Politik
Situasi di Beijing, saat China diserang Corona. (Ist)
JAKARTA- Hari ini, Senin 2 Maret 2020, Presiden Jokowi dan Menteri Terawan mengumumkan 2 kasus pertama di Indonesia. Seorang  ibu dan anaknya yang tinggal di Depok dinyatakan positif Corona. Setelah  3 bulan Indonesia bertahan sebagai negara bebas corona semenjak outbreak di Wuhan China.
 
Sekaranglah saatnya Indonesia serius belajar bagaimana China menghadapi Corona. Ada benarnya pesan, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China! Demikian haditz nabi Muhammad SAW,--- yang ternyata bukan sekedar pesan untuk umat Islam saja, tapi untuk seluruh bangsa di muka bumi. 
 
Hal ini semakin nyata setelah virus Corona merebak di Wuhan, Provinsi Hubei, China ini. Dunia menjadi saksi pertempuran politik dan modern yang dilancarkan  RRC mematahkan dan menutup penyebaran virus Corona di China bahkan ke seluruh dunia.
 
Salah satu yang penting dipelajari saat ini adalah cara China memenanangkan setiap pertempuran di berbagai front melawan virus Corona.  Cara ini mengingatkan kembali kekuatan Strategi 'Protected People's War',-- Perang Rakyat Jangka Panjang,-- yang dulu berhasil mengusir Jepang dan kaki tangan kolonial lainnya. Sehingga kemudian rakyat China bisa memenangkan Revolusi Demokratik dan mendirikan negara rakyat bernama Republik Rakyat China yang diproklamasikan oleh Mao Tse Tung pada 1 Oktober 1949.
 
Amerika Serikat saja, sebuah negara adidaya polisi dunia berkali- kali gagal melawan flu biasa yang berkali-kali menyebabkan puluhan ribu kematian masing- masing ditahun 2009, 2012 dan terakhir 2019 lalu.
 
Situasi d depan Lapangan Tiananmen, Beijing, saat China diserang Corona. (Ist)
Qua Vadis WHO
 
Badan Kesehatan Dunia WHO saja berkali-kali dan sekali lagi gagal melawan wabah penyakit dari flu babi di Mexico kemudian di Eropa dan flu biasa di Amerika Serikat. Di Indonesia, saat wabah Flu Burung menyerang, WHO bahkan beberapa kali salah mendiagnosa dan akhirnya batal mengumumkan pandemi dunia flu burung, setelah diblejeti kekeliruannya oleh Menteri Kesehatan RI 2004- 2009, Siti Fadilah Supari.
 
Hari inipun, WHO tidak bisa menahan penyebaran virus Corona yang sudah di luar China ke 53 negara lain dan hanya bisa berharap pada China sambil memuji muji  efektivitas pemerintah China dalam memenangkan pertempuran di dalam negerinya. 
 
Komentar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus beberapa waktu lalu terhadap semua itu mengejutkan dunia. Tedros mengatakan bahwa wabah besar dan perang epidemi hebat adalah ujian besar bagi suatu negara. Saat terakhir mengunjungi China, Tedros hanya bisa memuji pemerintah China yang berhasil dengan  tekad politik yang kuat mengambil langkah-langkah tepat waktu dan efektif dalam menghadapi wabah Corona.
 
"Sangat menakjubkan," demikian Tedros saat itu. 
 
Ia mengatakan, respon China pada wabah Corona memiliki keunggulan institusional dan layak dipelajari semua negara. Pernyataannya jelas membuat negara-negara Barat sangat tidak bahagia. 
 
Tedros menggarisbawahi, Pertama, pemerintah China dalam memerangi Corona telah menunjukkan tekad politik yang kuat. Kedua, kepemimpinan nasional China telah memperlihatkan kepemimpinan yang luar biasa kuat. Ketiga, ilmuwan China telah menunjukkan kemampuan luar biasa. Tedros menyatakan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada China karena perjuangan melawan wabah Corona tidak hanya melindungi rakyat China , tetapi juga rakyat sedunia.
 
Tedros juga menyoroti lebih spesifik pada kemampuan kecepatan tindakan pemerintah China dengan lingkup skala besar, yang menurutnya jarang terjadi di dunia. Sebagai pemimpin organisasi antar-negara kelas dunia, untuk pertama kalinya dalam tujuh puluh tahun, seseorang mengatakan ini dengan jelas, "Ini adalah keunggulan sistem China dan pengalaman ini patut dipelajari  negara lain." 
 
