Hukum
Menteri kesehatan (Menkes) Nila Moeloek. (Ist)

JAKARTA-  Pernyataan Menteri kesehatan (Menkes) Nila Moeloek baru-baru ini soal cacing bikin panas hati. Bagaimana bisa seorang menteri berucap seenak udelnya bahwa cacing dalam sarden boleh dimakan. Rasanya terlalu pongah karena merasa diri berpengetahuan dengan gelar Profesor Doktor yang diembannya bahwa cacing mengandung protein dan boleh dimakan masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for Budget Analysis (CBA) kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (2/4)

“Sebuah kelakar yang menjijikan, sayang beliau tidak memberikan contoh langsung bagaimana cara makan cacing yang bagi kebanyakan orang menjijikkan,” ujarnya geli.

Menurutnya, jika di dalam sarden ada cacing Center for Budget Analysis (CBA) menemukan hal yang lebih menjijikan dari cacing di tubuh kementerian yang dipimpin Lina Moeloek, yakni dugaan kongkalikong duit rakyat dan berlangsung selama menjabat.

“Setiap tahun Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan memiliki kegiatan Pekerjaan Cleaning Service. Terkait kegiatan ini Center for Budget Analysis (CBA) menemukan banyak kejanggalan dalam pelaksanaannya,” jelasnya.

Contohnya Pekerjaan Cleaning Service yang dikerjakan oleh satuan kerja Rumah Sakit Umum Dr Cipto Mangun Kusumo Jakarta. Sejak menteri kesehatan Nila Moeloek memimpin tahun 2014, dugaan kongkalikong antara oknum pejabat kemenkes dengan swasta dalam  proyek Cleaning service terus berjalan sampai 2018.

Misalnya dari segi anggaran tahun ke tahun selalu mengalami lonjakan drastis, padahal pengerjaannya di ruang lingkup yang sama yakni  di RSUP Nasional Dr Cipto Mangunkusumo  Jalan Diponegoro No 71 Jakarta  Pusat.  Ricinannya adalah, 2014 Anggaran sebesar Rp 18,2 miliar; 2015 Anggaran sebesar Rp 24,2 miliar; 2016 Anggaran sebesar Rp 27,1 miliar; 2017 Anggaran sebesar Rp 26,7 miliar; dan 2018 Anggaran sebesar Rp 38,2 miliar.

“Total anggaran yang disiapkan Kemenkes terkait proyek Cleaning Service di Rumah Sakit Umum Dr Cipto Mangun Kusumo Jakarta untuk 5 tahun sebesar Rp 134,6 miliar lebih. Adapun dari anggaran yang disiapkan seperti disajikan di atas, uang negara yang dihabiskan sebesar Rp126,7 miliar lebih,” katanya.

Detailnya ia jelaskan, pada Tahun 2014 PT Tirta Maz Dua tiga, nilai kontrak sebesar Rp16.996.728.200; Tahun 2015 PT Spectra Jasindo, nilai kontrak sebesar Rp20.860.140.000; Tahun 2016 PT Tirta Maz Dua tiga, nilai kontrak sebesar Rp 26.568.850.286; Tahun 2017 PT Sapta Sarana Sejahtera, nilai kontrak sebesar Rp25.943.873.271; Tahun 2018 Perusahaan Provices Indonesia  nilai proyek sebesar Rp36.416.932.665

Anggaran yang terus naik dengan tidak wajar menurutnya, mengindikasikan penentuan pagu anggaran serta Harga perkiraan sendiri yang dibuat oleh pejabat pembuat komitmen (PPK) sengaja ditinggikan agar membuka celah untuk permainan selanjutnya.  Seperti satu perusahaan yang mendapatkan dua kali proyek Cleaning service, yakni PT Tirta Maz Dua tiga. Dengan nilai kontrak sebesar Rp 43,5 miliar lebih.

“Serta modus dimenangkannya beberapa perusahaan meskipun dengan tawaran kontrak yang kelewat mahal, namun hal ini tidak ketara karena sejak awal memang HPS yang ditetapkan sudah kelewat tinggi. Contohnya proyek pekerjaan Service di tahun 2018 dari 62 peserta lelang yang mendaftar, Perusahaan Provices Indonesia yang dimenangkan dengan nilai kontrak Rp 36, 4 miliar lebih. Padahal ada perusahaan lain yang menawarkan harga lebih murah seperti PT Pinang Jaya Abadi senilai Rp 33,2 miliar. Ada selisih yang cukup jauh sebesar Rp 3,1 miliar lebih,” jelasnya.

Secara keseluruhan, CBA mencatat dalam proyek pekerjaan Cleaning Service Kemenkes di Rumah Sakit Umum Dr Cipto Mangun Kusumo Jakarta. Sedikitnya terdapat potensi kebocoran anggaran sebesar Rp 8,7 miliar lebih. Untuk potensi kerugian negara bisa lebih besar lagi, mengingat proyek tersebut bernilai ratusan miliar.

Berdasarkan temuan di atas,  CBA mendorong pihak berwenang khususnya KPK agar segera membuka penyelidikan. Bahkan jika perlu, Menteri Kesehatan Nila Moeloek ikut dipanggil untuk dimintai keterangan.

“Karena selain di RS Cipto masih banyak proyek sejenis di Rumah sakit lainnya dan berada di bawah tanggung jawab menkes yang berpotensi jadi indikasi bancakan oknum tidak bertanggung jawab jika terus dibiarkan,” tegasnya. 

Menkes Ditantang DPR

Sebelumnya, pernyataan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek yang menganggap produk sarden kaleng tidak berbahaya mendapatkan respons pimpinan DPR. Untuk membuktikan pernyataannya, Menkes diminta memakannya.

"Jika memang Menkes menyatakan produk makarel itu tidak berbahaya, mungkin Menkes bisa membuktikan. Misalnya dengan demo makan makanan makarel mengandung cacing itu di depan publik, sehingga masyarakat yakin dengan pernyataan Menkes," ujar Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/3).

Taufik mengatakan Menkes seharusnya memberikan pernyataan yang bisa memberikan ketenangan kepada masyarakat soal temuan cacing di sarden kalengan. Atas pernyataan Menkes itu, Taufik menilainya sebagai blunder atau bumerang bagi Menkes sendiri.

"Soal pernyataan Menkes itu terkesan blunder, ya. Apalagi katanya mengandung protein. Seharusnya tidak perlu keluar statement itu. Seharusnya kan Menkes bisa memberi statement yang menenangkan masyarakat, dan tetap mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai produk-produk itu," ujarnya.

Taufik mengatakan pernyataan itu tak mencerminkan seorang Menteri Kesehatan. Ia menyarankan, daripada mengeluarkan pernyataan itu, lebih baik Menkes mengimbau masyarakat membantu pemerintah melaporkan 27 produk itu jika masih ada di pasaran.

"Ini bukannya masyarakat menjadi tenang, justru malah mempertanyakan kompetensi Menkes. Itu juga kelihatan di media sosial, sempat ramai. Tapi, terlepas dari itu, kita tetap mendorong BPOM untuk memantau produk itu di pasaran, dan meminta produsen menarik produknya dari pasaran," ungkap Taufik.

Selain itu, pernyataan Menkes itu dirasakannya kontradiktif dengan langkah yang diambil oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yang meminta produsen menarik produk tersebut.

Sebelumnya, dalam kesempatan seusai rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI, Menteri Nila menyebut kandungan cacing dalam produk sarden kalengan itu tak terlalu bermasalah bagi tubuh manusia jika dimasak dengan benar.

Terkait hal tersebut Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek mengatakan cacing yang berada pada ikan makarel itu mengandung protein.

Ia pun menilai cacing tersebut tidak membawa efek berbahaya selama makanan itu diolah dengan benar.

"Setahu saya itu (ikan makarel) kan nggak dimakan mentah, kita kan goreng lagi, atau dimasak lagi. Cacingnya mati lah. Cacing itu sebenarnya isinya protein, berbagai contoh saja tapi saya kira kalau sudah dimasak kan saya kira juga steril. Insya Allah enggak kenapa kenapa," kata Menkes saat ditemui di DPR.

Menurut Menkes, cacing hanya berkembang biak di tempat yang cocok dengan siklus hidupnya.

"Kalau lingkungannya cocok perut kita dia (cacing) akan berkembang biak, misalnya begitu. Kalau nggak sesuai ya tentu dia (cacing) mati juga," ujar Nila. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh