Politik
Pertemuan Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dengan Presiden Xi Jinping sebelum pegumuman International Emengency oleh WHO beberapa hari lalu. (Ist)

JAKARTA- Observasi pada 238 warga negara Indonesia yang barusan tiba dari Wuhan di Natuna akan berlangsung selama 14 hari atau dua minggu. Menteri Kesehatan Terawan menegaskan bahwa Indonesia harus mematuhi regulasi WHO (World Health Organization) yang menetapkan masa 14 hari observasi karena International Emergency karena wabah Virus Corona.

“Loh, kita semua harus patuh pada regulasi WHO dalam International Emergency. China saja harus mematuhi. Semua negara harus patuh pada regulasi WHO ini 14 hari masa observasi pada pasien yang baru pulang dari China. Kalau tidak akan kena sanksi,” tegas Menkes Terawan di Natuna menjawab wartawan, Minggu (3/2).

Nah, barusan ada kabar bahwa, Amerika Serikat hanya menetapkan 7 hari (satu minggu) masa observasi bagi warganya yang barusan dipulangkan dari China. Apakah Amerika Serikat akan dikenai sanksi? Hal ini dikemukakan oleh Aan Rusdianto, salah seorang pendiri Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) kepada Bergelora.com, Minggu (2/2) sambil mengutip sebuah link berita.

Koq bisa? Aan Rusdianto menjelaskan, bahwa deklarasi Emergency International oleh Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal WHO setelah bertemu dengan Presiden Xi Jinping, membawa konsekwensi, semua negara harus tunduk pada regulasi WHO dimasa Emergency Internasional.

“Dibawah rezim WHO seluruh negara didunia terikat untuk mematuhi WHO. Kecuali Amerika Serikat. Karena WHO itu milik Amerika Serikat. Jadi, dunia dibawah WHO, otomatis dibawah kepentingannya Amerika Serikat. Silahkan bantah, tapi kenyataannya ya ngono,” tegasnya.

Belum kering mulut mantan aktivis yang pernah diculik Tim Mawar Kopassus ini berucap,-- sebuah berita mengejutkan datang dari Amerika Serikat. Setelah penetapan deklarasi WHO tersebut, Sekretaris Perdagangan Amerika Serikat Wilbur Ross secara terbuka mengatakan wabah Virus Corona yang mematikan di China bisa menjadi hal yang positif bagi ekonomi Amerika.

"Ini akan membantu mempercepat pengembalian pekerjaan ke Amerika," katanya dalam sebuah wawancara TV dan dikutip oleh BBC dalam link https://www.bbc.com/news/business-51276323.

Selain itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. mengeluarkan pemberitahuan untuk menaikkan travel advisory tentang Cina ke tingkat peringatan tertinggi, yang saat ini ditempatkan di Irak dan Afghanistan.

Menjawab hal tersebut, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying membuat mengecam sikap Amerika yang berniat mengambil keuntungan dari wabah Virus Corona. Hal ini  dimuat oleh http://www.xinhuanet.com/english/2020-02/01/c_138746460.htm

Hua Chunying  mengatakan, saat ini orang-orang China akan berjuang keras melawan epidemi. China sudah bertindak dengan keterbukaan, transparansi dan rasa tanggung jawab yang tinggi, pemerintah Cina menjaga komunitas internasional termasuk Amerika Serikat dengan informasi lengkap dengan pembaruan tepat waktu dan berbagi data yang relevan.

"Banyak negara telah menawarkan dukungan pada China dengan berbagai cara. Tapi Amerika Serikat bertindak tidak faktual dan tidak tepat," tegasnya dalam http://www.xinhuanet.com/english/2020-02/01/c_138746460.htm

Sementara itu, Rusia percaya bahwa Virus Corona adalah buah konspirasi Amerika Serikat untuk menghancurkan China. Dalam https://www.ccn.com/many-russians-think-america-created-the-wuhan-coronavirus/ menyebutkan berbagai media rusia selama berhari-hari membongkar Virus Corona sebagai senjata biologi buatan Amerika Serikat yang dipakai untuk mensabotase Republik Rakyat China (RRC).

Kedatangan 238 WNI dari Wuhan di Natuna, Minggu (3/2). (Ist)

Igor Nikulin, mantan anggota Komisi Senjata Biologis dan Kimia di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa menyampaikan bahwa serangan Virus Corona di China jelas nampak sebagai sabotase.

“Pertama-tama kota Wuhan yang berada ditengah negara RRC. Sentral semua jalur transportasi. Ditambah sekarang Tahun Baru Imlek - ratusan juta orang Tiongkok akan melakukan perjalanan keliling negara untuk kerabat, kenalan, dan sebagainya,” jelasnya.

Nikulin bahkan lebih gamblang meyakini perusahaan-perusahaan Amerika Serikat telah menciptakan Virus Corona untuk menghasilkan uang dari penanganan wabah ini.

“Ini dapat bermanfaat bagi perusahaan-perusahaan Amerika yang sedang mengembangkan jenis penyakit baru ini untuk mengejar keuntungan. Atau mungkin untuk orang Amerika sendiri, karena Amerika adalah satu-satunya negara yang memiliki 400 laboratorium biologi militer di seluruh dunia. Tidak hanya di sekitar Rusia tetapi juga di sekitar Cina, Malaysia, Indonesia, Filipina. Militer Amerika ada dimana-mana,” tegasnya.

Nikulin bukan satu-satunya orang Rusia terkemuka yang menyuarakan klaim ekstrem ini. Vladimir Zhirinovsky, seorang pemimpin LDPR Rusia, secara terbuka menyatakan bahwa Amerika dapat menyebabkan krisis melemahkan kekuatan ekonomi Tiongkok sambil menghasilkan banyak uang dalam proses tersebut.

“Apoteker akan menjadi miliarder pada tahun 2020, dan semua orang akan dengan cepat melupakan segalanya,” tegasnya.

Melihat semua ini semua, seharus Presiden Xi Jinping menolak Kedatangan Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Karena pertemuan tersebut menjadi fait acompli bagi WHO untuk mengeluarkan deklarasi Emergency Internasional. Secara tidak langsung, keberhasilan WHO bertemu dengan Xi Jinping tersebut telah menjadi  penyerahan kedaulatan seluruh bangsa dan negara pada WHO karena ada wabah Corona Virus di China.

Padahal sudah menjadi rahasia umum, bahwa WHO adalah lembaga yang dikuasai kepentingan Amerika Serikat. Lewat WHO, semua kepentingan Amerika bisa di dikte ke seluruh dunia dalam situasi Emergency Internasional saat ini.

Pelajaran Dari Indonesia

Sebenarnya  kejadian wabah Virus Corona sudah pernah dicoba oleh WHO lewat pandemi Flu Burung di Indonesia pada tahun 2008-2009 lalu. Saat Indonesia sedang berjuang mengatasi berbagai kematian akibat H5N1, tiba tiba WHO mengeluarkan pernyataan bahwa ‘sudah ada penularan virus tersebut dari manusia ke manusia dengan mengambil kasus kematian  di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. WHO menjadikan alasan kematian tersebut untuk mendeklarasikan Pandemi Dunia Flu Burung.

Tapi permainan WHO berhasil digagalkan oleh Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari dengan menolak keras teori dan rencana WHO tersebut.  Bersama beberapa para ahli virologi Indonesia, termasuk termasuk dari Laboratorium Eiykman dan Labaratorium Litbangkes Departemen kesehatan telah berhasil membuktikan secara pasti bahwa tidak ada human to human transmission (penularan virus tersebut dari manusia ke manusia).

“Pembuktian penularan dari hewan ke manusia saja tidak bisa mereka buktikan, apalagi dari manusia ke manusia,” tegas Siti Fadilah saat itu.

Bersama beberapa menteri, Siti Fadilah mengunjungi ke Tanah Karo untuk menunjukkan bahwa tidak ada penularan manusia ke manusia. Dihadapan para menteri dan media massa dan pejabat WHO, Siti Fadilah melepas baju pengaman untuk buktikan bahwa tidak ada penularan seperti yang disampaikan WHO. Dengan demikian rencana WHO  menggunakan isu pandemi Flu Burung untuk menguasai dunia gagal total.

“Bisa dibayangkan kalau WHO sempat mendeklasikan Pandemi Flu Burung dan Indonesia sebagai pusat wabah, maka akan ada isolasi dan embargo terhadap Indonesia. Akan ada pembatasan migrasi dan transportasi. Maka Indonesia akan berada dalam keadaan darurat dan ekonomi pasti mati,” ujar Siti Fadilah saat itu. Perjuangan Indonesia

Rupanya, dari kegagalan Pandemi Flu Burung di Karo, WHO mempelajari dan mengulangi taktiknya di China dengan Virus Korona. Cukup dengan menemui Presiden Xi Jinping sebagai kepala negara yang sedang menjadi pusat wabah Virus Corona,-- maka kedualatan China bahkan dunia sudah  berpindah  ke tangan WHO,--yang membawa kepentingan Amerika Serikat.

Perjuangan bangsa Indonesia melawan Flu Burung, telah ditulis Siti Fadilah sendiri sudah diterbitkan tahun 2009 dalam bukunya yang berjudul, ‘Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung’ dengan edisi bahasa Inggrisnya berjudul “It's Time for the World to Change: In the Spirit of Dignity, Equity, and Transparency : Divine Hand Behind Avian Influenza”. Saat ini sudah tiga tahun, dokter jantung perempuan yang berjuang menyelamatkan rakyat dan bangsa ini menjalani kehidupan dalam penjara,--akibat fitnah busuk pada dirinya.

Selanjutnya, bagaimana wajah dunia dalam Emergency Internasional? Apa rencana Amerika Serikat dan WHO selanjutnya? Mampukah China mengatasi wabah di dalam negeri? Mampukan Indonesia menghadapi jika wabah muncul di dalam negeri? Semua masih tanda tanya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh