Politik
Zeng Wei Jian. (Ist)

JAKARTA- Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab ngasi tausiyah di tablik akbar di MT Haryono tahun 2017. Mobil Avanza meledak. Kasus "Bom Cawang".

Publik tuduh polisi. Tito geram. Penyelidikian dirilis. Diam-diam. Silent operation. Ketemu. Otak & pelaku tidak dipublish. Nama-nama dikantongin.

Pilpres selesai. Ada Poros III berpetualang. Free-riders. Antek Amerika. Benci Jokowi-Prabowo. Nggak suka nasionalis. Tengah malam datang ke Bukit Hambalang. Proposal chaoz. Moduz Korbankan purnawirawan & simpatisan 02. Semakin banyak korban, semakin baik. Proposal ditolak. Jokowi-Prabowo rekonsiliasi. Nyatu dalam Frame NKRI Merah-Putih.

Sindikat main lagi. Kali ke tiga berulah. Aktivis, lying demagogues, & koruptor ikut. Ga punya program. Jualan "Jargon" & "Deklarasi". Targetnya: Kekuasaan. Akses ke economic gains & natural resources.

Unleash the politics of lies. Mereka yang terpelanting ke luar political system menyambut. Mentalnya mental budak. Moralnya pun begitu.  Nietzsche's morality of the slaves. Kolaborasi si Dungu & si Jahat terbentuk.

Seandainya Slave's morality-cum-subterranean revengeful mania dan penyuka paha perempuan ini dibiarkan berkuasa maka mereka akan menciptakan "kakistocracy" yaitu sistem pemerintahan yang dioperasikan by the worst, least qualified, and most unscrupulous citizens.

American poet James Russell Lowell menyebut Kakistocracy is for the benefit of knaves at the cost of fools.

Sebuah sistem yang menguntungkan para penipu di atas pengorbanan para pendukungnya yang go-block. (Zeng Wei Jian)

Add comment

Security code
Refresh