Politik
Prajurit TNI dan Polri bersama tenaga kesehatan adalah garda terdepan menyelamatkan rakyat menghadapi wabah Corona. (Ist)

JAKARTA – Sekretaris Jenderal Dayak International Organization (DIO) Dr Yulius Yohanes, M.Si, mengatakan, kualitas penanganan Corona Virus Disease-19 (Covid-19) sekaligus menguji tingkat kemampuan pertahanan Indonesia.

“Dalam kondisi darurat sekarang, tidak boleh lagi saling menyalahkan. Jangan alergi dengan Kementerian Pertahanan. Jangan alergi dengan Tentara Nasional Indonesia. Jangan pula alergi dengan Polisi Republik Indonesia. Karena tiga institusi inilah berada di barisan paling depan dalam mendukung tugas tim medis sipil untuk menghentikan penularan Covid-19,” kata Yulius Yohanes, Selasa, 24 Maret 2020.

Yulius Yohanes, menanggapi pengamat Intelijen dan Pertahanan Universitas Indonesia, Dr Connie Rahakundini Bakrie, agar sudah mulai dipikirkan pemberlakukan Status Darurat Militer, sebagai tindaklanjut Status Darurat Penanganan Covid-19 sejak 29 Februari 2020 sampai 29 Mei 2020.

“Pengendalian hingga penghentian penularan Covid-19 sudah menyangkut reputasi Bangsa Indonesia di mata masyarakat internasional. Semakin banyak korban meninggal dunia, menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres di dalam tugas koordinasi penanganan Covid-19 di Indonesia,” ungkap Yulius Yohanes, Sekretaris Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura, Pontianak.

“Terutama dalam kaitan pengoptimalan peran terintegrasi Desk Chemical, Biological, Radiologycal, Nuclear and Explosives (CBRN-E), atau Desk Kimia, Biologi, Nuklir dan Bahan Peledak Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), sekaligus menguji tingkat kemampuan pertahanan Indonesia di dalam memberantas Covid-19,” tambah Yulius Yohanes.

Yulius Yohanes, mengatakan, pengoptimalan kemampuan Desk CBRN-E Kementerian Pertahanan, Desk CBRN-E TNI dan Deks CNRN-E Polisi Republik Indonesia (Polri), Desk CBRN-E Badan Intelijen Negara (BIN), Desk Badan Intelijen Strategis Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (BAIS TNI-AD), mendukung tugas medis sipil, menjadi kunci sukses di dalam menanggulangan Covid-19.

Menurut Yulius Yohanes, suka atau tidak suka, penanganan penyebaran Covid-19 adalah perang melawan virus. Dalam banyak kasus, membuktikan, virus sebagai daya dukung utama di dalam penggunanaan senjata pemusnah massal, Weapon of Mass Destruction (WMD).

Data penyebaran Corona per 24 Maret 2020. (Sumber: covid19.bnpb.go.id)

Dalam penanggulangan WMD, seperti Covid-19, maka keberadaan Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) menjadi sangat penting melalui peran terintegrasi di dalam Desk CBRN-E.

Ketua Bidang Peradilan Adat dan Hukum Adat Dewan Pimpinan Pusat Majelis Hakim Adat Dayak Nasional (DPP MHADN), Tobias Ranggie, mengatakan, melihat realitas penularan Covid-19, tidak bisa dipungkiri pada akhirnya ada niat melemahkan suatu negara pesaing dengan cara lain tak pernah surut. Ini menyangkut supremasi dan masa depan suatu bangsa. Dicemaskan adalah bila wabah virus Corona (Covid-19) jadi bahan inspirasi perang biologi.

Wabah Covid-19 mulai Desember 2019 di Provinsi Wuhan, Provinsi Hubei, Cina Tengah, menimbulkan akibat luar biasa. Selain Cina, lebih dari 100 negara terpengaruh baik karena penduduknya terinfeksi maupun ekonominya rusak.

Wabah Covid-19 berdampak luas karena berpusat di negara yang peringkat ekonominya kedua terbesar di dunia. Produknya pada 2018 mencapai US$9.732 triliun. Produk-produk Cina mengalir ke-65 negara dan menerima produk-produk dari 33 negara.

Menurut Tobias, dengan banyak negara yang terkait, maka dengan sendirinya wabah virus menganggu kelancaran produksi, investasi, perdagangan bahkan kesejahteraan rakyat. World Economic Forum dalam laporannya menyatakan, pertumbuhan ekonomi Cina diperkirakan turun dari 1,5 % pada kuartal pertama 2020.

Permintaan global atas minyak mentah sangat terpukul dan diperkirakan berkurang 435 ribu barel pada kurun waktu yang sama. Banyak pabrik di seluruh dunia ditutup karena pelambatan arus produk dan perkakas dari Cina.

Produsen otomotif hingga komputer merugi. Bisnis retail kacau. Puluhan juta orang masih berada di lusinan kota Cina yang ‘ditutup’.  Negara-negara lain memperpanjang pembatasan larangan mengunjungi Cina.

China Travel Guide 2019, terdapat 70 bandara internasional di Cina yang berhubungan dengan lebih dari 60 negara. Sebagian besar kota-kota di dalam negeri dihubungkan dengan kereta api berkecepatan tinggi. Kota dan desa terkoneksi dengan jalan bebas hambatan.

Dewasa ini, menurut laman itu, Cina mempunyai industri hiburan, budaya dan katering berkualitas tinggi. Tersedia 300 ribu hotel untuk wisatawan. Makin banyak pemandu wisata yang menguasai paling sedikit satu bahasa asing.

Turisme menjadi salah satu sumber pendapatan. Pada festival musim semi tahun 2019, jumlah wisatawan mencapai 4,15 juta atau naik 7,% dari tahun sebelumnya. Total pendapatan 513,9 miliar yuan, naik 8,2% dari tahun 2019.

Jumlah turis Cina yang piknik pada kuartal pertama tahun 2019, menurut Dinas Migrasi Nasional, berjumlah 6,311 juta. Bertambah 12,48% dari tahun 2018. Setiap wisatawan Cina menghabiskan sekitar 7.000 yuan bila mengadakan lawatan ke luar negeri. Kota-kota yang banyak dikunjungi adalah London, Paris, Dubai, Okinawa, Kyoto, Osaka, Nagoya, Singapura dan Fukuoka.

Kekacauan di sektor pariwisata adalah salah satu contoh jelas dari dampak wabah Covid-19. Implikasi yang ditimbulkan amat panjang dan beragam karena membentang dari rangkaian hotel hingga UMKM penjual cenderamata.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional, International Civil Aviation Organization (ICAO) memperkirakan akibat pembatalan penerbangan, maskapai penerbangan global akan kehilangan pendapatan antara US$4 hingga US$5 miliar dalam kuartal pertama tahun ini. Kemerosotan pendapatan ini akan mempengaruhi pembayaran cicilan maupun utang pokok dan memperlambat produksi pesawat terbang.

Banyak negara akan mengalami resesi hanya karena wabah dari mahluk yang bernama virus. Ukurannya lebih kecil dari bakteri dan bisa berkembang biak bila tinggal pada mahluk lain seperti hewan. Kemudian pindah ke manusia dan selanjutnya dari manusia ke manusia. Virus bisa dipelihara bahkan dimodifikasi agar mampu membunuh mahluk hidup atau melemahkan daya tahan mahluk hidup.

Virus diambil dari berbagai negara dan dibiakkan di laboratorium untuk maksud-maksud tertentu. Virus dapat digunakan menghancurkan negara lain dalam perang biologi. Biayanya lebih murah ketimbang membuat senjata nuklir. Lagipula bisa disamarkan sebagai berasal dari hewan. Lebih unik lagi, tidak merusak infrastruktur fisik seperti bila menggunakan nuklir.

Kengerian dampak perang biologi/kimia telah lama didasari. Maka dari itu Protokol Jenewa 1925 melarang penggunaan gas pencekik, beracun, maupun jenis gas lainnya dan juga cara berperang biologis yang menggunakan bakteri untuk kepentingan perang.

Kemudian Konvensi  1972  tentang  pelarangan  pengembangan,  pembuatan, dan penimbunan  senjata  biologis  atau  bakteriologis  dan  beracun,  dan  tentang pemusnahannya.

Konvensi 1980 tentang larangan atau pembatasan penggunaan senjata konvensional tertentu dianggap  dapat  mengakibatkan  luka  yang  berlebihan  atau  dapat memberikan  efek  tidak  pandang  bulu. Yakni tahun 1972, lebih dari seratus negara menandatangani kesepakatan dalam Konvensi Senjata Biologi yang melarang pembuatan atau penyimpanan senjata biologi.

“Sehubungan dengan itu, maka Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, harus menjamin adanya penanganan terintegratif, supaya penyebaran Covid-19, segera dihentikan,” kata Tobias Ranggie. (Aju)