Politik
Presiden Trump Marah Besar Pasien Corona Dibawa Pulang ke Amerika Serikat
JAKARTA - Ini pelajaran bagus bagi para antek dan pengagum Amerika di Indonesia. Agar jangan lagi bermimpi akan mendapatkan bantuan dan kerjasama dari Amerika Serikat. Berbeda dengan perlakuan Presiden Xi Jinping yang mengirim pesawat menjemput pulang seluruh warganya yang berada diberbagai negara,---Presiden Trump justru geram karena 14 warga Amerika yang dites positif virus corona dibawa pulang kembali ke Amerika Serikat (AS) hari minggu lalu. 
 
Hal ini diungkap dua pejabat senior pemerintahan AS. Pemulangan itu mengejutkan presiden dan membuktikan 'germ-phobia" pada dirinya. Edward Wong dan Katie Rogers melaporkan pada The New York Times, Sabtu (22/2) di Washington, Amerika Serikat.Edward Wong adalah koresponden diplomatik dan internasional yang telah bekerja untuk The Times selama lebih dari 20 tahun. Katie Rogers adalah koresponden Gedung Putih di biro Washington, yang meliput dampak budaya pemerintahan Trump pada masyarakat Amerika.
 
Di antara penumpang di kapal pesiar Diamond Princess yang diterbangkan kembali adalah 14 warga Amerika yang dites positif terkena virus. Langkah itu membuat Presiden Trump marah. (Ist)
Dalam laporan yang dimuat ulang Bergelora.com di Jakarta, Minggu (23/2) disebutkan pejabat Departemen Luar Negeri AS memutuskan untuk membawa kembali warga, yang telah dikarantina di kapal pesiar Diamond Princess di Jepang, setelah berkonsultasi dengan pejabat senior di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan. Tetapi para pejabat di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit keberatan, khawatir penumpang, di antara ratusan orang Amerika yang dievakuasi, dapat menyebarkan virus. Para penumpang telah tiba di Amerika Serikat pada hari senin.
 
Presiden Trump, yang geram karena tidak diberi informasi tentang orang Amerika yang dites positif, menyampaikan kemarahannya kepada Alex M. Azar II, Sekretaris Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan dan pejabat tinggi lainnya. Mereka kemudian memberi tahu gugus tugas antar lembaga Gedung Putih tentang virus corona, yang diawasi oleh Azar. 
 
Seorang pejabat mengatakan bahwa Trump mememilih menutup perbatasan bagi orang yang terinfeksi sebagai hal yang penting untuk menjaga negara agar tetap aman
 
Tadinya, pemulangan pasien Corona warga AS dimaksud untuk meningkatkan elektabilitasnya kembali. Trump memperhatikan dengan seksama liputan televisi Fox kapal pesiar Diamond Princess dari pesawat Air Force One yang ditumpanginya.
 
Kata-kata reaksi Trump sudah mulai beredar di kalangan pejabat pada Selasa pagi. Washington Post dan Politico pertama kali melaporkannya pada hari Jumat lalu.
 
Dulu pada 2014, selama krisis Ebola di Afrika, Trump, yang saat itu sebagai warga negara biasa pernah menuntut agar pemerintahan Obama membatalkan penerbangan dan melarang siapa pun yang terinfeksi virus memasuki AS,--- termasuk pekerja medis Amerika yang telah pergi ke Afrika untuk menolong pasien Ebola.
 
"JAUHKAN MEREKA DARI SINI!" Trump menulis dalam tweet 31 Juli setelah mengetahui bahwa seorang pekerja medis Amerika akan dievakuasi ke Atlanta dari Liberia.
 
"Amerika Serikat tidak dapat mengizinkan orang yang terinfeksi EBOLA kembali," tulis Mr. Trump di Twitter pada hari berikutnya, seraya menambahkan: "Orang-orang yang pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk membantu itu hebat, tetapi harus menanggung akibatnya sendiri!" Katanya.
 
