Politik
Upacara Odalan atau peringatan Maha Lingga Padma Buana di Dusun Mangir Lor Kecamatan Pajangan Kabupaten Bantul terpaksa dihentikan, Selasa (12/11/2019). (Ist)

JAKARTA- Ancaman strategis bangsa Indonesia saat ini adalah berkembangnya sentimen kebencian SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) yang terus berlarut-larut. Hal ini menyebabkan permusuhan yang luas di ruang dunia maya. Hal ini disampaikan Romo Benny Susetyo dari Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (18/11).

“Dipihak lain, bangsa ini kehilangan pemimpin yang memiliki wibawa dalam merawat kebhineka tunggal ikaan,” tegasnya.

Padahal menurutnya Indonesia merupakan bangsa dan negara yang Bhinneka Tunggal Ika yang terdiri dari 714 suku, bermacam agama dan etnis yang hidup berdampingan.

“Pendiri Republik Indonesia, Ir. Soekarno menegaskan, Negara Republik Indonesia bukan milik suatu golongan, bukan juga milik suatu agama, bukan milik suku tertentu, dan bukan pula milik suatu golongan adat istiadat. Tapi, milik bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Kenyataannya sekarang sudah lain,” ujarnya.

Romo Benny Susetyo menyoroti masalah kebhineka tunggal ikaan di Indonesia yang semakin dirusak dengan aksi-aksi kekerasan beribadah dan terus terjadi tak bisa dihentikan oleh aparat keamanan.

“Yang terjadi adalah kekerasan demi kekerasan pada kemanusiaan. Didasari dengan anggapan keyakinan sendiri yang paling benar,” ujarnya

Ia mengingatkan, secara politik, Undang-Undang Kerukunan dibuat, tetapi melupakan hal yang mendasar yaitu pendekatan kemanusiaan.

“Politik kekuasaan yang menegakkan hukum membutuhkan visi bersama. Orientasi ini seharusnya lebih diupayakan pemerintah dalam merawat roh Bhinneka Tunggal Ika, supaya menjadi sebuah gugus insting yang mempengaruhi cara berpikir, bertindak, bernalar, dan berelasi terhadap warga Negara,” ujarnya.

Untuk itu menurutnya, nilai-nilai Pancasila harus memandu kehidupan bersama dalam menciptakan tata keadaban publik. Sementara tata keadaban publik menjadi acuan dalam merawat Bhinneka Tunggal Ika.

“Bangsa ini butuh kemauan untuk mengaktualisasikan pilar hidup berbangsa dengan Pancasila dan UUD 1945. Agar Bhinneka Tunggal Ika dalam NKRI menjadi kebijakan yang memberi ruang yang sama bagi anak-anak bangsa ini,” tegasnya.

Odolan Dilarang

Sebelumnya diberitakan, sejumlah orang di Bantul menolak pelaksanaan upacara peringatan Maha Lingga Padma Buana atau Odalan di rumah salah satu warga yang tinggal di sekitar tempat tinggal mereka.

Orang-orang itu menuding upacara Odalan tersebut tidak ada legalitasnya. Namun, umat yang hendak melaksanakan kegiatan mengaku telah melakukan sosialisasi kepada warga sekitar terkait upacara tersebut.

Dalam peristiwa penghentian upacara keagamaan yang digelar Utiek Suprapti di Dusun Mangir Lor, Desa Sendangsari, Pajangan, Kapolres Bantul, AKBP Wachyu Tribudi, ikut mendukung untuk menghentikan upacara tersebut.

Upacara untuk mendoakan leluhur Ki Ageng Mangir yang diikuti puluhan orang dari berbagai agama dan keyakinan tersebut sedianya digelar dua sesi. Namun agenda itu hanya berlangsung satu sesi karena dihentikan polisi dengan alasan demi keamanan dan desakan warga.

“Upacara ini sebenarnya mendoakan leluhur setahun sekali atau istilahnya haul yang rutin digelar sudah ketujuh kali,” kata Ananda Ranu Kumbolo, anak dari Utiek Suprapti

Terganjal Izin

Menurut Nanda, upacara mendoakan leluhur itu sudah rutin digelar dan selalu mengundang tamu dari luar Bantul. Pihaknya juga sudah memberitahukan acara tersebut kepada warga, pengurus RT, hingga kepolisian. Pihak RT 002 juga sudah mengizinkan karena tetangga kanan kiri sudah tidak mempersoalkan.

Namun izin terganjal di pihak dukuh. “Alasannya katanya karena ingin mengayomi masyarakat karena banyak yang tidak setuju,” ujar Nanda.

Utiek Suprapti menambahkan bukannya tidak mau mengurus izin rumah ibadah, namun upayanya selama ini kandas karena tidak mendapatkan persetujuan dari tingkat dukuh. Ia merasa diperlakukan tidak adil.

“Pemerintah memihak kepada warga yang dianggap tidak menyukai tempat dan kegiatan kami. Saya asli sini lahir di sini,” ungkap Utiek. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh