Politik
Wakil Tetap RI di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib dalam forum UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development). (Ist)

JENEWA- Indonesia bekerjasama dengan UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development) dan The Commonwealth telah menyelenggarakan pertemuan “The Digitalization of the Creative Economies: The Case of the Music Industry” pada 4 April 2019 di Jenewa dalam rangkaian e-Commerce Week 2019. Pertemuan ini membahas perkembangan dan potensi musik digital sebagai bagian dari ekonomi kreatif.

Pertemuan bergengsi ini menghadirkan para pakar internasional yang berkecimpung di berbagai sektor ekonomi kreatif, diantaranya Mr. Benoit Muller (Director of Copyright Management Division, WIPO); Mr. Andreas Maurer (Chief, International Trade Statistics Section, WTO), dan Ms. Xenia Iwaszko (Director International Federation of the Phonographic Industry). Sementara pembicara dari Indonesia adalah Irfan Aulia, Managing Director PT. Massive Music Entertainment yang secara khusus berbicara mengenai perkembangan dan potensi musik digital di Indonesia.

Wakil Tetap RI di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, dalam pembukaannya menegaskan bahwa musik digital, sebagai salah satu bentuk ekonomi kreatif, memiliki potensi besar dalam menyumbang pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Disampaikan pula bahwa musik, sebagai budaya, dan teknologi dapat berkolaborasi guna pengembangan kreatifitas pada era digital.

Duta Besar Hasan Kleib juga menambahkan bahwa kontribusi industri musik untuk ekonomi Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2018, kontribusi industri musik pada PDB Indonesia naik 7,59% dari tahun sebelumnya, dan telah menciptakan lapangan kerja bagi 56.000 orang. Namun, perkembangan musik digital sebagai bagian dari ekonomi kreatif juga harus disertai dengan adanya jaminan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual. Untuk itu, melalui kepemimpinan Indonesia di WIPO Committee on Development and Intellectual Property (CDIP), telah disepakati pembahasan hak kekayaan intelektual dan ekonomi kreatif sebagai tema utama sidang CDIP pada sesi Mei 2020, ujar Duta Besar Hasan Kleib.

Indonesia juga mengajak negara-negara PBB, organisasi internasional dan para pemangku kepentingan lainnya untuk mulai bekerjasama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif termasuk di bidang musik digital.

Para pembicara pakar sepakat bahwa industri musik saat ini lebih menguntungkan mainstream music platform daripada pencipta musik atau content creator. Hal ini cenderung menghambat potensi musik digital khususnya di negara-negara berkembang. Para pembicara juga menekankan pentingnya perlindungan hak cipta yang berpihak kepada para musisi.

Sementara itu, Irfan Aulia menyampaikan bahwa dengan prediksi pengguna internet sebesar 175 juta jiwa di tahun 2019 ini, Indonesia memiliki potensi pasar musik digital lebih dari USD 1 miliar. Irfan Aulia juga memperkenalkan sebuah blockchain database bernama Portamento yang saat ini dikembangkan  bersama oleh BEKRAF dan pelaku industri musik Indonesia yang bertujuan untuk melindungi pemilik hak cipta dan memastikan adanya transparansi mengenai royalti dan hak lainnya yang diterima oleh berbagai pihak.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, E-Commerce Week 2019 merupakan forum pertemuan para Menteri, pejabat tingkat tinggi, CEO, organisasi internasional serta akademisi dari sekitar lebih dari 100 negara untuk membahas berbagai tantangan dan potensi ekonomi digital dengan tujuan mencapai pembangunan yang inklusif, merata dan berkelanjutan. (Telly Natalia)

Add comment

Security code
Refresh