Politik
Mayjen TNI (TNI) Saurip Kadi. (Ist)

JAKARTA- Capres Prabowo Subianto ternyata selalu salah memilih kawan, sehingga sering dimanfaatkan orang lain dan merugikan dirinya sendiri. Ini kerap terjadi berulang-ulang sampai saat ini sehingga nantinya akan menanggung akibat kerugian sendiri. Hal ini disampaikan Mayjen TNI (TNI) Saurip Kadi kepada wartawan di sela-sela kegiatan diskusi dengan sejumlah aktivis di Jakarta, Jumat (12/4), ketika ditanya soal kritik tajamnya terhadap Capres Prabowo Subiyanto, teman seangkatannya di AKABRI.

Kepada wartawan Saurip menjelaskan, bahwa dirinya hanya bermaksud meluruskan kekeliruan statemen PS. Karena  PS sejak kecil hingga saat ini tidak pernah menginjak tanah, apalagi dulu sebagai menantu Pak Harto.

“Dia tidak tahu apa yang sesungguhnya yang tergelar dalam kehidupan nyata, tak terkecuali pangkat dan jabatan yang dia raih. Dan satu yang tidak berubah dari dulu hingga saat ini, dia selalu salah memilih teman,” katanya.

Maka ketika belakangan ini ada pembisik yang jujur dan berani menyampaikan fakta yang valid, rasa patriotisme dan nasionalisme PS  tergugah.

“Disitulah dia marah-marah, sampai keluar kata-kata Ibu Pertiwi Tengah Diperkosa’ segala,” katanya.

Ketika dikejar apa yang dimaksud dengan PS selalu salah memilih teman, Saurip balik bertanya bagaimana tidak salah milih teman kalau sewaktu jadi Danjen Kopassus, sebagai Komandan KOTAMA BIN (Komando Utama Pembinaan) yang tugasnya adalah menyiapkan pasukan yaitu melatih dan memupuk jiwa korsa pasukan, sama sekali bukan urusan keamanan. 

“Koq bisa-bisanya berinisiatif melakukan penculikan para aktifis pro demokrasi. Ini bukan kata saya lho ya. Ini pengakuan PS sendiri di depan sidang DKP. Ini semua karena salah pergaulan, tegasnya salah pilih teman", kata Saurip Kadi lagi.

Ia mengingatkan kasus lain beberapa waktu lalu yang menyeret Prabowo Subianto yang berujung kerugian dirinya yang lain

“Kejadian yang sejenis, berulang ketika dia jadi Panglima Kostrad yang juga KOTAMA PEMBINAAN, lah ngapain dia ‘neko-neko’. Tinggal duduk manis saja, niscaya dia lah yang akan ditugasi oleh Pangab untuk memimpin Komando Gabungan, manakala komando sejumlah KODAM sudah lumpuh,” katanya.

Padahal menurutnya kalau dirinya bersabar, kemungkinan dirinya tidak akan jadi seperti saat ini.

"Ini ketentuan baku di TNI dan apalagi untuk tugas-tugas lintas Kotama, tidak ada KOTAMA lain yang berstatus “DISIAPKAN” kecuali Kostrad kok,"  tegasnya.

Dengan gamblang Saurip menjelaskan apa yang dimaksud  PS selama ini hidupnya tidak menginjak tanah, Di bidang Ekonomi umpamanya.

"Saya pastikan PS juga seperti halnya dosen fakultas ekonomi pada umumnya, dikira sejumlah pengusaha yang dibesarkan  oleh mertua bersama ayahandanya sebagai arsitek ekonomi Orba bisa menjadi konglomerat dalam waktu singkat karena mereka bermodalkan pekerja keras semata," jelasnya.

Padahal menurut Saurip Kadi para pengusaha itu memanfaatkan fasilitas negara dan perlindungan dalam bentuk monopoli ekonomi tertentu.

“Bukankah mereka menjadi kaya raya  karena fasilitas serta kemudahan, bahkan proteksi dan sebagian juga monopoli yang diberikan oleh penguasa,” tegasnya.

Paska lengsernya pak Harto, keadaan berbalik. Bila dulu mereka "diternak" penguasa, di era reformasi para Konglomerat justru yang "berternak" penguasa yang dilakukan dengan cara kartel dan juga Oligarki kekuasaan melalui elit Partai.

"Hal ini terjadi karena sistem politiknya memungkinkan terjadinya kedua hal tersebut," tambahnya.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, diantara mereka juga ‘berternak’ Pejabat Tinggi di jajaran birokrasi tak terkecuali di lingkungan TNI dan Polri.  Disanalah maka sebagian elit Birokrasi dan TNI-Polri tak segan-segan  menjadi ‘herder’ tak peduli menyakiti hati rakyat kecil sekalipun, dan setelah pensiun.

“Sebagian dari mereka ditampung dengan berbagai jabatan di perusahaan milik konglonerat hitam. Disanalah state terrorism dan juga capital violence pada sejumlah tempat terjadi,” tegasnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh