Politik
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. (Ist)

JAKARTA- Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Transportasi ikut berduka dan prihatin atas jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 pada Sabtu 9 Januari 2021. Peristiwa ini menjadi catatan buruk bagi dunia penerbangan Indonesia diawal tahun 2021.

“Berdasarkan hal tersebut maka LBH Transprtasi menuntut agar Menteri Perhubungan RI mundur dari jabatannya karena minimnya komitmen pada factor keselamatan penerbangan, maupun karena ketidakmampuan memastikan ditaatinya prinsip keselamatan penerbangan oleh operator,” tegas Hermawanto, Direktur Eksekutif kepada pers di Jakarta, Senin (11/1).

LBH Transportasi juga menuntut operator dan juga regulator untuk tetap memastikan keselamatan penerbangan dalam hal ini kelayakan terbang pesawat sebagai bagian penting untuk ijin terbang, selain faktor kesehatan dari pandemi Covid-19 selama penerbangan.

“Kami menuntut regulator dan operator segera melaksanakan rekomendasi KNKT secara penuh demi keselamatan penerbangan. Operator dan juga regulator harus memastikan hak-hak korban jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 maupun ahli warisnya dipenuhi secara patut, minimal sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan,” tegasnya.

Hermawanto mengatakan sembari menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) atas kejadian tersebut, LBH Transportasi memberikan catatan bahwa jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 patut dicurigai akibat tidak terawatnya pesawat selama masa pandemi Covid 19.

Rekomendasi KNKT – Penerbangan tahun 2019. (Ist)

“Sebagaimana kita tahu akibat pandemi banyak pesawat di grounded, crew pesawat di nonjob kan bahkan sampai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Minimnya pendapatan operator yang tidak sebanding dengan mahalnya perawatan pesawat patut dicurigai, operator mengabaikan perawatan pesawat sehingga kelayakan terbang terabaikan dan regulator diam,” ujarnya.

Disisi lain menurutnya, minimnya jam terbang pilot akibat terbatasnya jumlah penerbangan patut juga menjadi perhatian atas menurunnya keterampilan, kecakapan dan kemampuan terbang pilot. Belum lagi minimnya jumlah penerbangan tentu berdampak pula pada minimnya penghasilan pilot dan crew pesawat, yang memungkinkan pilot dan crew menambah jam terbang disaat kondisi tubuh yang tidak optimal.

“Kondisi penerbangan disaat pandemic covid-19 memang sangat memprihatinkan, semua energi dan biaya difokuskan pada aspek kesehatan penerbangan penanggulangan Covid -19. Namun seyogyanya keprihatinan ini tidak dijadikan alasan pengabaian prinsip keselamatan penerbangan – kelayakan terbang, sebagai hal yang  utama,” ujarnya.

Data Rekomendasi KNKT – Penerbangan Tahun 2020 belum ada satupun yang ditindaklanjuti. (Ist)

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tanggal 17 Desember 2020 melalui release media akhir tahun, sudah memperingatkan dan mengajak Regulator dan Operator Transportasi menjalankan Rekomendasi KNKT Demi Keselamatan Transportasi.

“Namun sangat disayangkan berdasarkan data KNKT - Regulator dalam hal ini Kementrian Perhubungan  dan operator maskapai, hampir tidak menjalankan semua rekomendasi KNKT tahun 2019 dan tahun 2020 tidak ada satupun yang dijalankan untuk keselamatan penerbangan,” ujar Hermawanto.

Ia mengingatkan, pada Tahun 2020, kecelakaan moda penerbangan ada 24 kasus, sudah ada 20 rekomendasi, yang kesemuanya belum dilaksanakan. Sedangkan rekomendasi tahun 2019 baru dilaksanakan 18%, sisanya 82% belum dilaksanakan.

“Hal ini menunjukkan komitmen Menteri Perhubungan untuk memastikan aspek keselamatan penerbangan sangatlah rendah.  Padahal tahun 2019 ada 30 kecelakaan dari 956.000 keberangkatan. Jadi poinnya 31,38. Sementara tahun 2020 ada 24 kecelakaan dari 350.000 keberangkatan, jadi poinnya 68,57.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Jumlah kecelakaan tahun 2020 menurutnya memang berkurang dibandingkan tahun 2019. Namun karena jumlah operasional transportasi juga berkurang, rate of accident atau poin rating-nya tetap tinggi.

“Oleh karenanya patut dicurigai minimnya komitmen regulator dalam hal ini Kementerian Perhubungan dalam pengawasan dan penerapan prinsip keselamatan penerbangan – aspek kelayakan terbang pesawat pada operator menjadi salah satu faktor penyumbang terjadinya kecelakan Sriwijaya Air SJ182,” ujarnya.

Rekomendasi KNKT pada tahun 2019, berkaitan dengan implementasi sistem keselamatan penerbangan, pengawasan operasional penerbangan, desain dan sertifikasi pesawat udara serta kesehatan penerbang, hal ini menunjukkan semua rekomendasi KNKT adalah faktor - faktor utama keselamatan penerbangan. (ZKA Warouw)

Add comment

Security code
Refresh