Setidaknya ada 634 pasien dengan dua kematian di kapal pesiar Princess Diamond, yang dirawat petugas Jepang selama dua minggu di sebuah pelabuhan di Yokohama. Upaya karantina dilakukan karena penyebaran virus yang cepat di antara penumpang. Penumpang  di kapal itu adalah konsentrasi terbesar dari kasus Corona di luar China. Hal ini sudah diumumkan oleh lembaga kesehatan dunia WHO
 
Pejabat Amerika memulai prosedur evakuasi  Minggu malam pada 328 penumpang di kapal pesiar itu. Semua telah diperiksa oleh para ahli medis Amerika dan tidak menunjukkan gejala Corona. Hal ini disampaikan Dr. William Walters, Direktur Pelaksana Kedokteran Departemen Luar Negeri AS dan Dr. Robert Kadlec, Asisten Sekretaris untuk Kesiapsiagaan di Departemen Kesehatan AS dalam, sebuah konferensi pers.
 
Tetapi ketika para penumpang itu diangkut dengan bus ke Bandara Haneda di Tokyo Senin pagi, para pejabat Jepang mengatakan kepada rekan-rekan Amerikanya bahwa tes laboratorium untuk 14 penumpang telah kembali positif, kata Dr. Walters. Tes telah dilakukan dua hingga tiga hari sebelumnya, tetapi para pejabat Amerika, percaya bahwa hasil akan "tidak dapat diprediksi" karena volume pengujian yang dilakukan di Jepang, dan melanjutkan evakuasi tanpa memiliki semua hasil yang pasti.
 
Dr Walters mengatakan para penumpang Amerika telah dites positif atau yang menunjukkan gejala telah dikirim ke rumah sakit di Jepang.
 
Ia menjelaskan, setelah mereka mengetahui bahwa 14 penumpang telah dinyatakan positif, para pejabat Amerika memutuskan bahwa seluruh kelompok yang ditetapkan untuk meninggalkan Jepang harus diperlakukan sesuai dengan protokol untuk para pengungsi. Itu berarti terus mengangkut orang-orang yang dites positif tetapi menempatkan mereka dalam isolasi - di dalam lembaran plastik setinggi 10 kaki,-- di bagian belakang dua pesawat yang menerbangkan mereka kembali ke Amerika Serikat.
 
Pesawat mendarat di Pangkalan Angkatan Udara Travis di California dan Pangkalan Angkatan Udara Lackland di Texas. Sebagian besar dari 14 penumpang yang dites positif kemudian diterbangkan ke Omaha untuk perawatan dan pemantauan oleh para ahli di Universitas Nebraska.
 
kemudian para pejabat Jepang telah memberi tahu para pejabat Amerika bahwa beberapa penumpang lain di antara 328 yang dibawa pulang juga dinyatakan positif mengidap Corona. 
 
Pada hari Jumat, para pejabat Amerika mengatakan setidaknya 34 orang di Amerika Serikat mengidap virus Corona. Semua 34 kasus telah dihubungkan dengan perjalanan ke luar negeri. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda penyebaran virus di masyarakat  Amerika Serikat.
 
Sementara itu, Departemen Luar Negeri secara ketat memantau warga Amerika di atas kapal pesiar Westerdam di Kamboja, serta warga Amerika yang telah turun dan berada di hotel-hotel di Phnom Penh, ibukota Kamboja. 
 
Orang-orang Amerika itu diperkirakan akan melakukan melanjutkan perjalanan mereka. Seorang wanita Amerika berusia 83 tahun dari kapal melakukan perjalanan ke Malaysia dan dinyatakan positif terkena virus corona.
 
Walters mengatakan pada hari Senin bahwa 92 warga Amerika masih berada di atas kapal Westerdam, sementara 260 lainnya berada di hotel-hotel di ibukota Kamboja. Sekitar 300 warga Amerika telah meninggalkan negara itu, tetapi "hanya setelah pengujian oleh kementerian kesehatan Kamboja," katanya.
 
Ketika ditanya apakah Amerika Serikat berpikir untuk mengatur penerbangan evakuasi bagi ratusan orang Amerika di Kamboja atau di tempat lain, Dr. Walters tidak memberikan kepastian. Dia mengatakan Departemen Luar Negeri masih mengamati  kesehatan warga Amerika di tempat-tempat di mana virua corona mewabah. (Web Warouw)
 

Add comment

Security code
Refresh