Hukum
(Alm) Binafasius Pekey, korban tabrak lari truk milik PT Dewa Krisna, di Deiyai, Papua (Ist)

JAKARTA- Seorang pegawai honorer dari Dinas Perhubungan, Bonafasius Pekey (33 tahun) tewas di Deiyai Papua, Sabtu (28/10) dini hari, setelah bentrokan yang melibatkan PT Dewa Krisna. Mantan Komisioner Komnasham, Natalius Pigai menyurati protes kepada Presiden Joko Widodo dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mochamad Basoeki Hadimoeljono.

“Perusahaan ini harus hentikan atau dihentikan operasinya di wilayah Hunian suku Mee yaitu Nabire, Deiyai, Dogiyai dan Paniai. Jika tidak maka rakyat dikawatirkan akan terjadi aksi balasan yang membahayakan semua pihak,” tegas Natalius Pigai kepada Bergelora.com di Jakarta, Selasa (31/10).

Dibawah ini surat lengkap Natalius Pigai yang beredar di media sosial sampai saat ini:

Yth. Presiden Jokowi dan Menteri Pekejaan Umum

PENGUSAHA INI MASIH DIMANJA PROYEK PUPR PUSAT.

OPERASI MASIH DIIJINKAN, "PT.DEWA KRISNA" MENAMBAH KORBAN LAGI DI DEIYAI PAPUA

Tak Merasa bersalah dengan kelakuannya pada tanggal 1 Agustus 2017 yang memakan  9 korban hingga 1 ( satu ) diantaranya mati tempat akibat terkena peluru tajam dan yang lainnya masih berobat hingga sekarang, yang terjadi di Kampung Oneibo, Deiyai, West Papua,  yang mana sekarang dikenang sebagai Peristiwa ONEIBO Berdarah.

Masyarakat yang diwakili oleh Pemuda Asli Deiyai sudah dan masih sedang melakukang demo menuntut untuk PT tersebut di keluarkan dari Deiyai Khususnya dan Meepago pada umumnya. Tetapi hal itu tidak di tindak lanjuti oleh Pihak terkait yakni: Kementerian PUPR, Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabukaten Deiyai dan Bupati selaku Pimpinan Deiyai.

Kini PT.DEWA KRISNA berulah lagi sehingga Memakan 1 (satu) Korban atas Nama BONAFASIUS PEKEY (33 tahun) Seorang petugas honorer pada Dinas Perhubungan, Kabupaten Deiyai, Papua, pada pada Hari Sabtu 28/10/2017 bertepat pada jam 02:15.

Kronologis Versi Keluarga dan Korban yang juga Menolong..

Almarhum sebelumnya menyelesaikan masalah mas kawin di kampung Kibitamo pada jam 02:00 , kemudian ia memberitahu kerabatnya bahwa ia mau ke Waghete dan akan kembali lagi. Seketika itu pun ia pergi dan tiba di tikungan kampung Woyoukita.

Seketika mau belok tiba-tiba dari arah depan datang sebuah truk milik PT Dewa Krisna menghantamnya lalu ia terbuang jauh sekitar 4 meter dari tempat kejadian itu kearah belakangnya.

Setelah menabrak, truk itu langsung melarikan diri dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Namun dibelakang truk itu ada sebuah mobil yang mengikuti truk itu. Karena mobil itu sebelumnya disenggol oleh truk tersebut sehingga mobil itu mengikuti truk tersebut untuk meminta bertanggung jawab atas kelakuannya.

Mobil tersebut milik seorang PNS Mikael Pekey yang dikemudikan oleh orang pendatang/non-Papua.

Tetapi melihat truk itu menabrak seorang pengendara motor , langsung pengemudi itu menghentikan mobilnya dan meminta bantuan kepada masyarakat setempat untuk membantunya membawa ke Rumah Sakit Wagete tetapi dari RSUD tersebut karena kekurangan alat bantu medis maka korban dilarikan ke RSUD Madi, Paniai.

Korban langsung diarahkan ke ruang UGD ( Unit Gawat Darurat ) untuk mendapat Perawatan, namun ketika beberapa menit kemudian Korban dinyatakan “Sudah tak bernyawa, " kata  dokter kepada penolong dan keluarga korban itu.

Akhirnya Korban dibawah pulang ke rumahnya yang bertempat di Kampung Kibitamo, Kecamatan Tigi, Kabupaten Deiyai.

Mendengar dan melihat hal itu, adik, kaka, kerabat serta kelurga tak menerima kenyataan ini dengan baik dan akhirnya mereka pergi. Setelah Keluarga Korban tiba dan mengecek para Pekerja PT tersebut untuk bernegosiasi tetapi ternyata  semua kosong tak ada satupun orang serta binatang peliharaan mereka di lokasi Kediaman PT tersebut. Yang ada hanya satuan Brimob dan Densus 88 dari Paniai yang berada sebelah jalan tak jauh dari lokasi kamp PT Dewa Krisna.

keluarga korban tak menghiraukan mereka tetapi karena keluarga korban sangat marah dan akhirnya membakar Kamp PT. Dewa Krisna serta merusaki beberapa Fasilitasnya.

Demikian kronologisnya dan saya berharap perusahaan ini harus hentikan atau dihentikan operasinya di wilayah Hunian suku Mee yaitu Nabire, Deiyai, Dogiyai dan Paniai.

Jika tidak maka rakyat dikawatirkan akan terjadi aksi balasan yang membahayakan semua pihak.

Demikian atas perhatiannya diucapkan terima kasih

Jakarta,

Natalius Pigai

“Ini sudah keterlaluan bung! Seharusnya dibawah Presiden Jokowi tidak boleh ada lagi kejadian seperti ini. Sepertinya Presiden tidak punya pengaruh di Papua. Banyak sabotase kebijakan presiden di Papua. Masih seperti Orde Baru,” ujarnya. (Web Warouw)

Add comment


Security code
Refresh