Politik
Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Arief Poyuono. (Ist)

JAKARTA- Tenaga dan pikiran mantan Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari dalam menangani berbagai virus mematikan sangatlah diperlukan, tidak terkecuali dalam menghadapi ancaman wabah virus novel corona. Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) pun diminta segera membebaskan Siti yang kini masih mendekam di Rutan Pondok Bambu.  Hal itu ditegaskan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono.

“Fadilah 5 tahun berpengalaman menghadapi Flu Burung pada tahun 2006-2009. Segera bebaskan dia agar bisa membantu Presiden Jokowi dan Menkes,” kata Arief Poyuono di Jakarta, Selasa (11/2) menanggapi pernyataan Siti Fadilah membantah WHO yang menuduh Indonesia tidak mampu mendeteksi virus Corona, dimuat http://rri.co.id/post/berita/785415/politik/corona_mengancam_waketum_gerindra_minta_mantan_menkes_dibebaskan.html

Arief Poyuono mengaku yakin bahwa semua pernyataan Siti yang membantah WHO benar adanya, bahwa Indonesia tidak perlu mengikuti WHO dan Amerika Serikat yang mengisolasi China. Sebab menurut dia, Siti merupakan orang yang sangat ahli di bidang kesahatan.

“Siti Fadilah itu ahli dan mantan menkes. Walau dalam penjara dia masih punya perhatian terhadap nasib rakyat Indonesia. Sudah seharusnya dia diberdayakan bersama ahli yang lain,” tegasnya.

Tuduhan WHO Tidak Benar

Kepada Bergelora.com dilaporkan, sebelumnya, beberapa negara menuduh Indonesia tidak mampu mendeteksi virus Corona, karena sampai saat ini belum ada kasus pasien virus Corona di Indonesia. Tuduhan ini tidak benar karena tidak ada dasarnya. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Kesehatan 2004-2009, Siti Fadilah Supari di Jakarta, Selasa (11/2).

“Tuduhan itu tidak benar. Saya yakin Indonesia mampu mendeteksi virus Corona. Karena Indonesia memiliki banyak ahli yang mampu. Jadi kita gak perlu takut. Kalau dinyatakan belum ada yang karena memang belum ada temuan kasus virus Corona di  Indonesia,” tekan Siti dari Pondok Bambu, Jakarta.

Siti Fadilah mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan dan beberapa ahli virus saat ini pasti sedang bekerja keras memastikan tidak ada pasien virus Corona. Karena ini adalah persoalan keselamatan seluruh rakyat Indonesia.

“Ada Prof. Sangkot Marzuki, ada Prof. David Mulyono dan Prof. Nidom dan ada banyak lagi ahli yang berpengalaman dibidang virologi dan microbiologi,” imbuhnya.

Siti mengatakan bahwa laboratorium Indonesia juga cukup berpengalaman selama ini dibidang penyakit menular, sehingga untuk memastikan virus Corona, tidak terlalu sulit.

“Laboratorium di Indonesia lengkap. Ada Laboratorium Eijkman, ada laboratorium Balitbangkes, ada laboratorium Universitas Airlangga. Ada labotaorium Universitas Indonesia. Lewat uji klinis dan dengan tes PCR (Polymerase Chain Reaction) virus Corona sudah akan terdeteksi” urainya.

Lebih lanjut Siti Fadilah menceritakan pengalaman saat dirinya menjabat sebagai Menkes RI. Dimana sempat terjadi wabah Flu Burung (H5N1) yang notabene lebih mematikan ketimbang corona. Saat itu, para ahli dan laboratorium Indonesia bisa mendeteksi dan mengatasi wabah yang sempat merebak di Indonesia.

“Flu burung saja yang lebih mematikan bisa dulu kita hadapi, apalagi virus Corona. Jadi yakinlah, bahwa memang belum ada virus Corona di Indonesia. Menkes Terawan pasti bisa memimpin kita menghadapi ancaman virus Corona,” beber Siti.

Menurut Siti Fadilah, pemerintah dan masyarakat tidak perlu panik dengan tuduhan tersebut.

“Karena orang Indonesia sendiri memiliki daya tahan tubuh lebih kuat. Ini sudah dibuktikan waktu menghadapi Flu Burung H5N1,” lanjut Siti.

Tentang kekuatiran WHO, Siti Fadilah menegaskan agar pemerintah RI tidak perlu takut dengan tuduhan tersebut.

“Pemerintah dan rakyat Indonesia gak perlu takut dengan kekuatiran WHO yang tidak berdasar tersebut. Masak karena tidak melapor, mereka bisa menyimpulkan kita tidak mampu. Yang bener aja,” tambah Siti.

Ditekankan Siti lagi, sudah saatnya pemerintah Indonesia menyatakan mencabut semua travel ban terhadap China dan kemanapun. Karena kebijakan itu justru menimbulkan kerugian sebesar Rp 11 Triliun per minggunya.

“Pimpinan WHO sendiri sudah merevisi pernyataannya bahwa Global Health Emergency itu bukan berarti pembatasan travelling. Jadi gak perlu takut untuk bepergian,” pungkas Siti. (Enrico N. Abdielli)

Add comment

Security code
Refresh