Hukum
Rumah makan Andy Watung yang dirusak kelompok perusuh, Selasa (16/10) dini hari. (Ist)

JAKARTA- Pihak Polres Jakarta Pusat telah melakukan pengusutan secara teliti terhadap kasus perusakan rumah makan khas Minahasa di kawasan Rawasari, Jalan Jalan Jenderal Ahmad Yani, Cempaka Putih. Petugas telah merekam data CCTV dari halte bus Trans Jakarta untuk menjadi barang bukti.

“Sejak pagi kami sudah memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan bukti perusakan. Dalam waktu dekat kami segera akan melakukan penangkapan terhadap pelaku perusakan, karena itu merupakan tindakan kriminal,” demikian Soleh, petugas dari Polsek Cempaka Putih, Jakarta Pusat kepada Bergelora.com di Jakarta, Selasa (16/10). Malam.

Ia berharap jangan sampai kasus ini berkembang menjadi anarkis dan tidak terkendali.

“Jangan sampai terjadi bias. Biar polisi yang menangani semua ini. Kami tidak akan mendiamkan,” katanya.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, sejak pagi hari kawasan rumah makan Manado di Rawasari tersebut sudah didatangi petugas dari Polres Jakarta Pusat dan Polsek Cempaka Putih.

Sampai malam hari ratusan pemuda Manado sudah berkumpul berjaga-jaga mendiskusikan tindakan apa yang harus dilakukan jika ada penyerangan kembali terhadap rumah-rumah makan Manado di Jakarta. Petugas tetap berjaga sampai dini hari.

Sebelumnya, dua rumah makan khas Manado di Jakarta Pusat itu dirusak massa tak dikenal, Selasa (16/10) dini hari.

Yetty Sofia Watung (50), salah satu pemilik rumah makan Manado Andy Watung bercerita, ketika itu dirinya sudah menutup warung sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah itu, dia hendak berdoa rutin sebelum tidur.

Kendati begitu, kata Yetty, sekitar pukul 02.30 WIB, saat dirinya hendak tertidur pulas, tiba-tiba ramai teriakan orang-orang dari luar yang ingin membakar warung miliknya. Bahkan ia mengakui sempat mendengar ada acaman untuk membunuh dirinya.

"Selesai berdoa mau pulas tidur, tahu-tahu di luar sudah teriak-teriak bakar saja bakar, kalau perlu bunuh saja," kata Sofia.

Sofia mengungkapkan, saat kejadian, ia sempat mengintip dari lantai 2 warungnya. Dia melihat sekelompok orang tak dikenal itu melempari warung milikmya dan membakar kulkas.

Kejadian tersebut, lanjut Sofia, berlangsung sekitar 10 menit. Sebagian dari kelompok orang tak dikenal itu berdasarkan penuturannya tampak mengenakan kopiah dan didominasi oleh anak muda.

"Lebiih dari 10 menit. Mereka rata-rata berpeci terus kebanyakan mereka anak muda mengendarai sepeda motor. Jalan penuh oleh kendaraan mereka," ungkapnya.

Tampak dua rumah makan khas Manado di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Cempaka Putih, mengalami kerusakan akibat penyerangan oleh sekelompok orang tak dikenal.

Rumah makan tersebut yakni Rumah Makan Manado Andy Watung dan Rumah Makan Bunaken. Selain itu juga tampak dua unit kaca mobil yang turut dirusak. Berkenaan dengan itu, Sofia mengaku telah melaporkan kepada pihak kepolisian.

Hasutan Di Media Sosial

Tindakan perusakan tersebut diduga berhubungan dengan kejadian penghadangan pemuda adat Minahasa terhadap seorang pemuka agama asal Manado yang akan pulang kampung di Bandara Sam Ratulangi, beberapa hari sebelumnya. Kepulangannya adalah untuk menghadiri acara agama di Manado.

Penghadangan tersebut akhirnya usai, dan pemuka agama tersebut dikawal oleh para pemuka adat untuk melaksanakan niatnya menghadiri acara agamanya di Manado.

Sementara itu di media sosial beredar hasutan untuk melakukan penyerangan terhadap orang-orang Manado sebagai tindakan balasan terhadap penghadangan di Bandara Sam Ratulangi. Hasutan ini ditulis oleh akun twitter atas nama Bobi Avin di akun facebooknya. Isinya tidak pantas untuk ditulis menjadi berita.

Sudah jelas bahwa ada upaya peningkatan suhu politik dengan mengipas sentimen SARA oleh beberapa kelompok tertentu. Aparat kepolisian diminta tidak diam dan segera bisa mengatasi potensi yang merusak persatuan dan kesatuan NKRI (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh