Politik
Wakil Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dita Sari (Ist)

JAKARTA- Wakil Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Dita Sari ikut terkejut dengan intruksi tersebut dan menilai Presiden menerima informasi yang tidah utuh tentang tembakau. Menurutnya ada kepentingan bisnis besar yang akan merampas wilayah perkebunan tembakau tradisional yang sudah ada sebelum Republik Indonesia berdiri. Ini ditegaskannya setelah mendengar rencana pemerintah menaikkan cukai rokok belakangan ini.

"Itu menunjukkan bahwa Presiden belum mendapatkan informasi yang cukup tentang pertanian tembakau. Presiden jangan mau dijebak, diadu domba dengan buruh pabrik rokok dan petani tembakau," ujar Dita kepada Bergelora.com di Jakarta, Senin (7/1).

Upaya mematikan industri rokok dalam negeri selalu dilancarakan bukan untuk kepentingan kesehatan seperti yang dikatakan selama ini tetapi semata-mata merebut pasar perokok Indonesia dan pengalih fungsian lahan tembakau pada kepentingan modal besar.

“Buruh dan petani selalu menjadi korban perebutan kepentingan tersebut. Presiden jangan dibohongi terus dong,” tegasnya.

Dita menyebut Presiden belum memahami bahwa tembakau bukanlah komoditas yang bisa ditanam sepanjang tahun.

"Waktu tanam hingga panen adalah 3 sampai 4 bulan dengan panen hanya satu kali setahun. Sehingga, jeda waktu 6 sampai 8 bulan selalu diselingi dengan tanam padi atau jagung," jelasnya.

Presiden, kata Dita, harus memahami juga bahwa penyerapan tenaga kerja dalam satu musim tanam tembakau sangat tinggi. Proses tanam hingga panen dan perajangan tembakau mebutuhkan banyak tenaga manusia.

Selain itu, semua proses tanam tembakau selalu dilakukan secara mandiri tanpa ada subsidi dari pemerintah.

"Artinya proses itu berjalan secara mandiri, tanpa merepotkan negara. Kenapa malah mau dimatikan?" tanyanya.

PKB, menurutnya, sebagai partai yang dekat dengan kalangan petani siap memperjuangkan dan membela hak petani yang terancam oleh kebijakan pemerintah.

"Jangan lupa, mereka (petani) dulu mayoritas memilih Bapak," tukas Dita Sari.

Dijelaskan Dita, selama ini harga jual tembakau selalu tinggi. Satu patok tanaman tembakau dibeli tengkulak di sawah dengan harga kisaran Rp9 - Rp10 juta. Dibandingkan harga 1 patok padi yang dihargai tengkulak kira-kira Rp4 - Rp6 juta. Jika disarankan pemerintah beralih ke tanaman lain seperti padi, akan ada penghilangan pendapatan yang dialami petani tembakau.

"Siapa yang mau mengompensasi hilangnya selisih pendapatan dan turunnya daya beli ini? Apakah negara, uangnya dari mana?" jelasnya

Kemudian, ia menyoroti kenaikan cukai rokok yang realisasinya hingga sejauh ini dinilai belum berhasil. Menurutnya, realisasi cukai rokok tahun 2017 hanya sekitar Rp77 triliun. Sementara, target pemerintah dari cukai rokok sekitar Rp147 triliun.

"Jadi, kita heran kok hanya 50 persen teralisir malah mau dinaikkan cukainya. PKB berkepentingan karena petani tembakau konstituen kami," kata Dita. (Web Warouw)

Add comment


Security code
Refresh