Politik
Aksi NU menolak ISIS di Jawa Tengah (Ist)

JAKARTA – Penyebab masifnya wacana radikalisme di media online adalah keterlambatan Islam moderat menguasai wacana di ruang publik. Sudah saatnya ruang publik itu direbut kembali agar wacana keislaman moderat yang menjadi ciri khas Indonesia kembali dominan.

Hal inilah yang diungkapkan Program Manager Asian Muslim Action Network (AMAN) Gufron Yoyok dalam diskusi bertajuk “Membedah Radikalisme Online, dengan Social Network Analysis” di Gedung LIPI, Jakarta, Senin (20/11) yang dilaporkan infonawacita.com dan dikutip Bergelora.com di Jakarta, Rabu (22/11)

Gufron menjelaskan jika kelompok moderat belum mampu membuat narasi keislaman seperti yang sering digaungkan kelompok radikal lewat media sosial. Menurutnya, kelompok radikal cenderung jauh lebih baik dalam membuat tulisan bergaya media sosial yang dapat jauh lebih mudah dicerna oleh masyarakat.

“Misalnya dari tulisan sendiri, mereka punya style di media sosial cukup mengena dalam merebut hati pembacanya dengan melihat berbagai aspek keislaman yang umum, seperti isu jihad, bagaimana beragama Islam, dan sebagainya,” kata Gufron.

Akhirnya kata Gufron, perlahan-lahan pasca reformasi 1998, ruang-ruang demokrasi pun berhasil dicuri kelompok-kelompok radikal untuk bisa menyisipkan ideologinya pada masyarakat.

Masyarakat perkotaan yang jauh lebih mudah diajak untuk berdiskusi pun akhirnya menjadi sasaran empuk dari penyebaran paham radikalisme. Terlebih, muslim di perkotaan tidak terafiliasi dengan organisasi-organisasi keislaman yang moderat seperti Muhammadiyah atau NU.

“Di kota mereka tidak ada terafiliasi dengan pesantren, kiai, jadi mereka cenderung lebih mencari identitas diri keislaman itu dengan media sosial, dan guru ustad yang mungkin tidak memiliki kapabilitas keilmuan,” kata Gufron.

Lewat pencurian ruang wacana dan narasi keislaman yang radikal itulah, menurut Gufron, penyisipan kepentingan ekonomi dan politik mudah ditularkan ke masyarakat yang sudah terpapar.

“Kita tidak usah menutup mata ya, tidak bisa dipungkiri, seperti isu-isu hijab, busana keislaman yang mereka gaungkan, itukan pasti terkait dengan kapitalisasi ekonomi,” kata Gufron.

Perbantahan Haram Halal

Namun, jelas Gufron, tidak dapat dipungkiri, saat ini kelompok moderat pun sudah mulai melirik media sosial dalam menghidupkan kembali Islam yang moderat di Indonesia. “Jumlahnya sekarang hampir imbanglah,” ujar Gufron.

Maka dari itu kata Gufron, terpenting sekarang, kelompok moderat jangan terjebak dengan isu-isu pembantahan haram halal yang juga digaungkan oleh kelompok radikal. Ia berpendapat, kelompok moderat juga harus mampu memunculkan narasi keislaman yang lebih membumi di masyarakat seperti yang sebelumnya pernah dipakai oleh kelompok radikal ketika mencuri hati masyarakat.

“Misalnya saja seperti bagaimana Islam sangat menjunjung tinggi kesetaraan perempuan dan laki-laki, bagaimana Islam menjaga lingkungan hidup, bahkan bagaimana Islam memandang korupsi,” saran Gufron. (Desy Selviany)

Add comment


Security code
Refresh