Politik

Leo Batubara (Ist)Leo Batubara (Ist)JAKARTA- Penampilan Sabam Leo Batubara (79 tahun), ketika ditemui Bergelora.com di Lantai VII, Kantor Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih 34, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 21 Juni 2016, tidak banyak berubah.

Di usia senjanya, Sabam Leo Batubara, masih tetap eksis di Kantor Dewan Pers, untuk memberikan berbagai masukan tentang kinerja pers nasional, sebagai ujung tombak dalam menyampaikan pesan pembangunan kepada masyarakat.

Tapi tidak banyak yang tahu, keterlibatan pria kelahiran Pematang Siantar, Provinsi Sumatera Utara, 26 Agustus 1937, sebagai anggota Badan Intelijen Negara (BIN) selama 9 tahun.

Dalam kapasitas sebagai wartawan, Sabam Leo Batubara, direkrut menjadi anggota BIN. Leo Batubara dididik secara khusus, dan diinstruksikan di luar hanya diketahui sebagai wartawan.  

“Saya resmi bergabung dengan BIN tahun 1992 dan pensiun pada usia 60 tahun pada tahun 1999, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur XIV BIN Bidang Urusan Luar Negeri,” kata Leo Batubara.

Ketika dimintai tanggapan tentang profil BIN sekarang, Sabam Leo Batubara, menarik nafas panjang, karena semenjak di bawah kepemimpinan Jenderal (Purn) A.M. Hendropriyono, 2001 – 2004, dan Letjen (Purn) Sutiyoso (2015 – sekarang), sudah terlalu terbuka.

“Berpenampilan terbuka sangat tidak baik bagi kelembagaan BIN, karena di negara manapun teknis kerja intelijen semuanya bersifaf tertutup. Sifat terbuka BIN menyulitkan dalam bekerja dan paling gambang disusupkan sebuah kepentingan di luar tugas pokok dan fungsi seorang intelijen,” kata Leo Batubara.

Menurut Leo Batubara, kelembagaan BIN bersifat terbuka dilakukan Hendropriyono, dengan mengumumkan personil bertugas di tiap provinsi, lengkap dengan jabatannya.

Sikap terbuka yang dilakukan Sutiyono, dengan mengumumkan perekrutan seribu tenaga baru dan berencana membuka perwakilan BIN di Turki, untuk membendung warga negara Indonesia bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Padahal dalam logika kerja lembaga intelijen, ujar Leo Batubara, sangat tabu untuk diungkapkan di hadapan publik akan hal-hal amat sangat strategis di dalam menjalankan tugasnya.

“Dulu, tidak ada yang tahu seseorang bertugas sebagai anggota BIN, tapi sekarang sudah terang-benderang. Itu sangat merugikan pelaksanaan tugas,” ungkap Leo Batubara.

Leo Batubara mengatakan, seorang intel dilatih berbagai macam skill intelijen, baik kemampuan operasi maupun kemampuan menganalisis data hasil operasi. Karena itu, tugas seorang intelijen, mesti bersifat tertutup.

Kemampuan operasi itu, misalnya, penguasaan bahasa asing, ilmu fotografi, dasar persandian, teknik penyamaran, teknik pembuntutan, teknik manipulasi, menembak, dan menyelam. 

Leo Batubara mengatakan, sebenarnya dukungan fasilitas untuk agen-agen kita juga sudah baik. Penyadapan misalnya. Kita punya alat yang bisa merekam pembicaraan orang di mana pun di Indonesia ini cukup hanya dari Kantor BIN di Pejaten, Jakarta. 
Setelah lulus, agen-agen muda BIN tentu harus punya kedok untuk bertugas. Ada yang dipilihkan pimpinan. Tapi, sebagian besar harus mencari kedok sendiri sesuai lingkup penugasannya.

Beberapa yang paling sering dipilih adalah kedok sebagai wartawan, peneliti, dosen atau aktivis lembaga swadaya masyarakat. 

Kalau dari sisi menyamar, ujar Leo Batubara, sebenarnya kemampuan intel kita di atas rata-rata. Jika ada yang sok berlagak intel, sesungguhnya dia justru bukan intel alias intel palsu.

“Ada yang mengaku-aku anggota BIN, pakai kartu anggota segala, tujuannya jahat, memeras orang. Anggota BIN seperti ini harus dievaluasi keberadaannya,” ungkap Leo Batubara. 

Leo Batubara mengatakan, seorang intel harus mampu meluruskan persepsi orang bahwa intelijen selalu identik dengan dunia hitam, jahat, licik dan curang.

Seorang intelijen seharusnya mengabdi pada satu prinsip, yakni kepentingan nasional.

Karena pimpinan tertinggi yang idealnya bisa menjamin kepentingan nasional adalah presiden, seorang intelijen hanya patuh kepada dan melayani presiden sebagai single user. Intelijen juga harus ikhlas jika selalu disalahkan dalam setiap peristiwa besar.

“Kita tidak boleh membela diri walau data dan analisis sudah disetorkan ke user sebelum kejadian, tapi tidak ditindaklanjuti. Istilahnya, kena getahnya,” kata Leo. (Aju)

Add comment

Security code
Refresh