Politik
Alat Rapid Test Corona. (Ist)

JAKARTA- Uji coba vaksin Corona terus dilanjutkan oleh WHO dan Bill Gates, walaupun virus semakin beresiko tinggi dan sia-sia. Sebelumnya, para ahli sudah menyatakan sangat sulit untuk membuat vaksin Corona karena mutasi virus tersebut sudah terjadi berkali-kali.  Sekelompok ilmuwan China yang dipimpin oleh Profesor Li Lanjuan dan timnya dari Zhejiang University mendeteksi lebih dari 30 mutasi virus corona dan 60 persen di antaranya adalah 19 mutasi virus baru. Hal ini sudah dilaporkan dalam https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/23/090200623/pengembangan-vaksin-perlu-pertimbangkan-dampak-mutasi-virus-corona-mengapa?page=2

Studi itu juga mengungkapkan mutasi virus corona bergerak cukup cepat dan kian mematikan. Prof Li dan koleganya menyarankan agar pengembangan obat-obatan dan vaksin Covid-19 ini dapat memperhitungkan dampak dari akumulasi mutasi virus corona. "Itu dilakukan untuk menghindari potensi yang lebih buruk," kata Prof Li. Demikian dilaporkan dalam https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/23/090200623/pengembangan-vaksin-perlu-pertimbangkan-dampak-mutasi-virus-corona-mengapa

Tim peneliti dari Taiwan dan Australia pun telah menemukan bahwa sebuah strain virus corona penyebab Covid-19 di India mengalami mutasi yang bisa mengancam pengembangan vaksin.

Dilansir dari Science Times, Selasa (14/4/2020); tim peneliti dari National Changhua University of Education Taiwan dan Murdoch University Australia memberikan peringatan bahwa mutasi "Ini artinya, pengembangan vaksin terhadap SARS-CoV-2 saat ini, berisiko tinggi menjadi sia-sia," ujarnya. Demikian laporan dalam https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/15/170400023/mutasi-baru-corona-ditemukan-di-india-bisa-ancam-pengembangan-vaksin.

David Nabarro, utusan khusus Corona dari PBB untuk WHO menyatakan sudah tidak ada lagi kemungkinan untuk membuat vaksin Corona. Menurutnya hal ini sama dengan virus HIV dan Demam Berdarah yang sampai saat ini tidak ada vaksin yang bisa dibuat.

"Ada beberapa virus yang kita memang tidak memiliki vaksin untuk dilawan. Kita tidak dapat membuat sama sekali. Jika ada, apakah akan lulus semua tes kemanjuran dan keamanan,” kata profesor kesehatan global di Imperial College London dalam https://edition.cnn.com/2020/05/03/health/coronavirus-vaccine-never-developed-intl/index.html

David Nabarro adalah seorang dokter medis dan diplomat internasional, yang menjabat sebagai penasihat khusus untuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Perubahan Iklim. Pada saat wabah Flu Burung melanda di tahun 2005-2008, David Nabarro adalah utusan khusus Flu Burung dari PBB pada WHO. Saat itu ia membenarkan pernyataan Siti Fadilah bahwa bahwa tidak terjadi human to human transmission  dalam kasus flu burung, sehingga WHO tidak bisa menetapkan pandemi Flu Burung di Indonesia.

Dalam kasus Pandemi Corona saat ini, Siti Fadilah Supari, juga telah mewanti-wanti vaksin yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan yang berasosiasi dengan Bill Gates.

“Menurut saya  Indonesia saat ini tidak perlu vaksin  Corona karena virusnya sangat labil,” ujarnya dalam artikel yang ditulisnya di http://www.bergelora.com/opini-wawancara/artikel/13556-vaksin-bill-gates-jangan-digunakan-di-indonesia-mengapa.html

Sebelumnya dalam artikel tersebut Siti Fadilah juga mempertanyakan, kapan Bill Gates mulai membuat vaksin? Kalau Bill Gates sudah siap dengan vaksin Corona  sekarang  kapan dia punya seed virusnya? Apa sebelum pandemic Corona? Seed virus Corona  dari strain negara mana yang digunakan oleh Bill Gates dan kawan-kawan untuk membuat vaksin?

Dalam wawancara dari penjara, Siti Fadilah kepada CNN menejelaskan vaksin itu dibuat dari virus yang dilemahkan. Kalau virus yang dilemahkan itu berasal dari strain dari luar,  maka belum tentu cocok dipakai di Indonesia. Vaksin seharusnya akan memacu timbulnya antibodi yang sesuai dengan antigen (dari virus yang dilemahkan).

Ia melanjutkan, kalau sudah pandemi pasti WHO mengharuskan semua negara membeli vaksin. Barang harus dibeli dengan alasan keselamatan nyawa pasti akan menjadi komoditi dagang nomor satu.

“Vaksin bikinan sendiri dengan seed virus varian Indonesia jauh lebih tepat, apalagi bisa dibikin dengan cara halal. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200427122336-75-497643/siti-fadilah-sentil-who-bill-gates-dan-bisnis-vaksin-dunia

Bill Gates sebelumnya memang telah menyiapkan vaksinasi corona untuk 7 milliar orang. Hal ini sudah dilaporkan dalam https://www.thejakartapost.com/news/2020/04/16/gates-foundation-calls-for-global-cooperation-on-vaccine-for-7-billion-people-.html

Ujicoba bahkan sudah mulai dilakukan pada partisipan di Philadelphia and Kansas City, Missouri, Amerika Serikat. Sebuah perusahaan biotek kecil Pennsylvania sudah  mulai menyuntikkan sukarelawan yang sehat dengan vaksin coronavirus yang potensial. Vaksin eksperimental dikembangkan oleh Inovio Pharmaceuticals, dengan dana dari Bill and Melinda Gates Foundation.

Vaksin yang diberi nama INO-4800, adalah vaksin coronavirus kedua yang diuji coba pada manusia di Amerika Serikat. Bioteknologi Moderna Massachusetts mulai memberi dosis pada pertengahan Maret untuk uji keamanannya sendiri.

Untuk mempelajari vaksin Inovio, perusahaan ini mendaftarkan 40 peserta dewasa sehat di Philadelphia di sekolah kedokteran Universitas Pennsylvania dan di Kansas City, Missouri, di Pusat Penelitian Farmasi. Setiap sukarelawan akan menerima dua dosis vaksin untuk empat minggu. Inovio mengharapkan pendaftaran cepat dalam penelitian dan hasil keamanan pada akhir musim panas. Semua uji coba diatas sudah dilaporkan dalam https://www.msn.com/en-us/health/health-news/a-potential-coronavirus-vaccine-funded-by-bill-gates-is-set-to-begin-testing-in-people-with-the-first-patient-expected-to-get-it-today/ar-BB12e01f

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga kemudian mengungkapkan bahwa pada saat ini, ada 70 kandidat vaksin Corona potensial yang sedang dikembangkan di seluruh dunia. Tiga di antaranya bahkan telah mencapai tahap uji klinis. Di antara semuanya, kandidat vaksin yang sudah paling jauh pengembangannya adalah buatan CansSino Biologics Inc., Hong Kong, dan Beijing Institute of Biotechnology.

Dalam dokumen WHO yang dirilis pada 11 April 2020, dua vaksin lainnya yang juga sudah mulai melakukan uji klinis pada manusia adalah vaksin buatan Moderna Inc. dan Inovio Pharmaceuticals Inc. Kedua perusahaan ini sama-sama berasal dari Amerika Serikat, namun mengambil rute pengembangan yang berbeda. Hal ini dilaporkan dalam https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/14/193000123/update-vaksin-corona-dari-who-70-kandidat-dan-3-uji-coba-pada-manusia

*Rapid Tes-PCR Strain Indonesia*

Sudah waktunya Presiden Jokowi tidak mengabaikan peringatan para ahli internasional di atas. Saatnya bersikap tegas terhadap resiko yang membahayakan rakyat Indonesia akibat rencana vaksinasi oleh Bill Gates dan WHO.

Ketimbang bermimpi ada vaksin Corona,-- lebih realistis mempercepat pengembangan dan produksi alat rapid test molekuler base sesusai virus kita dan juga primer dari strain Corona Indonesia. Agar bisa lebih efektif dalam melakukan screening massal serentak.

Saat ini, rapid test antibodi yang saat ini dipakai di Indonesia memiliki tingkat akurasi yang rendah dan bisa menyebabkan false negative yang tinggi. WHO juga sudah mengingatkan agar pemerintah Indonesia tidak menggunakan rapid test impor tersebut untuk deteksi kasus Covid-19. Hal ini dilaporkan dalam https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200422185423-199-496268/ahli-ri-setuju-who-rapid-test-tak-bisa-deteksi-corona

Dalam PSBB saat ini, bila alat rapid tes dan PCR berbahan strain Indonesia yang compatable maka akan lebih efektif menemukan dan mengkarantina pasien positif dari ODP dan PDP bahkan OTG. Tujuannya selain menyelamatkan yang sehat,--yang positif Corona bisa lebih awal ditangani sehingga semakin banyak pasien yang tertolong sembuh. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh