Politik

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dengan awak media usai upacara Laporan Korps Kenaikan Pangkat 13 Perwira Tinggi TNI, di Jalan Merdeka Barat No. 2, Jakarta Pusat, Selasa (4/10). (Ist)Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dengan awak media usai upacara Laporan Korps Kenaikan Pangkat 13 Perwira Tinggi TNI, di Jalan Merdeka Barat No. 2, Jakarta Pusat, Selasa (4/10). (Ist)JAKARTA- Panglima TNI kembali mengingatkan tentang arti persatuan, baik kepada seluruh rakyat Indonesia maupun Lembaga Negara dalam konteks meningkatkan kewaspadaan masyarakat melalui upaya yang kongkrit dan nyata.   Demikian disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo kepada awak media usai upacara Laporan Korps Kenaikan Pangkat 13 Perwira Tinggi TNI, bertempat di Kantor Panglima TNI, Jl. Merdeka Barat No. 2, Jakarta Pusat, Selasa (4/10).

“Saya pikir, apa yang saya sampaikan ini wajar, saya minta BIN lebih melihat ini dan menyampaikan kepada publik agar publik waspada. Ini saya lakukan agar masyarakat benar-benar sadar terhadap bahaya ancaman dan waspada,” ucap Panglima TNI.

Ia menjelaskan, Presiden RI pertama, Soekarno pernah mengingatkan bahwa suatu saat nanti negara lain akan iri dengan kekayaan sumber daya alam kita. Secara kebetulan pada saat Presiden Joko Widodo juga menyampaikan bahwa kaya akan sumber daya alam bisa menjadi petaka. Peringatan kedua Presiden RI itu sama, berarti kekhawatiran ini sebagai warning.

Kepada Bergelora.com dilaporkan bahwa, Panglima TNI menjelaskan bahwa, kekhawatiran itu didasari oleh eskalasi konflik Global dan Regional  beserta pola yang dianutnya, sehingga perlu diwaspadai agar tidak menjadi sebuah potensi ancaman terhadap negara Indonesia.

“Iran, Libya, Suriah mengalami perselisihan antar agama dan teroris, perselisihan dalam negeri mereka menjadikan negara lain masuk dan mengacaukan negaranya. Kita lihat Suriah, negara kaya akan sumber minyak, kondisi seperti ini yang saya jelaskan sehingga saya juga khawatir,” ungkap Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Lebih lanjut Panglima TNI mengulas bagaimana potensi dan upaya-upaya pelemahan terhadap bangsa Indonesia yang terus mengalir melalui Narkoba dan aksi terorisme serta secara nyata dan masif mempengaruhi sendi kehidupan.

“Banyak warga negara Indonesia berada di Suriah, bahkan anak-anak di doktrin melalui dalil yang menyesatkan, selanjutnya mereka kembali ke negara Indonesia untuk melakukan kegiatan teror, tidak menutup kemungkinan hal itu bisa melemahkan bangsa Indonesia,” tutur Panglima TNI.

Menyikapi sudut pandang dalam melihat suatu pernyataan di media yang disampaikan pak TB Hasanuddin selaku Wakil Ketua Komisi I DPR RI, menurut Jenderal TNI Gatot Nurmantyo harus disimak secara utuh dan positif sehingga menghasilkan kesimpulan yang objektif dan bernilai guna.

“Bahasa media mempengaruhi orang, begitu melihat majalah maka tertarik ingin membaca, mungkin beliau hanya melihat judulnya saja,” ujar Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Terkait latihan militer yang dilakukan TNI dengan Angkatan Bersenjata negara lain, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjelaskan bahwa latihan tersebut telah diprogramkan melalui pembicaraan kedua negara dan perjanjian antara Menteri Pertahanan.

“Jadi latihan ini sudah diprogramkan, tahun depan ada latihan dua dan tiga tahun sekali dengan Amerika juga India, jadi jangan dikonotasikan karena proses genting, itu memang program yang sudah terencana,” katanya.

