Hukum
Erik Yunanto sedang melapor ke Kantor Detasemen Polisi Militer XIII/2 SubDetasemen Polisi Militer XIII/2-2 atas penganiayaan yang dia alaminya. Erik Yunanto adalah mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta dan anggota Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND) sedang pulang kampung ke Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. (Ist)

MOROWALI- Seorang mahasiswa jadi korban pengeroyokan oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pengeroyokan itu langsung dilaporkan ke Polisi Militer terdekat. Kasus pengeroyokan ini terjadi Rabu (14/11) sekitar pukul 08.45 pagi. Bermula saat salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta pulang kampung ke Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah.

Erik Yunanto, 23 tahun saat itu melewati pos pengamanan TNI di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi yang  tempatnya tidaklah jauh dari rumah korban. Pos pengamanan ini dibuat untuk pengamanan konflik antar suku di Kecamataan Bahodopi yang terjadi belum lama ini.

Menurut Erik (Korban), Saat itu dia mengendarai motor dari arah Puskesmas Bahodopi hendak pulang kerumahnya. Namun pada saat melewati pos penjagaan tersebut tiba-tiba seorang oknum anggota TNI yang saat itu berada di pos penjagaan berteriak dan langsung menahan korban serta menyuruhnya berhenti.

Korban pun kaget kemudian berhenti menghampiri pos penjagaan. Tiba-tiba 3 orang anggota TNI lainnya yang berada di pos penjagaan itu berdiri mendekati korban dangan wajah marah dan membentak serta mengintimidasi korban.

Salah seorang oknum anggota TNI tersebut bertanya kepada korban mengapa Lewat di samping pos penjagaan (bahu jalan) bukan di atas aspal.

Lalu Erik menjawab bahwa kondisi jalan yang dipasangi batu-batu dan kayu serta jarak antar penghalang satu dengan yang lainnya cukup dekat dibuat seperti polisi tidur. Sehingga korban merasa tidak nyaman dan memilih berjalan dibahu jalan. Ketidaknyamanan ini sangat dirasakan korban karena jalan tersebut hampir tiap hari ia lalui.

Namun penjelasan ini tidak diterima ketiga anggota TNI tersebut dan tiba-tiba mendorong motor korban dan menyuruh korban untuk mundur dan melewati polisi tidur itu. Tapi korban tetap bertahan karena korban yakin bahwa apa yang dilakukannya tidak menyalahi aturan lalu lintas. Korban juga yakin bahwa polisi tidur tersebut tidak sesuai standar lalulintas dan bisa mengakibatkan kemacetan karena jalan tersebut sangat ramai dilalui kendaraan roda 2 dan roda 4 setiap harinya.

Disuruh Push-Up

Adu mulut pun terjadi dan dengan nada yang keras korban di suruh push up namun korban tetap menolak karena korban tetap merasa tidak bersalah.

Tiba-tiba dengan spontan salah satu anggota TNI ini memukul korban di bagian kepala dan menendang sampai korban terjatuh ke tanah.

“Salah satu anggota TNI lainnya mengambil senjata untuk di arahkan ke saya sambil berteriak kamu berani melawan TNI !! “ ujar Erik menirukan kepada Bergelora.com di Morowali.

Bukannya melerai, anggota TNI lainnya yang datang di TKP (tempat kejadian perkara)  justru ikut menganiaya korban. Korban yang sudah tidak berdaya akhirnya berhasil menyelamatkan diri dari pengeroyokan tersebut.

Pukul 21.00 wita Korban melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian tetapi pihak kepolisan tidak mau menerima laporan dan mengarahkan korban untuk menghubungi POM yang ada di wilayah Kabupaten Morowali. Karena jarak kantor POM sangat jauh, akhirnya korban menunda pelaporannya.

Selanjutnya salah satu pimpinan TNI datang menemui korban dan mengajak korban ke posko utama utk menyelesaikan kasus tersebut sekaligus menunggu Dandim Morowali yang saat itu dalam perjalanan dari Kecamatan Bungku Tengah menuju Kecamatan Bahodopi.

Ironisnya, saat tiba di posko utama koban masih terus mendapatkan intimidasi dari salah satu anggota TNI yang ikut melakukan penganiayaan tersebut.

Pimpinan dari TNI berusaha meminta korban untuk berdamai dengan oknum pelaku penganiayaan. Tetapi Korban tetap bertahan dan akan menyelesaikan kasus tersebut melalui proses hukum yang berlaku.

Hingga pada Kamis (15/11) korban atas nama Erik yang juga berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta ini mendatangi Kantor Detasemen Polisi Militer XIII/2 SubDetasemen Polisi Militer XIII/2-2 untuk melaporkan kejadian penganiayaan yang dia alami. Ia menyerahkan bukti visum ke PM dan menerima surat bukti pengaduan bernomor 01/STBL/XI/2018 yang diterima oleh Peltu Margono. dan sebelumnya korban sudah melakukan visum. (Lia Somba)

Add comment

Security code
Refresh