Wow! Ini adalah peristiwa yang memekakkan telinga orang lain yang masih kepala batu ogah belajar dari pengalaman China! Entah bagaimana perasaan mereka yang dipenuhi kedengkian rasisme. Lebih menarik lagi, Tedros memperjelas bahwa WHO bersikeras untuk membuat penilaian ilmiah dan faktual mengenai situasi wabah di China untuk melawan semua reaksi berlebihan dan penyajian berita yang bukan kenyataan.
 
*Protected People's War*
 
Sebuah analisis dari barat bahkan menyebutkan, enam keunggulan sistem kerja praktis yang dimiliki China. Sistim ini mencerminkan strategi Protected People's War itu.
 
Pertama, ada tujuan bersama menyatukan segenap rakyat China yang sebelumnya sudah terbukti dalam beberapa dekade terakhir menuju kesejahteraan bersama.
 
Kedua, ada tim penguasa yang berhasil mengarahkan semua kekuatan elit nasional terlibat melayani rakyat.
 
Ketiga, ada pemimpin terpercaya yang menjadi sentral bagi 1,4 miliar orang China seperti lingkaran galaksi yang konsentris dan super kohesif. Wuhan pernah merilis lagu "Lingkaran Konsentris", yang menjiwai seluruh rakyat China
 
Keempat, memori sejarah sebagai bangsa yang pernah  dipermalukan selama ratusan tahun, sehingga setiap kali krisis melanda,--  membangkitkan energi yang luar biasa. Sama seperti  lagu kebangsaan China, 'March of Volunteer' pun demikian rasanya saat dinyanyikan. 
 
Kelima, semua partai politik di China yang lahir dari darah dan api perjuangan nyata memiliki satu jiwa bertahan setiap kali datang bahaya. Semua partai selalu maju ke depan mendahului prajurit, memberi teladan. 
 
Keenam, semua kekuatan teruji berjuang mengejar modernisasi manajemen negara dan siap bergabung dengan masyarakat dunia. 
 
Singkat kata, sistem yang dimiliki rakyat China adalah sistem inovasi yang unik. Yang 1,4 miliar orangnya tidak saling mengunjung pada tahun baru kemarin. Jutaan orang terisolasi dalam kota tertutup dan terlayani kebutuhannya oleh relawan berbasis dewan-dewan rakyat sampai tingkat lingkungan tempat tinggal. Lima juta orang terpantau keberadaannya. lebih dari 6.000 dokter bergegas ke Wuhan. Lebih dari 2 miliar dana pencegahan wabah dengan cepat tersedia. Lebih dari 20 provinsi mendukung Wuhan dan pasokan kelengkapan medis dipindahkan dari segala arah. Hubei menyiapkan 100.000 tempat tidur khusus dan 10.000 untuk Wuhan. 
 
Negara mana yang bisa melakukannya dengan cepat? Hanya China dan hanya sistem China. Titik balik akan mereka tunjukkan saat Festival Lentera, dan hari peringatan mengatasi wabah akan datang!
 
China telah membuktikan dua kali kebenaran politik Persatuan Nasionalnya bukan demagogi kosong karena seluruh rakyat satu tekad bersatu. Pertama, saat revolusi demokratik 1949.
 
"Membabaskan Rakyat China yang selama ratusan tahun dianggap sebagai bangsa pesakitan"-- demikian Mao Tse Tung menyebutkannya dalam pidato proklamasi 1949 saat itu.
 
Yang kedua, tergambar dari kesaksian seorang jurnalis yang menceritakan diskusinya bersama kekasihnya di China. Kekasihnya yang pengusaha ikan itu menjelaskan bahwa, berbagai serangan penghancuran pada China, dari isu Uygur, kerusuhan Hongkong, Trade War sampai Corona dan entah apalagi nantinya,-- adalah perang ideologi yang memang tidak terdamaikan.
 
"Apakah kami rakyat China punya pilihan lain selain bertahan? Menurut Tzun Tsu, pertahanan terbaik adalah menyerang,-- dan kami pasti menang!" (Web Warouw)
 
 
 
 
 
 

Add comment

Security code
Refresh