Panglima TNI mengatakan bahwa kebijakan pemerintah Indonesia untuk Laut China Selatan dalam rangka mewujudkan situasi yang kondusif serta menciptakan stabilitas keamanan bersama.

“Pertama, pemerintah Indonesia sekuat tenaga berusaha agar di Laut China Selatan peace and stability, kemudian menghimbau kepada semua pihak untuk tidak melakukan kegiatan yang bisa meningkatkan instabilitas, oleh karenanya TNI tidak akan melaksanakan latihan dengan negara manapun dilaut China selatan,” imbuh Panglima TNI

Sementara itu, menurut Jenderal TNI Gatot Nutmanyo, TNI bersama pihak terkait selalu melakukan langkah yang terbaik dalam upaya pembebasan dua WNI yang di sandera kelompok Abu Sayyaf dan mengharapkan dukungan dari seluruh bangsa Indonesia.

“Dua orang yang disandera ini, saya mohon doanya dan mudah-mudahan dalam minggu ini ada berita gembira, semua berusaha lewat diplomasi total, siapa tahu besok atau lusa menjadi hadiah untuk TNI,” pungkas Jenderal TNI Gatot Nutmanyo.

Resahkan Publik

Sebelumnya, pernyataan Panglima TNI Gatot Nurmantyo terkait ketidakmampuan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam memetakan permasalahan keamanan dan merumuskan antisipasi adanya kemungkinan ancaman dari pihak luar dinilai telah meresahkan publik.

"Kekhawatiran Panglima TNI tentang keamanan dan keselamatan Indonesia yang diekspos ke publik sungguh aneh. Karena, bukankah Panglima TNI adalah orang yang bertanggungjawab tehadap keamanan Indonesia? Pernyataan ini justru menimbulkan kecemasan di masyarakat," ujar Wakil Ketua Komisi I DPR-RI TB Hasanuddin dalam keterangan pers, Senin (03/10).

Menurut mantan Sekretaris Militer Presiden ini, kritik dan otokritik terkait dengan keamanan negara sebaiknya disampaikan di internal pemerintah saja , dan tak perlu diungkap ke publik.

"Bicarakan saja di internal pemerintah untuk mencari solusi yang terbaik," tegas mantan Sekretaris Militer ini.

Lagi pula, lanjut TB Hasanuddin, dalam UU no 34 Tahun 2004  tentang TNI Bab IV tentang Peran, Fungsi, dan Tugas sudah dijelaskan bahwa TNI juga memiliki peran untuk menangkal ancaman dari luar. Karena itulah maka TNI dilengkapi dengan sebuah badan intelejen yang bernama BAIS (Badan Intelejen Strategis). Badan ini bertanggung jawab langsung kepada Panglima TNI.

"Dalam UU TNI Pasal 6 ayat a dijelaskan bahwa TNI bertanggungjawab menangkal setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa," ungkap TB Hasanuddin.

Sebagaimana diketahui, dalam sebuah wawancara dengan majalah mingguan, Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengungkap bahwa dirinya sejak berpangkat Kolonel, BIN dan BAIS sudah tak pernah lagi menyampaikan rumusan tentang ancaman bangsa Indonesia.

"Saya adalah orang yang sangat kuatir tentang kondisi negara kita. Kuatir karena secara tidak sengaja yang saya lakukan adalah protes terhadap hal-hal yang dilakukan pada saat saya masih kolonel. Sebuah negara harusnya punya rencana kontinjensi (cadangan)," ujar Gatot.

Bahkan, kata Gatot, tidak ada satu institusi pun di negeri ini yang menyampaikan ancaman bangsa ini. "Sampai sekarang. Harusnya yang merumuskan ancaman terhadap negara kan BIN," tukas Gatot. (Kolonel Inf Bedali Harefa/Web Warouw)