Politik
Dr Widjaja Lukito, PhD. Sp.GK. (Ist)

JAKARTA- Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kesehatan bisa meminta sampel specimen WNI dari pemerintah Singapura sesuai dengan kesepakatan internasional tentang sharing virus yang berlaku dibidang kesehatan. Hal ini ditegaskan oleh Dr Widjaja Lukito, PhD. Sp.GK, yang pernah memimpin delegasi Indonesia dalam sidang-sidang WHO saat Indonesia menghadapi wabah flu burung di Indonesia tahun 2006-2009.

“Ya, spesimen WNI di Singapura itu bisa diminta dengan menggunakan Material Transfer Agreement (MTA) yang sudah pernah diatur dan disepakati oleh badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization),” ujarnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (10/2) menanggapi Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom, MS, drh, Guru Besar Biologi Molekuler, Universitas Airlangga dari Surabaya, Minggu (9/2), yang mendorong pemerintah untuk segera meminta spesimen WNI yang positif terinfeksi Virus Corona di Singapura.

Dr Widjaja Lukito, PhD. Sp.GK mengingatkan, dalam The Intergovernmental Meeting on Pandemic Influenza Preparedness (IGM – PIP) di Jenewa, Swiss yang berakhir 13 Desember 2008 telah berhasil mencapai kemajuan signifikan. Perundingan IGM yang diadakan oleh WHO itu  telah mencapai 5 kesepakatan.

Mantan Staff Khusus Menkes Siti Fadilah Supari, yang saat itu menjadi wakil ketua Tim Delegasi Indonesia mengutip kesepakatan internasional pada masa Indonesia diserang wabah Flu Burung,-- yang dicatat oleh media dalam https://nasional.tempo.co/read/151407/negara-maju-setujui-benefit-sharing-virus-flu-burung/full&view=ok

Pencapaian utama yang diraih pada IGM ini adalah disetujuinya penggunaan Standard Material Transfer Agreement (SMTA) dalam sistem virus sharing. SMTA adalah dokumen yang akan mengatur semua transfer virus maupun bagian bagiannya yang berbentuk standard dan universal dan mempunyai kekuatan hukum.

Pencapaian kedua, prinsip-prinsip SMTA secara umum disetujui oleh semua negara anggota termasuk pengakuan atas perlunya mengintegrasikan sistem benefit sharing ke dalam SMTA yang telah gigih diperjuangkan Indonesia dengan dukungan negara-negara berkembang lain terutama 11 negara SEARO (South East Asia Regional Organization), Brazil, dan AFRO (African Regional Office).

Sebelumnya terdapat tentangan keras dari Amerika Serikat untuk memperlakukan benefit sharing setara dengan virus sharing.

Tepatnya pernyataan IGM berbunyi : Negara-negara anggota setuju untuk berkomitmen berbagi virus H5N1 dan virus influenza lainnya yang berpotensi pandemi, serta menganggap virus sharing setara benefit sharing sebagai bagian penting dari langkah kolektif demi kesehatan publik secara global.

Kesepakatan ketiga, adalah integrasi prinsip benefit sharing ke dalam SMTA.  Kesepakatan keempat, adanya komitmen negara maju untuk benefit sharing secara  nyata termasuk dalam berbagi risk assessment dan risk response. Dan yang kelima, terwujudnya Virus Tracking System dan Advisory Mechanism untuk memonitor dan mengevaluasi virus dan penggunaannya.

"Bahkan telah disetujui untuk meninggalkan sistim Global Influenza Surveillance Network-nya WHO yang telah berlaku selama 60 tahun dengan mekanisme baru dan nama baru yang mengubah tatanan berbagi virus dalam dunia kesehatan," kata Widjaja lagi. Menteri Kesehatan Siti Fadilah mengusulkan mekanisme baru yang lebih adil, transparan dan setara tersebut dinamakan WHO Influenza Network.

Kewaspadaan Dalam Negeri

Sebelumnya diberitkaan, untuk  memastikan kewaspadaan di dalam negeri terhadap serangan wabah Virus Corona, perlu segera mendapatkan specimen asli warga negara Indonesia (WNI) yang positif terinfeksi Virus Corona beberapa waktu lalu. Specimen yang dibutuhkan adalah sampel darah dan sampel dahak dari pasien WNI tersebut. ini disampaikan Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom, MS, drh, Guru Besar Biologi Molekuler, Universitas Airlangga dari Surabaya kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (9/2).

“Dua-duanyanya perlu. Jadi (sampel-red) darah itu untuk mengetahui lokasi organ atau sel apa yang jadi tempat masuknya virus ke dalam sel. Sampel dahak, selain untuk identifikasi dan isolasi virus, juga digunakan untuk mengetahui kuman apa saja yang terdapat di dahak yang menyertai virus tersebut. Apa mungkin ada kuman lain yang menyebabkan virus tersebut masuk ke dalam sel,” jelasnya.

Ketika ditanyakan apakah perlu untuk memulangkan pasien WNI tersebut ke Indonesia, untuk mengetahui reseptor dalam tubuhnya yang bisa dimasuki oleh Virus Corona, Nidom menjelaskan, “Untuk sementara tidak mungkin (memulangkan-red). Tapi dengan diketahui kuman-kuman lainnya, maka bisa diperkirakan faktor-faktor apa yang menyebabkan WNI tersebut dinyatakan positif.”

“Ini sangat penting buat penelitian labaratorium. Apakah WNI yang disingapura itu mempunya struktur reseptor yang mirip dengan orang-orang Wuhan atau sudah berbeda,” ujarnya.

Profesor bio-kimia dan bio terorisme ini yang pernah bersama Menkes, Siti Fadilah membongkar kasus Flu Burung 2006-2009 ini memaklumi persoalan dan kesulitan memulangkan WNI tersebut dari Singapura ke Indonesia.

“Tidak perlu dipaksakan. Karena memulangkan lebih berisiko. Reseptor bisa dikasih secara tidaka langsung. Bisa (juga didapat-red) dari kerabat atau kajian dari software,” jelasnya.

Profesor dibidang biokimia dan bioterorisme ini menguatirkan ada perubahan-perubahan pada virus dari Wuhan pada tubuh WNI yang berada di Singapura. Ia memastikan Laboratorium Professor Nidom Foundation (PNF) bisa meneliti dan menemukan semua yang dibutuhkan diatas.

“Kalau sudah berbeda atau berubah, apakah virusnya sudah bermutasi sehingga bisa menempel pada orang WNI? Jadi disitu perlu kajian. Oleh karena itu sebaiknya pemerintah RI segera meminta spesimen asli dari WNI yang ada di Singapura itu sehingga kita bisa mengamati lebih lanjut keamanan berikutnya,” tegasnya.

Sebelumnya, Nidom menjelaskan, setiap virus mempunyai spesifikasi reseptor pada host yaitu orang atau hewan. Virus SARS dan MERS sudah diketahui reseptornya secara spesifik, sehingga sehingga pengendalian bisa diketahui.

“Sementara Wuhan Virus ini belum diketahi reseptornya. Oleh karena itu kita berpikir bahwa virus ini hanya menempel pada host tertentu yang memang lebih cocok dengan virus itu. Faktanya dilapangan yang terinfeksi cukup besar itu adalah orang-orang yang berasal dari Wuhan. Termasuk yang di Australia dan di Filipina, mereka dari sana,” paparnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh