Politik
Tragedi 1965/66, masyarakat ditangkap secara massal atas perintah Mayjend Soeharto untuk melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno (Ist)

JAKARTA- Sukmawati Soekarnoputri, Putri Proklamator RI, Soekarno, menegaskan kembali bahwa Tragedi 1965 adalah akibat kudeta merangkak oleh Mayjend Soeharto atas Presiden Soekarno dimulai pada 1 Oktober dini hari sampai pengangkatan Mayjend Soeharto menjadi pejabat Presiden pada tahun 1966.

Tragedi 65 kesimpulan akhir dari saya adalah "Creeping Coup d'Etat” (kudeta merangkak-red) May.Jen Suharto,” tegasnya kepada Bergelora.com di Jakarta, Selasa (19/9) menanggapi polemik yang masih berlangsung sampai saat ini.                      

Sukmawati menjelaskan bahwa kudeta itu adalah didukung penuh oleh pemerintah Amerika Serikat yang sudah memusuhi Presiden Soekarno.

“Ya (Soeharto-red) mengambil alih kekuasaan dari Presidn Sukarno yang musuhnya USA (Amerikas Serikat-red) . Soeharto adalah pilihan mereka (Amerika Serikat) untuk menggantikan Presiden Sukarno,” tegasnya.                       

Lebih khusus lagi Sukmawati menyoroti peran operasi CIA dalam kudeta Mayjend Soeharto yang mengorbankan jutaan jiwa orang yang tidak bersalah.

“Master of Coup d'Etat adalah CIA.  (Kudeta-red) adalah modus operandi Amerika dan CIA yang dilakukan bagi negara-negara Asia Afrika yang  gak mau tunduk dengan Nekolim (Neo Kolonialisme-Imperialisme-red) !” tegasnya.

Kepentingan Amerika Serikat

Pernyataan Sukmawati ini mengingatkan kembali pada hasil penelitian Willem Oltmans dari Amerika Serikat pada bukunya “Dibalik keterlibatan CIA. Bung Karno Dikhianati?” pada tahun 2001.

Dikutip dari buku tersebut Oltmans menulis:

Kahin mencatat bahwa Eisenhower, Dulles dan saudaranya, Allen Dulles Direktur CIA, merasa khawatir pada tahun 1957 itu bahwa Indonesia, juga karena kunjungan Voroshilov tersebut, benar-benar akan jadi merah, jadi komunis. Saya ada di sana. Semuanya itu jelas tidak benar, tetapi Gedung Putin yakin akan hal itu. Oleh sebab itu, roda untuk wahana kup CIA mulai digerakkan, seperti diungkap Kahin dengan amat cermat atas dasar dokumen, dan disiarkan lewat Undang-Undang Kebebasan Informasi. Tentu saja masih banyak nama dan

informasi yang ditutupi. Hanya Tuhan yang tahu apalagi yang tersembunyi dalam berkas Pemerintah Amerika Serikat mengenai tindakan pidana dan ilegal yang dilakukannya di seluruh pelosok dunia?

Hugh S. Cummings secara pribadi tidak menyukai Bung Karno, demikian ditulis Profesor Kahin. Ketika ia kembali ke Washington, ia menjadi pejabat penghubung antara Departemen Luar Negeri dan CIA dan tetap berhubungan akrab dengan Dulles bersaudara. Saya berjumpa dengan Cummings pada sebuah resepsi di Istana Merdeka. Saya juga berbicara dengan penggantinya, John Allison. Sementara Cummings merencanakan kup CIA di Padang, Allison tidak menyadari apa yang sedang dilakukan pemerintahnya untuk menggeser kepala negara yang menerima penyerahan surat-surat kepercayaannya sebagai duta besar di Jakarta dengan upacara di istana. Dulles dan Cummings membiarkan dubesnya ini tidak tahu apa-apa mengenai niat mereka yang jahat dan licik terhadap Soekarno dan Indonesia.

Mungkin perlu saya tambahkan di sini, bahwa pada tanggal 17 Agustus 1957, saya ikut dengan Bung Karno, naik kapal perang dalam perjalanan ke Maluku, Ternate dan Tidore. Di salah satu tempat kami mendarat ada seorang Amerika yang bergabung dengan kami dan memperkenalkan dirinya sebagai Profesor Guy Pauker. Saat itu saya memasuki tahun ke-4 bekerja sebagai wartawan dan saya tidak tahu, bahwa sebenarnya ia seorang pengamat masalah Asia dari kelompok pemikirnya (think-tank) CIA, yaitu Rand Corporation di California, telah ikut naik kapal. Lima tahun setelah pendudukan Nazi di Negeri Belanda, dan sempat mengamati tindakan Gestapo secara langsung, rasanya tidaklah mungkin bila cara yang sama diterapkan pula oleh kelompok orang yang sama, yang telah memerdekakan negeri kita. Pauker kelihatannya ramah. Ia memang banyak bertanya, tetapi tidak seujung rambut pun saya menyadari bahwa saya sedang di-‘interogasi’ oleh agen CIA. Mengapa para pembantu Soekarno membiarkan pria ini naik ke kapal? Suatu hari, Pauker minta saya memperkenalkannya kepada presiden. Saya menyuruhnya agar siap pada pukul 06.00 pagi. Seperti biasanya, Bung Karno sudah bangun dan duduk-duduk di beranda rumah pejabat daerah yang dikunjunginya. Saya perkenalkan orang Amerika itu. Soekarno bertanya, ‘Apakah Anda berkerabat dengan Menteri Luar Negeri Rumania?’ Yang dimaksudnya ialah Anna Pauker, yang pada tahun empat puluhan menjadi ‘bos’ komunis yang sebenarnya di negerinya. (lihat ‘A Long Row of Candles’, C.L. Sulzberger, MacMillan, New York, 1969). Jawabnya, ia bukan kerabat menteri itu.

Bertahun-tahun kemudian, baru saya sadar telah memperkenalkan antek CIA nomor wahid itu kepada sahabat saya. Pada tahun 1970 saya berjumpa lagi dengan Pauker di rumah Robert Komer di California. Robert Komer ialah pria yang boleh dianggap penjahat perang nomor satu di masa itu, karena ialah yang memulai program perdamaian Amerika Serikat di Vietnam. Ingatkah Anda akan program perdamaian yang dipimpin Jenderal van Heutsz di Aceh? Rekan-rekannya memberinya julukan ‘Blow-torch Bob’, ‘si penyolder’, karena cara-cara zalim yang dipakainya untuk menghancurkan perlawanan Vietkong terhadap pendudukan Amerika Serikat. Pada masa itu, Profesor Richard Falk dari Universitas Princeton menyebut Komer sebagai penjahat perang kelas satu. Saat itu saya sedang mewawancarai anggota tim Presiden Kennedy di Gedung Putih untuk membuktikan bahwa Joseph Luns bohong ketika ia berbicara tentang peranan Kennedy dalam menyelesaikan sengketa Irian Barat secara damai. Saya terpaksa melibatkan Komer karena ia yang menangani masalah Irian Barat ini untuk JFK. Tentu saja pada kesempatan itu saya ungkapkan bahwa pada tahun 1957, saya tidak menyadari bahwa Profesor Pauker - yang diundang Komer untuk hadir dalam pembuatan film mengenai wawancara itu - terlibat dengan kelompok pemikir CIA, tetapi pekerjaan Pauker yang sebenarnya menjadi jelas bagi saya pada perjumpaan dengannya di rumah Komer itu.

Profesor Kahin merinci dengan cermat langkah demi langkah perekayasaan makar pada tahun 1958 yang dilakukan di Washington. Dubes Allison pada dasarnya berbeda pandangan dengan CIA mengenai Soekarno, dan tokoh militer seperti Admiral Felix Stump, kepala US Pacific Forces (CINCPAC) bahkan berpikiran lebih buruk mengenai Bung Karno. Dewan Keamanan Nasional-nya Eisenhower sudah rapat sejak 14 Maret 1957. Sekretaris Menteri Luar Negeri Walter Robertson (saya bertemu dengannya bersama Marshall Green, wakilnya, sekitar waktu yang sama di Departemen Luar Negeri di Washington) menjelaskan dalam rapat tersebut bahwa kehancuran Indonesia sudah makin menjadi kenyataan. Pemerintahan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo jatuh pada tanggal 17 Maret 1957. Admiral Radford, kepala operasi bidang kelautan, menyatakan bahwa armada Amerika telah siap untuk setiap keadaan darurat di Jakarta, disiapkan untuk mengimbangi kup komunis.

Kahin mengungkap secara rinci di dalam bukunya, cara Washington dan CIA beroperasi pada tahun 1958 yang amat rahasia. Ia berceritera tentang Francis Underhill, pejabat urusan Indonesia di Departemen Luar Negeri AS, yang beberapa tahun kemudian tanpa sengaja menemukan bukti mengenai apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1958 itu, atau mengenai kapal selam AS yang membawa berton-ton amunisi secara rahasia ke markas besar PRRI di Padang. Dubes Allison sama sekali tidak dilibatkan dalam persekongkolan CIA bersama dengan Eisenhower di Gedung Putih ini. Ia harus pensiun setelah bertugas sebagai duta besar Amerika Serikat di Jakarta hanya selama tujuh bulan.

Rakyat Indonesia sangat tahu akan kegagalan pemberontakan PRRI dan Permesta menentang pemerintah dan Presiden Soekarno pada tahun 1958 itu. Mereka juga sering mendengar bahwa Kolonel Pieters dan anak buahnya menembak jatuh pesawat pembom CIA yang melintas di Ambon. Pilot pesawat CIA itu, Allan Pope, menyelamatkan diri dengan terjun payung. Masih merupakan teka-teki bagi saya mengapa orang Indonesia pada umumnya, sementara mereka menerima pendapat bahwa yang terjadi pada tahun 1958 adalah ulah CIA, pada saat yang sama mereka sering dengan berapi-api menentang dugaan keterlibatan CIA ini, dan berpendapat bahwa apa yang terjadi di Jakarta pada tahun 1965 adalah ceritera yang lain. Kenyataannya, peristiwa tahun 1965 merupakan ulangan yang diperhalus dari tindakan tahun 1958 untuk menggeser Bung Karno selama-lamanya.

 

John Foster Dulles menyadari setelah kegagalan petualangannya di Indonesia pada tahun 1958 itu, bahwa ia harus mengubah jalannya. Jenderal Yani, yang baru kembali dari pelatihan di Amerika Serikat di Fort Leavenworth, dikirim untuk memadamkan pemberontakan di Padang. Permainan para pejabat Indonesia, yang mengkhianati negerinya dan berkolusi dengan AS dan CIA, sedang marak. Tiba-tiba saja Washington kembali menawarkan bantuan kepada pemerintahan militer Soekarno, yang boleh dikatakan tidak meningkatkan rasa hormat Bung Karno terhadap Washington. Dulles juga mengutus Howard Jones sebagai dubes baru di Jakarta, yang menjadi kawan terpercaya Bung Karno. Saya telah mengenal Jones selama bertahun-tahun, bahkan lama setelah ia pensiun dan menjadi ketua dewan dari Christian Science Monitor di Boston. Kami juga saling berkirim surat, surat-surat itu menjadi bagian dari buku harian saya yang panjangnya 67 m, yang sekarang tersimpan aman di Royal Library di Den Haag. Saya akan kembali ke buku Kahin untuk membahas makar yang terjadi tahun 1965 itu. (Web Warouw)

Add comment

Security code
Refresh