Politik
Anggota Komisi I DPR Dr Evita Nursanty, MSc (Ist)

JAKARTA- Saat ini semua negara Asean harus segera fokus hadapi ISIS di Filipina Selatan. Semua kekuatan militer dan intelejen di regional Asean harus membantu menyelesaikan krisis di Filipina Selatan agar Demikian Anggota Komisi I DPR Dr Evita Nursanty, MSc  kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (12/6).

“Perlu segera kesepakatan politik regional untuk menempatkan pasukan gabungan militer Asean di Filipina Selatan untuk mengeliminir kekuatan ISIS. Jangan biarkan Filipina sendirian,” tegasnya.

Menurutnya, Presiden Filipina, Rodrigo Duterte tidak bisa dibiarkan sendirian menghadapi ISIS di Filipina Selatan, karena kalau Filipina gagal, maka ISIS akan menjadikan Asean sebagai bagian dari teritorial operasinya dengan mendirikan negara bayangan Asia Tenggara.

“Percuma ada Asean kalau krisis akibat ISIS di Filipina tidak bisa dihentikan. ISIS bisa berkembang di di Timur Tengah karena negara-negara disana tidak kompak dan membiarkan berkembang. Ini tidak boleh terjadi diregional Asean,” tegasnya.

Indonesia sebagai negara yang bertetangga dengan Filipina dan Malaysia, menurut Evita, perlu segera menggelar pertemuan Asean untuk membahas penempatan militer gabungan tersebut.

“Presiden perlu segera mengirim komisaris politik dan militer menangani krisis di Filipina yang potensial menjadi krisis Asean. Tugas dua komisaris ini adalah untuk mendorong penempatan  pasukan gabungan di Filipina Selatan,” tegasnya.

Beberapa menurutnya negara seperti Vietnam dan Timor Leste memiliki pengalaman dalam perang gerilya tentu akan sangat berguna untuk perang counter gerilya menghadapi ISIS di Filipina Selatan.

“Didukung dengan peralatan militer, tehnologi dan logistik yang kuat dari negara-negara lainnya di Asean, kita optimis krisis di Filipina Selatan bisa diselesaikan segera,” ujarnya.

Uji Militer

Sekaranglah saatnya menurut Evita menguji kemampuan militer dan intelejen negara-negara Asean yang sudah berkali-kali melakukan latihan militer bersama.

“Regional Asean dalam ancaman, sudah waktunya menggunakan semua kemampuan yang dimiliki setiap anggota Asean untuk menghadapi setiap operasi terorisme di wilayah Asean,” ujarnya.

Ia mengingatkan, bahwa ISIS yang sedang terpukul di Timur-tengah merubah taktik dengan menyebar ke seluruh negara dengan membangun basis gerilya dan teror kota diberbagai belahan dunia. Keterbukaan ISIS di Filipina Selatan kalau tidak cepat diatasi akan menjadi basis gerilya terbuka bagi ISIS yang akan membangkitkan sel-sel yang sudah lama ditanam diberbagai negara di Asean.

“Deklarasi di Marawi, itu sinyal bahwa sel-sel diberbagai negara sudah siap untuk bangkit. Manuver mereka harus segera dipatahkan, agar tidak menyebar ke wilayah lain di Asean,” ujarnya.

Ia meminta agar diplomasi politik Asean memprioritaskan masalah ancaman ISIS dibandingkan yang lainnya, sehingga Asean benar-benar menjadi kekuatan nyata, bukan diatas kertas saja.

“Menteri Luar Negeri Indonesia sangat menentukan untuk bisa segera rapat dengan Menlu Filipina dan Malaysia untuk pertemuan darurat Asean. Ajak dan undang semua Panglima Militer negara-negara Asean. Jangan terlambat. Awal bulan Juni harus sudah ada pasukan gabungan Asean di  Mindanao dan perbatasan Filipina-Indonesia” tegasnya. (Web Warouw)

Add comment


Security code
Refresh