Politik
Aristides Katoppo. (Ist)

JAKARTA- Almarhum wartawan Senior Aristides Katoppo pernah diisolasi oleh Orde Baru, setelah Sinar Harapan dibreidel. Ini dilakukan karena walaupun Harian Sore Sinar Harapan sudah dilarang terbit oleh penguasa Orde Baru, Aristides dianggap tetap berbahaya.

"Isolasi dilakukan oleh Ali Murtopo sebagai Pangkokamtib dan Budiardjo selaku Menteri Penerangan. Karena walau sudah dibreidel Tides tetap dianggap melawan Orde Baru," ujar Atmadji Sumarkidjo jurnalis Sinar Harapan dan Suara Pembaruan dalam diskusi “Nurani Jurnalis di Tengah Ketidakpastian” untuk mengenang Aristides Katoppo, salah satu tokoh pers di Indonesia di Jakarta, Jumat (8/11).

Pada 2 Oktober 1965, pemerintahan Presiden Soeharto membredel koran tersebut supaya peristiwa Gerakan 30 September atau G 30 S-PKI tidak terekspos secara bebas oleh media. Namun beberapa hari setelahnya, koran itu diizinkan terbit kembali.

Sahabat dan keluar Aristides Katoppo. (Ist)

Pada 1968, Tides diangkat sebagai redaktur pelaksana Sinar Harapan sampai harian itu kembali dibredel pada 1972 akibat memberitakan anggaran belanja negara yang belum disahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Tides sempat meninggalkan Indonesia selama lima tahun tak lama setelah itu. Ia menghabiskan waktu selama lima tahunnya berguru ke Amerika Serikat untuk belajar di Stanford University.

Ia juga pernah mengenyam pendidikan di Center for International Affairs, Harvard University.

Ketika kembali ke Indonesia, Tides mengajar jurnalistik di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Indonesia. Ia juga menjadi pemimpin redaksi Sinar Harapan sampai ditutup tahun 1986.

Diskusi “Nurani Jurnalis di Tengah Ketidakpastian” untuk mengenang salah satu tokoh pers di Indonesia, Aristides Katoppo. Aristides wafat pada 29 September 2019 dalam usia 81 tahun. Jenazah telah dikremasi dan abunya dimakamkan di TMP Kalibata.

Diskusi ini digelar di Ruang Auditorium, Lantai 2, Perpustakaan Nasional, Jakarta, Jumat (8/11). Acara dikemas serius tapi santai, dengan pemutaran video testimoni, refleksi jurnalistik, pembacaan karya-karya Aristides, pembacaan puisi oleh wartawan dan penyair, Sihar Ramses Simatupang.

Panel diskusi yang dipandu Kristin Samah (Penulis, Suara Pembaruan/Sinar Harapan) menghadirkan sejumlah jurnalis lintas generasi, Bambang Harymurti (Jurnalis Senior Tempo), Atmadji Sumarkidjo (Jurnalis Sinar Harapan/Suara Pembaruan),  Ignatius Haryanto (Pengamat Media), Abdul Manan (Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen Indonesia). Refleksi dalam diskusi ini bertajuk Tides & Jurnalisme yang disampaikan David T. Hill (Pakar kajian media dari Murdoch University).

Sahabat Semua Orang

Aristides Katoppo merupakan sahabat banyak wartawan di Indonesia, ada yang mengenal, terinspirasi dan bersentuhan dengan pemikiran dan bimbingannya. Namun, Aristides juga bersentuhan dengan berbagai kelompok di luar jurnalis, seperti aktivis LSM, lingkungan hidup, hukum, budaya, masyarakat adat, ilmuwan, diplomat dan komunitas lainnya.

Aristides Katoppo yang akrab disapa Bung Tides atau Tides lahir di Tomohon, Sulawesi Utara pada 14 Maret 1938, Tides memulai karier jurnalistik sebagai wartawan di Kantor Berita Biro Pers Indonesia dan kontributor untuk New York Times dan Kantor Berita Associated Press. Pada tahun 1961, Tides ikut mendirikan harian sore Sinar Harapan. Koran ini dikenal berani dan cukup kritis dalam menyoroti kebijakan Negara. Akibatnya koran ini dibreidel sebanyak lima kali di era Soeharto.

Saat mendapatkan izin terbit kembali dengan nama baru Suara Pembaruan, Aristides dilarang duduk sebagai pemimpin redaksi. Pada tahun 2001, Sinar Harapan terbit kembali di bawah kepemimpinan HG.Rorimpandey dan Aristides Katoppo.

Sinar Harapan mengedepankan pendekatan jurnalisme damai dan tetap mengusung visi memperjuangkan kemerdekaan, keadilan, kebenaran, dan perdamaian berdasarkan kasih.

Dalam jurnalisme damai, Tides selalu menekankan berita tidak sekadar cover both side, tetapi all both side. Kalau dari dua sisi semata, maka hanya dua pihak yang berkonflik, berperang atau bertikai yang mendapat perhatian dan selalu ada pihak ketiga yang terlewatkan dan itu biasanya adalah korban.

Jurnalisme damai menuntut wartawan untuk menyajikan berita yang menggugah bukan menggugat, berita yang memberikan harapan, dan menginspirasi  untuk menyebarkan semangat dan harapan, karena selalu ada harapan di tengah ketidakpastian sekalipun.

“Tapi, kok wartawan yang pesimis, Anda yang khawatir dan cemas, lantas mengapa sikap pesimis, khawatir dan cemas itu yang ditularkan kepada pembaca,” kata Tides dalam satu kesempatan.

Kegelisahan dan pemikiran Tides terkait jurnalisme, terutama soal jurnalisme damai dan ancaman kematian jurnalisme di era disrupsi internet, masih relevan, bahkan mungkin makin relevan, dalam situasi politik Indonesia dan internasional saat ini. Bagi Tides, jurnalis harus memiliki 4 N (Nalar, Naluri, Nurani, dan Nyali).

Setelah edisi cetak Sinar Harapan berakhir pada Desember 2015, Aristides menganjurkan kepada wartawan muda Sinar Harapan untuk mengubah platform pemberitaan ke digital melalui www.sinarharapan.net.

Tides mendorong wartawan agar tidak malu belajar dari anak kecil, pelajar SD, SMP dan SMA, karena masa depan jurnalisme ada di mereka. Belajar dari anak kecil itu berarti belajar dari masa depan.

 “Itu merupakan bagian dari belajar dari masa depan. Learn from the future. Kalau Anda mau diterima di masa depan, belajarlah dari anak-anak saat ini,” tutur Tides ketika masih hidup dalam sebuah kesempatan.

Kegiatan yang dimotori Sally Piri, Fransica Ria Susanti, Tutut Herlina dan kawan-kawan dalam “Sahabat Tides” ini juga berkolaborasi dengan SinarHarapan.Net,  The American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF), Katadata.co.id, Fulbright Indonesia dan Anak Bangsa Juara.

“Ada banyak pihak yang membantu kegiatan ini,” tutur Sally Piri. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh