Politik

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertingal dan Transmigrasi, Marwan Jafar menerima Duta Besar Amerika Serikat, Robert O Blake di Kemendes, Jakarta, Kamis (3/3) (Ist)Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertingal dan Transmigrasi, Marwan Jafar menerima Duta Besar Amerika Serikat, Robert O Blake di Kemendes, Jakarta, Kamis (3/3) (Ist)JAKARTA - Robert O Blake, Duta Besar Amerika Serikat mengaku kagum dengan realisasi Dana Desa tahun 2015 yang sudah terealisasi 100 persen. Penyaluran Dana Desa secara langsung ke pemerintah desa oleh pemerintahan Presiden Jokowi itu diyakini dapat membantu mempercepat proses pembangunan desa di Indonesia.

“Kementerian Anda (Marwan Jafar) sangat difokuskan oleh Pak Jokowi (Presiden RI). Karena, banyak anggaran yang difokuskan ke Kementerian Desa,” ujar Robert kepada Marwan Jafar, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), di Jakarta, Kamis (3/3).

Meski mengalami deviasi sekitar 6 persen dalam penyaluran Dana Desa, Robert menilai hal itu masih dalam batas wajar. Pasalnya, mengelola dana desa sebesar Rp 20, 7 Triliun bukanlah hal mudah.

Dalam kunjungannya di Kementerian Desa PDTT tersebut Robert menanyakan, bagaimana Menteri Marwan bisa menekan angka deviasi dana desa. Ia juga meminta Menteri Marwan berbagi trik, dalam mengelola dan mengawasi program tersebut. “Seberapa efektif uang yang ditransfer ke desa melalui dana desa ini untuk desa,” tanya Robet.

Dalam hal ini, Menteri Marwan menjelaskan, bahwa Undang-Undang No 6 Tahun 2014 tentang desa, telah memberikan manfaat yang sangat besar untuk desa, terutama dalam bidang infrastruktur. Sebab saat ini, dana desa diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur desa.

“Jumlah dana desa yang disalurkan ke desa mempertimbangkan beberapa hal, seperti Tingkat Kemiskinan, letak geografis dan jumlah penduduk. Dana yang disalurkan juga berdasarkan program yang diajukan desa, yang dihasilkan melalui Musyawarah Desa,” terangnya.

Selanjutnya terkait pengawasan, lanjut Marwan, pihaknya telah membentuk ribuan pendamping yang mendampingi desa dalam mengelola dana desa. Selain itu, ia juga telah membentuk Satuan Tugas Desa, dan menggandeng sebanyak 60 Perguruan Tinggi untuk membantu mengawasinya.

“Kita punya BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang mengawasi ini. Juga kita punya ribuan pendamping desa, Satgas desa. Kita juga telah membuat forum universitas,” ungkapnya.

Terkait deviasi dana desa, Menteri Marwan menegaskan, bahwa hal tersebut hanya berkaitan dengan penempatan dana desa yang kurang tepat. Bukan disebabkan oleh penyalahgunaan anggaran.

"Jadi itu hanya persoalan penempatan yang kurang tepat. Misalnya, ada yang digunakan untuk memperbaiki kantor desa. Ini tidak disarankan, seharusnya digunakan untuk kebutuhan infrastruktur desa lainnya," terangnya.

Tawaran Amerika
Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert Blake sendiri pada Kamis (3/3) berkunjung ke Kementerian Desa PDTT untuk menawarkan kerjasama pembangunan desa di tiga sektor, yakni teknologi, energi, dan kesehatan.

“Layanan kesehatan merupakan prioritas global. Sedangkan perkembangan teknologi dan energi yang semakin maju merupakan media yang harus dimaksimalkan oleh masyarakat untuk meningkatkan perekonomian. Kami akan sangat senang bisa membantu pembangunan desa dalam sektor tersebut,” ujar Blake saat Bertemu Menteri Desa Marwan Jafar di kantor Kementerian Desa, Jakarta, Kamis (3/3).

Secara khusus, Blake menekankan pentingnya teknologi informasi dalam penunjang perekonomian masyarakat desa. Dengan keberadaan internet yang semakin masif, tentu sangat baik jika seluruh desa di Indonesia dapat menjangkau layanan internet dengan baik. Apalagi internet serta perkembangan telepon seluler dapat mendukung peningkatan kualitas dan produktivitas masyarakat.

“Kami sudah berbicang-bincang dengan presiden Jokowi tentang pengembangan teknologi. Beliau menyambut baik jika internet dapat menjangkau desa-desa. Apalagi dengan perkembangan gadget sudah banyak aplikasi-aplikasi yang mendukung produktivitas masyarakat,” terang Blake.

Robert Blake mencontohkan, selama ini banyak perusahaan sotware yang mendukung produktivitas masyarakat, diantaranya perusahaan TONE yang membantu nelayan dalam mencari ikan. Contoh lainnya, para petani di India banyak yang memanfaatkan software ponsel untuk mengetahui bibit tanaman yang baik serta pengelolaannya, sehingga hasil panen meningkat.

“Perusahaan software sudah banyak yang mendorong produktivitas masyarakat. Ini sangat bagus jika dapat diterapkan di desa-desa,” imbuhnya.

Mengenai Dana Desa sebagai program unggulan pemerintahan Jokowi-JK, Blake mengaku siap membantu Kementerian Desa dengan memberikan pelatihan manajemen serta edukasi kepada masyarakat desa, termasuk melakukan pendamping tentang pengelolaan dana desa yang tepat guna.

Mendapat tawaran kerjasama ini, Menteri Marwan Jafar sangat terbuka, apalagi Amerika Serikat adalah negara besar yang memiliki banyak pengalaman dalam membantu pembangunan kawasan perdesaan.

"Kami sangat senang jika Amerika mau membantu kami. Desa-desa kami banyak memiliki usaha-usaha dan produk yang bagus. Nanti mungkin Amerika bisa membantu dari segi pemasaran, entah melalui google atau Microsoft,” kata Menteri Marwan.

Pertemuan dengan Dubes AS, Blake ini, lanjut dia, akan segera dikongkritkan dan ditindaklanjuti oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) terkait. "Langsung tindaklanjuti kerjasama ini agar kongkrit. Desa-desa butuh percepatan pembangunan, termasuk sektor energi dan teknologi informasi. Kita sedang mengembangkan desa melek teknologi dan desa mandiri energi," jelasnya. (Web Warouw)



 

Add comment

Security code
Refresh