Politik
Alex Hirawan, pengamat sosial dan politik (Ist)

JAKARTA- Ulah organisasi-organisasi massa (ormas) belakangan ini kembali meresahkan. Beberapa ormas meminta sumbangan yang menjurus pemerasan. Pemerintah dan aparat kepolisian diminta segera mengeluarkan menertibkan ormas-ormas yang menyulitkan masyarakat itu.

“Ada satu pertanyaan di dalam hati selama bertahun melihat aktivitas ormas di beberapa daerah. Apalagi ormas kepemudaan yang sudah punya cabang dimana-mana. Sepertinya keberadaan ormas harus dievaluasi dan direorientasi kembali oleh pemerintah,” demikian Alex Hirawan, pengamat sosial politik kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (19/6) menanggapi beberapa oknum atas nama ormas tertentu menjelang lebaran sudah mulai kembali mendatangi masyarakat meminta THR (tunjangan hari raya).

Ia mempertanyakan peran dan fungsi sebenarnya dari pendirian sebuah organisasi massa, yang sudah menyimpang jauh dari kepentingan masyarakat umum, bangsa dan negara.

“Apa sih tujuan mendirikan ormas ini awalnya? Apa ini hanya sekedar pengumpulan massa untuk kepentingan politik atau premanisme? Karena dilihat dari tahun ke tahun ormas prakteknya seperti itu,” katanya.

Menurutnya, sejatinya ormas khususnya ormas pemuda didirikan untuk kepentingan sosial ekonomi anggota yang berhubungan kemaslahatan masyarakat. Sehingga masyarakat mendapatkan manfaat dari keberadaan organisasi-organisasi masyarakat tersebut.

“Idealnya ormas kepemudaan atau apapun didirikan seharusnya untuk kemashalatan masyarakat khususnya bagi warga sekitar yang masih menganggur atau dilatih mempunyai keahlian yang bisa menjadikan sandaran mereka mencari nafkah dengan jalan halal dan bermartabat,” jelasnya.

Pada tahap tertentu, sebuah organisasi massa kelak dapat membangun kerjasama ekonomi dan sosial dengan pihak swasta atau pemerintah setempat, untuk kepentingan anggotanya dan masyarakat yang lebih luas.

“Bahkan setelah itu kalau perlu pimpinan ormas bersinergi dengan pengusaha setempat atau pemda setempat mengadakan pelatihan dan membuka lapangan pekerjaan tentunya dengan niat baik dan tidak ada unsur pemaksaan bahkan pungli (pungutan liar) seperti yang selama ini dilakukan,” katanya lagi.

Menurutnya, seharusnya pimpinan ormas yang rata-rata tokoh nasional yang sudah mapan secara finansial bisa mencari jalan membuka lowongan pekerjaan anggota,  memberi pelatihan skill yang dibutuhkan,  menyalurkan tenaga mereka ke pekerjaan yang lebih manusiawi dan bermartabat daripada hanya dijadikan "alat" bagi politisi yang haus kekuasaan.

“Anggota ormas  itu pasti juga punya keluarga yang harus dipenuhin sandang, pangan dan papan mereka. Mereka akan berjuang dengan segala cara untuk mendapatkan uang agar bisa makan,-- ada atau tidak ada keahlian mereka,” katanya.

Namun Alex Hirawan menyatakan tidak bisa 100 % menyalahkan para anggota ormas karena wadahnya belum ada niat atau perencanaan matang bagaimana mengelola organisasi secara profesional dan bermartabat.

“Sebagai pimpinan ormas kalau mau lebih mulia dunia akhirat seharusnya memikirkan bahkan sampai keluarga anggotanya dengan cara contohnya  menyekolahkan anak-anak mereka,  memberikan kesehatan gratis atau hal lain nya yang dapat meringankan beban hidup keluarga mereka. Tentunya dengan kerjasama yang baik dengan beberapa pihak berdasarkan azas mutualisme simbiosisme,” jelasnya.

Ia menyarankan agar para anggota ormas tidak menjadi pongah dengan atribut seragamnya karena justru akan memberikan citra negatif pada masyarakat.

“Jangan juga semakin banyak anggota dibarengin muka seram-seram, kerjanya berantem massal rebutan lapak atau apapun. Masih ada peluang mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, bermartabat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Bukan saatnya lagi dipakaikan baju seragam ormas terus muka disangarin,  petantang-petenteng kesana kemari, menekan warga yang lemah atau menjadi centeng gak karuan,” ujarnya.

Ormas seharusnya terdepan memberi contoh bermanfaat bagi masyarakat lainnya sehingga bisa mendorong kemajuan peradaban bangsa dan negara seperti yang dicita-citakan dalam Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab.

“Saya rasa dengan persaingan usaha semakin sengit ada baiknya cara-cara lama ditinggalkan oleh para pimpinan ormas.  Saya yakin kalau ada niat baik pasti ada jalan mewujudkannya,” tegasnya. (Web Warouw)

Add comment


Security code
Refresh