Politik
Beathor Suryadi, mantan Staf KSP dan aktivis 80-an. (Ist)

JAKARTA- Aktivis 80-an Beathor Suryadi menantang Adian Napitupulu, aktivis 98 untuk keluar dari barisan pendukung Jokowi, sehubungan dengan konflik terakhirnya dengan Menteri BUMN Erick Thohir.

“Adian N70, dengan logo Aktivis 98 nya sedang galau karena Jokowi Ingkar Janji,  belum juga mengakomodir mereka ke Komisaris BUMN. (Aku-red) menunggu nyali Adian dkk 98 keluar dari Barisan Jokowi,” ujarnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Minggu (2/8).

Menurutnya, Adian, Ngabalin dan Budi Ari Setiyadi adalah pentolan juru kampanye Jokowi.

“Ngabalin dalam debat di berbagai Media TV berani membunuh kawan-kawan lamanya agar dia semakin dipercaya Istana. Sedangkan Adian, berani pasang badan membela Jokowi untuk membunuh musuh-musuh debatnya. Begitu juga Budi Ari yang kini Wakil Menteri Desa,” katanya.

Beathor mengingatkan dalam sejarah kekuasaan Indonesia modern, pengunduran diri 14 menteri dari barisan Istana pernah dilakukan oleh Ginanjar dan kawan-kawan.

“Untuk mendapatkan posisi Wakil Menteri PDT, Budi Ari melontarkan ancaman, jika organisasi relawan Jokowi yang bernama ProJo tidak dibutuhkan lagi, maka segera akan membukarkan diri dari Barisan Jokowi,” katanya.

Beathor yang berkali-kali keluar masuk penjara melawan Orde Baru dan Soeharto mempertanyakan apakan Adian Napitupulu akan mengambil langkah seperti Budi Ari.

“Kita ingin lihat, apa tindakan Adian dan kawan kawan 98 nya jika hingga akhir Agustus ini, Jokowi tidak mengakomudir mereka sebagai Komisaris BUMN. Beranikah Adian?,” ujar, mantan Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro-Demokrasi ini.

Ingkar Janji

Sebelumnya, Beahtor mengatakan, sudah berbulan-bulan Adian Napitupulu dan relawan yang lain berusaha untuk kebagian posisi Komisaris di beberapa BUMN. Hal ini dilakukan Adian Napitupulu karena Jokowi memintanya untuk mencatat daftar nama-nama relawan itu khususnya Aktivis 98. Hal yang sama juga diminta Jokowi kepada kelompok-kelompok relawan yang lain.

“Jangankan dengan Rakyat. Kepada team kemenangan Relawannya aja Jokowi ingkar Janji,”

Disisi lain, saaat Pemilu serentak 2019 ini, kemenangan Jokowi ditentukan juga oleh kader-kader partai pengusungnya yang mewajibkan setiap calon anggota legislatif untuk menampilkan wajah pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin pada semua atribut kampanye di daerah pemilihan masing-masing di seluruh desa.

“Kemenangan dari hasil kerja gotong royong itulah yang di tagih oleh relawan dan para kader partai. Kenapa setelah menang justru posisi komisaris diisi oleh pihak lain? Ada Pejabat esolen satu kementerian padahal mereka tidak memilih Jokowi. Ada juga pihak TNI/Polri dan swasta, bahkan dari partai-partai lawannya Jokowi justru diberikan jabatan,” ujarnya.

Beathor juga menyoroti titipan komisaris dari kementerian Keuangan yang bahkan ada yang sudah rangkap 3 jabatan diinternalnya.

“Apakah kemampuan span of control Jokowi pada Menteri yang lemah atau justru Menteri BUMN Erick Thohir melaksanakan kebijakan Jokowi untuk melupakan relawannya,” ujarnya.

Ia mengingatkan, pada periode pertama pemerintahan Jokowi, Rini Soemarno melawan PDI Perjuangan untuk menolak kader partai itu menjadi Komisaris BUMN.

“Ternyata itu adalah kebijakan Jokowi bukan maunya Rini,” ujarnya. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh