Politik
Poster Megawati Soekarnoputri dan Bun Karno. (Ist)

JAKARTA- Pancasila bisa menjadi kekuatan alternatif menciptakan tata dunia baru yakni humanisme. Hal ini dijelaskan Megawati Soekarnoputri dalam Orasi Ilmiah dengan judul Pancasila, Kemanusiaan dan Post Truth oleh  Megawati Soekarnoputri Presiden ke-5 Republik Indonesia, yang disampaikan dalam Sidang Terbuka Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa Universitas Soka Tokyo, Jepang 8 Januari 2020. Demikian Romo Benny Susetyo dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (10/1).

“Ibu Megawati menjelaskan dengan jelas bagaimana apilikasi Pancasila menjadi tatanan dunia baru yakni kemanusian,” jelasnya.

Hal ini menurutnya penting untuk menjadikan pijakkan dalam menghadapi dunia yang saat ini kemanusiannya direduksi oleh teknologi.

“Penggunaan teknologi secara tidak bijak bisa menghancurkan nilai kemanusian yang universal. Pancasila harus menjadi roh untuk memuliakan kemanusian. Dalam konteks gagasan besar mengenai nilai kemanusia yang adil dan beradab harus menjadi roh kebijakan pembangunan,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri menjelaskan,--Kemanusiaan adalah syarat mutlak perdamaian. Gagasan ini disampaikan Bung Karno, Bapak Bangsa Indonesia pada tanggal 30 September 1960, di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa ke-25, dengan judul To Build The World Anew. Ia mengatakan; “tugas kita bukan untuk mempertahankan dunia ini, akan tetapi untuk membangun dunia kembali.”

“Dunia yang harus dibangun manusia adalah dunia yang bebas dari penindasan, bebas dari kemiskinan, bebas dari rasa takut, bebas secara konstruktif untuk menggerakkan aktivitas sosial, dan bebas mengeluarkan pendapat.”

“Untuk terlibat aktif dalam membangun dunia baru tersebut, setiap bangsa memerlukan suatu konsepsi dan cita-cita, suatu way of life, yaitu ideologi. Ideologi yang baik dan benar adalah ideologi yang selalu berakar, berbatang, berdaun, berbunga, dan berbuah kemanusiaan. Bagi bangsa Indonesia, ideologi tersebut bernama Pancasila (lima prinsip),” ujar Megawati dalam Sidang Terbuka Penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa Universitas Soka Tokyo, Jepang 8 Januari 2020..

Megawati mengingatkan, Bung Karno menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya mengandung makna nasional bagi bangsa Indonesia, sesungguhnya Pancasila juga mempunyai arti universal dan dapat digunakan secara internasional. Sedikit saya uraikan tentang Pancasila.

Pertama, Ketuhanan yang Maha Esa, meliputi manusia yang memeluk berbagai agama dan keyakinan, yang berke-Tuhanan dengan cara beradab, saling menghormati antara pemeluk agama dan kepercayaan mana pun.

Kedua, nasionalisme, yaitu semangat patriotisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup semua bangsa. Nasionalisme dalam Pancasila adalah PERIKEMANUSIAAN.

“Seorang nasionalis cinta kepada bangsanya dan semua bangsa, karena percaya setiap bangsa penting bagi dunia. Prinsip ketiga adalah internasionalisme. Nasionalisme tidak bisa dipisahkan dari internasionalisme. Nasionalisme tidak akan tumbuh dan berkembang tanpa internasionalisme. Maka, internasionalisme sejati adalah wujud dari nasionalisme sejati, yang menghargai dan menjaga hak-hak semua bangsa, baik besar maupun kecil,” tegasnya.

Prinsip keempat adalah Demokrasi Pancasila. Demokrasi Pancasila mengandung tiga unsur pokok, yaitu: Perwakilan, Musyawarah, dan Mufakat. Musyawarah untuk mufakat adalah merupakan suatu upaya yang teguh untuk mencari kesepakatan yang lebih kuat dan lebih baik daripada suatu resolusi yang dipaksakan, yang mengatas-namakan “suara mayoritas”.

“Empat prinsip Pancasila di atas mengerucut pada prinsip kelima, yang merupakan tujuan akhir, yaitu keadilan sosial yang berwajah dan bernilai kemanusiaan. Kemanusiaan yang berwujud dalam adil dan makmur, bebas dari penindasan dalam bentuk apapun, bagi siapapun, di belahan bumi mana pun,” tegasnya.

Megawati menegaskan, Pancasila bisa menjadi sebuah solusi atas fenomena baru yang membahayakan kemanusiaan di abad ke-21 ini, yaitu yang dikenal dengan istilah post truth.

“Post truth adalah suatu kondisi dimana kebenaran sengaja ditutupi hingga tidak relevan lagi. Dalam sosial politik, gejala ini ditandai dengan obyektivitas dan rasionalitas semu. Emosi dan hasrat menjadi prioritas, meski bertolak belakang dengan fakta dan mengabaikan kebenaran,” ujarnya.

Dalam post truth, menurut Megawati, ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya membawa enlightment, justru menjadi alat untuk melakukan penindasan dan melumpuhkan rasionalitas. Kefasihan menggunakan bahasa akademik pun menjadi legitimasi tindak kekerasan, menjadi alat menyebarkan paham-paham yang berupaya menghapuskan kemanusiaan. Kemanusiaan akan hanya menjadi sebuah wacana belaka.

“Kondisi ini akan melahirkan “manusia banal”, manusia yang tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang indah dan mana yang buruk. Manusia seperti ini tidak akan ragu untuk melakukan tindak kekerasan atas nama kebenaran. Kebenaran yang bersandar pada keyakinan pribadi atau kelompoknya saja,” jelasnya.

Prinsip kedua dari Pancasila yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab” adalah nilai yang mampu menjadi tameng dalam menghadapi post truth. Adil dan beradab akan membimbing kita sebagai manusia untuk melakukan fact checking, untuk selalu menuntut kebenaran yang dapat diverifikasi. Hal ini akan menghindarkan kita dari tindakan manipulatif.

“Kemanusiaan yang adil dan beradab lahir dari rasionalitas yang menyatu dengan rasa empati, persaudaraan, dan pembebasan. Kemanusiaan yang adil dan beradab melahirkan politik emansipatoris, politik yang membuka ruang bagi mereka yang terpinggirkan. Itulah keyakinan saya dalam berpolitik, yaitu Politik Kemanusiaan. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Bagi saya kemanusiaan bukan wacana, tetapi suatu tata nilai yang hidup, dan dapat dipertanggung-jawabkan secara moral dan etis,” ujarnya.

Kemanusiaan menurut Megawati akan melahirkan manusia rasional yang bermoral dan memiliki etika, manusia yang benar-benar manusia.

“Genggamlah kemanusiaan dalam hati dan jiwa kita, karena hanya dengan kemanusiaan kita dapat menjadi manusia yang bermakna dalam hidup dan bagi kehidupan. Peluk erat kemanusiaan dalam pikiran, karena manusia yang berpikir dalam kemanusiaan akan hidup dalam kegembiraan dan menjadi manusia yang MERDEKA,” tegasnya. (Web Warouw)

 

Add comment

Security code
Refresh