Hukum
Hendardi, Ketua SETARA Institute. (Ist)

JAKARTA- Amien Rais tidak perlu takut diperiksa oleh pihak kepolisian sehubungan dengan keterlibatannya dalam kasus kebohongan Ratna Sarumpaet. Pemeriksaan polisi tersebut adalah hal yang biasa untuk menegakkan proses hukum yang berlaku di negara ini. Hal ini ditegaskan oleh Hendardi, Ketua SETARA Institute kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu (10/10).

“Pemeriksaan M. Amien Rais sebagai saksi dalam kasus dugaan tindak pidana kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet adalah proses hukum biasa yang dilakukan oleh penyidik kepolisian dalam mengungkap kebenaran suatu peristiwa tindak pidana. Oleh karena itu, upaya-upaya menggeser persoalan hukum menjadi persoalan politik tidaklah relevan,” jelasnya.

Ia mengatakan bahwa, dukungan yang diberikan oleh yang menamakan diri Alumni PA 212 pada pemeriksaan hari ini telah memantik dan mendorong persoalan hukum biasa ini berpotensi menjadi persoalan politik yang dipicu oleh politisasi yang dilakukan oleh M. Amien Rais dan pendukungnya, dengan menyebarkan berbagai ancaman.

“Sebagai warga negara M. Amien Rais mesti menyikapi pemanggilan pemeriksaan ini sebagai proses hukum normal dalam kerangka penegakan hukum,” katanya.

Menurut Hendardi, ancaman membongkar kasus-kasus di KPK, ancaman penggantian Kapolri M. Tito Karnavian dan provokasi kebencian berdasarkan etnis dan agama yang muncul dalam pernyataan-pernyataan M. Amien Rais dan pendukungnya merupakan manuver politik yang tidak memberikan keteladanan pada warga negara, untuk mematuhi prosedur-prosedur hukum.

“Ancaman-ancaman itu tidak relevan dengan kasus yang sedang dialami Ratna Sarumpaet dan justru menggeser persoalan hukum biasa menjadi persoalan politik,” katanya.

Hendardi mengingatkan, politisasi itu justru datang dari pihak Amien Rais yang ditujukan untuk melindungi dirinya secara berlebihan. Padahal Amien Rais hanya dimintai keterangan sebagai saksi.

“Meski demikian, upaya Amien Rais membongkar kasus-kasus KPK dan mengkritisi kinerja Polri merupakan hak yang bersangkutan dan tidak bisa dipersoalkan,” katanya.

Publik menurutnya mafhum bahwa dinamika menjelang Pemilu 2019 telah menyulut berbagai ketegangan yang justru dipicu oleh elit politik.

“Kontestasi politik hendaknya menjadi pesta riang gembira, karena di sanalah rakyat bisa menunaikan haknya untuk menentukan pilihan secara merdeka,” katanya.

Sementara itu Amien Rais diperiksa oleh penyidik di Polda Metro Jaya di Jakarta. Amien Rais ditanya 30 pertanyaan sebagai saksi terkait berita bohong Ratna Sarumpaet.

“Saya diperiksa 3 jam oleh pemeriksa secara baik. 3 jam lainnya makan sholat dan ngobrol sana sini. Saya juga diperiksa dokter dan dinyatakan sehat,” demiokian Amien Rais menjelaskan kepada wartawan, seusai pemeriksaan polisi.

Tahap Penyidikan

Kasus penyebaran berita berita bohong dengan tersangka Ratna Sarumpaet memasuki babak baru. Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan atau SPDP.

SPDP dari penyidik Polda Metro Jaya telah diterima Kejati DKI pada Senin kemarin. Saat ini Kejaksaan telah mempersiapkan jaksa peneliti untuk memeriksa berkas perkara kebohongan Ratna Sarumpaet. Dalam SPDP Ratna Sarumpaet dijerat Undang-Undang ITE dan Undang-Undang tentang peraturan hukum pidana.

Seperti diketahui, hoaks Ratna Sarumpaet berawal dari cerita bahwa dirinya dianiaya di Bandara Husein Sastranegara Bandung, padahal ia melakukan operasi plastik di RS Bina Estetika.

Hoaks Ratna Sarumpaet ini menjadi bola panas karena ia adalah tim kampanye pasangan calon presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Kubu Prabowo pun langsung merespon isu penganiayaan ini dengan menggelar jumpa pers dan menyebarkan di media sosial. 

Karena terlanjur jadi viral, Ratna Sarumpaet kemudian menggelar jumpa pers bahwa isu penganiayaan tersebut adalah hoaks.

Ratna Sarumpaet sendiri kemudian ditangkap oleh Polda Metro Jaya di Bandara Soekarno Hatta saat hendak berangkat ke luar negeri.

Ratna Sarumpaet yang saat ini ditahan di Polda Metro Jaya menulis surat dari dalam sel untuk dibacakan oleh pengacaranya, Desmihardi di ILC TVOne. Dalam surat itu, Ratna Sarumpaet mengatakan bahwa hoax tersebut adalah perbuatannya sendiri dan tanggung jawabnya sendiri. Ratna Sarumpaet menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya tidak terkait dengan pihak lain.

Menjawab pertanyaan Karni Ilyas, Desmihardi mengatakan menceritakan bahwa hoax Ratna Sarumpaet diawali dari kebohongannya pada keluarga.

Kepada keluarganya, Ratna mengaku ke Bandung, namun ternyata ia ke RS melakukan operasi plastik pada tanggal 21 dan 22 September.

Karena hasil operasi plastik itu menimbulkan efek bengkak dan lebam, ia merekayasa cerita kepada keluarganya bahwa ia dianiaya. Namun ternyata, hoax Ratna Sarumpaet ini berdampak luas dan menimbulkan reaksi yang luar biasa dari kubu Prabowo. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh