Politik
Direktur Jenderal WHO (World Health Organization), Tedros Adhanom Ghebreyesu, (Ist)

JAKARTA- Deklarasi International Emergency (International Health Emergency) oleh oleh Direktur Jenderal WHO (World Health Organization), Tedros Adhanom Ghebreyesu menanggapi epidemi Corona Virus di Wuhan beberapa waktu lalu segera berdampak parah pada ekonomi dunia. Hal ini semakin diperparah dengan pernyataan Amerika yang menutup perjalanan ke China dan pemulangan warga negara Republik Rakyat China (RRC) dari Amerika Serikat. Tindakan Amerika ini diikuti oleh oleh negara-negara sekutunya.

Akibat berdampak pada anjoknya ekonomi global yang lebih cepat ketimbang penyebaran Virus Corona sendiri. Hal ini disampaikan oleh Dr. Widjaja Lukito, PhD, Sp,GK, Staff Khusus Menteri Kesehatan 2006-2009 dalam akun facebooknya dan dikutip Bergelora.com Jumat (7/2) di Jakarta.

“Mari kita cermati dengan seksama seberapa jauh dampak ekonomi dan finansial wabah coronavirus,” ujarnya.

Widjaja Lukito yang sempat menjadi bagian dalam tim diplomasi Indonesia di WHO saat mengatasi Flu Burung pada tahun 2006-2009 di Indonesia ini mengingatkan bahwa deklarasi WHO itu akan berpotensi pada global shutdown.

“Jangan-jangan dampak negatif inilah yang akan jauh lebih dahsyat mematikan daripada corona virusnya sendiri...... que sera sera..... what ever will be will be.... the future is hard to see...... Global Health Emergency = Global Shut Down???,” tulisnya dalam akun facebooknya.

Sebelumnya, kantor berita BBC melaporkan pukulan dari deklarasi International Emergency dari WHO yang mendorong para produsen minyak terbesar dunia yang akan memangkas produksi. Perwakilan dari kartel minyak di OPEC dan sekutunya diperkirakan akan bertemu pekan ini karena seruan untuk bertindak untuk mendukung harga minyak. Biaya minyak mentah telah mencapai level terendah dalam setahun setelah jatuh 20% sejak puncaknya pada Januari.

Mengapa harga minyak global anjlok drastis? Wabah Virus Corona telah menyebabkan perpanjangan masa liburan Tahun Baru Imlek di China dan pembatasan perjalanan. Akibatnya, pabrik, kantor, dan pasar tetap tutup.

Itu berarti importir minyak mentah terbesar di dunia, yang biasanya mengonsumsi sekitar 14 juta barel per hari berkurang karena membutuhkan lebih sedikit minyak untuk menghidupkan mesin, menggerakkan bahan bakar, dan menyalakan lampu.

Wabah ini kemungkinan memiliki dampak besar pada permintaan bahan bakar jet karena maskapai penerbangan di seluruh dunia menangguhkan penerbangan ke China. Pembatasan perjalanan di negara itu berarti penerbangan berkurang drastis.

Bloomberg melaporkan minggu ini bahwa konsumsi minyak mentah harian China telah merosot sebesar 20%, setara dengan kebutuhan minyak Inggris dan Italia jika digabungkan.

Sebagai tanggapan, kilang minyak terbesar di Asia, Sinopec, yang dimiliki oleh pemerintah China, telah memangkas jumlah minyak mentah yang diprosesnya sekitar 600.000 barel per hari, atau 12%, pemangkasan terbesar dalam lebih dari satu dekade.

“Skala penurunan telah mengejutkan industri energi. Kami belum melihat peristiwa perusakan permintaan skala ini yang bergerak secepat ini," demikian analis minyak yang berbasis di Chicago, Phil Flynn

Penurunan tajam dalam permintaan minyak adalah gejala yang jelas dari penurunan aktivitas bisnis di China dan tanda bahwa pertumbuhan ekonomi negara itu, yang sudah berada di level terendah tiga dekade, akan melambat lebih jauh.

China Mesin Pertumbuhan Global

Zhang Ming, seorang ekonom Akademi Ilmu Sosial China, mengatakan wabah itu dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi tahunan negara itu di bawah 5% selama tiga bulan pertama tahun ini.

China adalah ekonomi terbesar kedua di dunia dan mesin utama pertumbuhan ekonomi global. Setiap dampak negatif di China hampir pasti akan merebak di seluruh dunia.

Minggu ini direktur pelaksana Dana Moneter Internasional, Kristalina Georgieva, mengatakan epidemi itu kemungkinan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia setidaknya dalam jangka pendek.

"Kita harus menilai bagaimana mengambil tindakan cepat untuk mengendalikan penyebaran coronavirus dan seberapa efektif tindakan ini,” ujarnya.

Produsen minyak terbesar dunia membahas lebih banyak pengurangan produksi, selain yang sudah ada sejak 2016, untuk mendorong penurunan harga. Pada hari Senin, Iran, sebagai anggota OPEC secara terbuka menyerukan langkah-langkah untuk mendukung harga minyak ketika isu virus corona menekan permintaan.

Pernyataan itu muncul saat dalam sidang OPEC +, yang mencakup Rusia, dilaporkan membahas pengurangan produksi antara 500.000 hingga satu juta barel per hari.

Margaret Yang dari CMC Market mengatakan pasar memperkirakan produksi akan dikurangi 500.000 barel per hari.

"Kami akan melakukan pemotongan yang lebih dalam jika situasinya memburuk," katanya.

30% Bahan Baku Dari China

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa 30 persen bahan baku industri nasional masih diimpor dari China, sehingga ia akan mengantisipasi dampak wabah Virus Corona dengan mempersiapkan subtitusi impor.

“Jadi, komponen bahan baku untuk industri manufaktur yang ada di Indonesia masih harus diimpor dari China sebesar 30 persen. Ini masih kita siapkan untuk subtitusi impornya,” kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Rabu (5/1).

Agus mengatakan Indonesia tidak dapat berasumsi terkait keberlangsungan industri-industri di China, yang kemungkinan akan menurunkan kapasitas produksinya atau bahkan berhenti beroperasi karena wabah Virus Corona.

Untuk itu industri di Indonesia perlu mencari jalan keluar, salah satunya dengan mencari sumber bahan baku dari negara lain atau memproduksi bahan baku tersebut di dalam negeri.

“Tentu ini merupakan potensi bagi Indonesia, khususnya bagi industri untuk menciptakan atau membangun industri-industri yang akan mengisi impor bahan baku dari mana saja termasuk China, itu yang saat ini sedang kita dorong agar neraca perdagangan kita semakin sehat,” ujar Menperin.

Selain mempengaruhi impor bahan baku, Menperin menyampaikan bahwa ekspor produk industri ke China juga akan terpengaruh, karena kemungkinan besar permintaan produk dari China akan menurun.

“Kami asumsikan bahwa permintaannya akan turun akibat Virus Corona, kemampuan daya beli China akan berkurang,” ungkap Menperin.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, kinerja ekspor Indonesia bakal terpengaruh akibat adanya wabah virus corona. Pasalnya, China merupakan salah satu negara utama tujuan ekspor RI.

"Tapi rasanya kuartal I mungkin akan sangat sulit. Dan itu nanti pengaruhnya kepada seluruh dunia termasuk Indonesia dari mulai jalur tourism, harga komoditas, dan ekspor secara umum juga akan terganggu," ujar Ani.

Pelaku dan pengamat ekonomi Erizeli Jely Bandaro melaporkan semua ekspor Ikan ke China terhenti.

“Mau ekspor gimana? pesawat cargo juga dilarang terbang ke China,” ujarnya mengutip pengekspor ikan ke China.

Dalam tulisan yang disebarnya di akun facebooknya, Erizeli mengatakan,--Bukan itu saja,-- industri pengalengan ikan yang biasa mendapatkan ikan beku dari China juga terancam berhenti produksi. Banyak industri yang butuh bahan baku penolong (linked product) dari China, juga sudah mulai kawatir.

“Karena stok mereka rata rata udah menipis. Yang sudah habis stok terpaksa berhenti produksi,” ujarnya.

Belum lagi menurutnya harga komoditas utama Indonesia akan jatuh. Karena China menjadi pemicu harga naik atau turun atas komoditas global. Yang jelas harga minyak sudah duluan anjlok.

Pariwisata yang merupakan industri dengan tingkat tradeble tinggi juga anjlok. Indonesia kehilangan 1,7 juta wisatawan asal China. Hampir semua industri perhotelan dan penerbangan itu dibiayai dari kredit bank.

“Kalau sampai pendapatan menurun itu akan berdampak kepada meningkatnya NPL. Ini akan semakin renta pada ekonomi nasional,” katanya.

Pemerintah berharap penyeimbang menurunnya ekpsor dan dampak dari virus corona adalah kebijakan investasi tahun lalu di sektor property dan kontruksi.

“Yang jadi permasalahan adalah darimana duitnya. Hampir semua BUMN rata rata sudah melewati ambang batas DER, yang sulit menarik dana perbankan. Belum lagi pasar uang regional dan global sedang terpuruk semua, yang tidak mungkin bisa menyerap obligasi korporat,” katanya.

Pelajaran Dari Wabah Flu Burung

Sebenarnya  kejadian wabah Virus Corona sudah pernah dicoba oleh WHO lewat pandemi Flu Burung di Indonesia pada tahun 2008-2009 lalu. Saat Indonesia sedang berjuang mengatasi berbagai kematian akibat H5N1, tiba tiba WHO mengeluarkan pernyataan bahwa ‘sudah ada penularan virus tersebut dari manusia ke manusia dengan mengambil kasus kematian  di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. WHO menjadikan alasan kematian tersebut untuk mendeklarasikan Pandemi Dunia Flu Burung.

Tapi permainan WHO berhasil digagalkan oleh Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari dengan menolak keras teori dan rencana WHO tersebut.  Bersama beberapa para ahli virologi Indonesia, termasuk termasuk dari Laboratorium Eiykman dan Labaratorium Litbangkes Departemen kesehatan telah berhasil membuktikan secara pasti bahwa tidak ada human to human transmission (penularan virus tersebut dari manusia ke manusia).

“Pembuktian penularan dari hewan ke manusia saja tidak bisa mereka buktikan, apalagi dari manusia ke manusia,” tegas Siti Fadilah saat itu.

Bersama beberapa menteri, Siti Fadilah mengunjungi ke Tanah Karo untuk menunjukkan bahwa tidak ada penularan manusia ke manusia. Dihadapan para menteri dan media massa dan pejabat WHO, Siti Fadilah melepas baju pengaman untuk buktikan bahwa tidak ada penularan seperti yang disampaikan WHO. Dengan demikian rencana WHO  menggunakan isu pandemi Flu Burung untuk menguasai dunia gagal total.

“Bisa dibayangkan kalau WHO sempat mendeklasikan Pandemi Flu Burung dan Indonesia sebagai pusat wabah, maka akan ada isolasi dan embargo terhadap Indonesia. Akan ada pembatasan migrasi dan transportasi. Maka Indonesia akan berada dalam keadaan darurat dan ekonomi pasti mati,” ujar Siti Fadilah saat itu. Perjuangan Indonesia

Rupanya, dari kegagalan Pandemi Flu Burung di Karo, WHO mempelajari dan mengulangi taktiknya di China dengan Virus Korona. Cukup dengan menemui Presiden Xi Jinping sebagai kepala negara yang sedang menjadi pusat wabah Virus Corona,-- maka kedualatan China bahkan dunia sudah  berpindah  ke tangan WHO,--yang membawa kepentingan Amerika Serikat.

Perjuangan bangsa Indonesia melawan Flu Burung, telah ditulis Siti Fadilah sendiri sudah diterbitkan tahun 2009 dalam bukunya yang berjudul, ‘Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung’ dengan edisi bahasa Inggrisnya berjudul “It's Time for the World to Change: In the Spirit of Dignity, Equity, and Transparency : Divine Hand Behind Avian Influenza”. Saat ini sudah tiga tahun, dokter jantung perempuan yang berjuang menyelamatkan rakyat dan bangsa ini menjalani kehidupan dalam penjara,--akibat fitnah busuk pada dirinya.

Selanjutnya, bagaimana wajah dunia dalam Emergency Internasional? Apa rencana Amerika Serikat dan WHO selanjutnya? Mampukah China mengatasi wabah di dalam negeri? Mampukan Indonesia menghadapi jika wabah muncul di dalam negeri? Semua masih tanda tanya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh