dan penangkapan Spa Gay di Jakarta Pusat, yang kemudian berkembang ke pertanyaan tentang pemerkosaan. Dan Kapolri menyampaikan bahwa pada beberapa kasus, penyidik dapat menanyakan kepada korban “Apakah korban merasa comfortable?” ketika peristiwa tersebut terjadi.

“Hal ini bertujuan untuk mengetahui kondisi psikis korban pada saat kejadian, guna memperkuat pembuktian. Karena ada kasus pemerkosaan yang terjadi, dimana antara korban dan pelaku sudah saling kenal dan pernah melakukan hubungan badan sebelumnya,” jelas Jenderal Pol Tito Karnavian.

Namun, menurut Jenderal Pol Tito Karnavian, BBC kemudian menerjemahkan pernyataannya dengan tidak tepat sehingga terkesan Kapolri tidak memiliki empati kepada korban perkosaan.

Setelah mendengar penjelasan Kapolri, para hadirin memahami dan mendukung konsep Kapolri untuk meningkatkan kemampuan penyidik kasus kekerasan terhadap perempuan melalui pelatihan yang dilaksanakan bekerja sama dengan LSM pemerhati perempuan dan gender.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Kapolri berjanji akan menindaklanjutinya dengan membuat Surat Telegram agar terdapat persamaan penanganan mulai dari tingkat Mabes hingga Polsek, serta akan dibuat MoU. (Calvin G. Eben-Haezer)

 

Add comment


Security code
Refresh