Hukum
Ilustrasi kekerasan seksual (Ist)

JAKARTA- Anggota Komisi VIII DPR RI Achmad Fauzan Harun mengatakan, kendati materi pembahasan yang alot, pihaknya menargetkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dapat selesai di tahun 2018 ini. Untuk itu, Komisi VIII mengundang pakar-pakar dalam rangka pembahasan RUU yang sudah masuk pembahasan di tahun ke tiga itu.

“Karena itu Komisi VIII perlu banyak masukan, penuh bekal. Jangan sampai UU yang dihasilkan bertabrakan dengan UU yang sudah ada,” ungkapnya sebelum mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan pakar di Ruang Rapat Komisi VIII, Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin (29/1).

Menurut politisi PPP  itu, dengan berbagai masukan maka RUU PKS  ini diharapkan bisa mempertajam KUHP sebab dalam tataran teknis masih banyak kekurangan. Akibatnya penyidik masih bingung melaksanakan tindakan hukum atas kasus-kasus kekerasan seksual.

“RUU ini diharapkan mempertegas, mempertajam  sehingga hukuman pada kekerasan seksual diperberat. Jangan sampai orang-orang yang betul-betul bersalah dalam kekerasan seksual tidak seimbang  dengan perbuatannya,” tandas Fauzan.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, menanggapi masukan Guru Besar Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Kekuarga FEMA IPB Euis Sunarti bahwa RUU terkesan diskriminatif karena lebih dominan melindungi perempuan dari kekerasan seksual, Fauzan mengakui kekerasan terhadap laki-laki juga ada, meski persentasenya lebih banyak menimpa perempuan.

“Untuk itu, kita juga ingin dalam RUU PKS memasukkan korban kekerasan seksual yang menimpa laki-laki. Kita masih menghimpun lagi mengundang-pakar-pakar lain. Kita juga akan menemui korban-korban kekerasan seksual  ke Bali dan Kepri dalam rangka kunjungan spesifik, sehingga naskah RUU yang disiapkan komprehensif,” imbuh politisi dari Dapil DKI Jakarta I ini. (Calvin G. Eben-Haezer)

Add comment

Security code
Refresh