Politik
Kiai Ahmad Muwafiq atau akrab disapa Gus Muwafiq. (Ist)

JAKARTA- Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari beragam suku, budaya, bahasa, bahkan agama. Semua perbedaan itu tidak menjadi konflik, justru melalui perbedaan bangsa Indonesia bisa membangun persatuan di atas naungan Pancasila sebagai kesepakatan bersama. Setiap masyarakat saling gotong royong untuk mewujudkan kehidupan yang harmoni antar satu dengan yang lainnya. Kehidupan yang harmonis ini tak lain merupakan cerminan peradaban yang luhur dan anugerah yang diberikan Allah Swt.

Selaras dengan hal itu, Kiai Ahmad Muwafiq atau akrab disapa Gus Muwafiq mengingatkan agar tidak ada lagi saling tudunh kafir di antara anak bangsa di negeri ini. Hal itu karena istilah kafir adalah istilah untuk orang-orang yang menentang Allah dan memusuhi umat Islam.

“Di Indonesia, tidak ada kelompok yang menyerang atau mengancam umat Islam. Semua hidup rukun meskipun terdiri dari beragam keyakinan,” tegasnya kepada Islamrahmah.co dan dkutip Bergelora.com di Bogor, Sabtu (1/12)

Ia mengingatkan bahwa sebelumnya seluruh umat beragama di Indonesia hidup rukun dan damai menjaga persatuan Indonesia yang diwarisi oleh proklamasi kemerdekaan Indonesia.

“Tidak boleh ada yang menyebut kafir di Indoensia. Kenapa, karena kafir adalah orang yang menentang Allah dan memusuhi kaum muslimin. Kalau sudah hidup bersama dan saling bertanggung jawab maka istilah nya adalah ra’iyah,” tegas Gus Muwafiq dalam ceramahnya pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad di Istana Negara Bogor, (21/11).

Gus Muwafiq menambahkan, para ulama terdahulu telah memberikan istilah untuk masyarakat Indonesia yang hidup harmoni dengan istilah ra’iyah. Istilah itu kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata rakyat. Oleh karena itu, tidak ada lagi kata kafir di Indonesia karena semua masyarakat telah hidup rukun dan masing-masing menjaga keamanan dan kenyamanannya.

“Maka ketika para ulama sudah menyebut kita sebagai sebutan rakyat, jangan lagi kau turunkan derajat ra’iyah menjadi derajat kafir. Maka tidak ada lagi kata kafir di Indonesia,” pungkasnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh