Politik
Ilustrasi kebhinneka tunggal ikaan (Ist)

JAKARTA - Dalam berbagai kesempatan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo selalu mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang punya banyak keragaman. Keragaman itulah, yang jadi kekuatan bangsa ini. Itu pula, yang dirajut para pemuda ketika menyuarakan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Soal kebhinekaan kembali disinggung Tjahjo, saat ia jadi pembicara dalam acara sarasehan bertajuk, " Indonesia, Rumah Kita," di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Para pendiri bangsa pun, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Jenderal Sudirman, Sutan Sjahrir, dan lain-lain, kata Tjahjo, sangat menghormati perbedaan yang ada. Mereka para pendiri bangsa sadar, bahwa keragaman itu adalah kekuatan bangsa Indonesia. Fakta sejarah yang tak bisa ditampik. Karena itu, para pendiri bangsa, selalu berusaha menjaga itu. Merawat keragaman. Menjaga perbedaan. Sehingga Bhineka yang ada tetap Tinggal Ika.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Tjahjo merasa heran, ketika ada orang atau kelompok yang mengaku elemen bangsa, justru mempersoalkan bahkan menafikan kebhinekaan. Harusnya, mereka malu kepada para pendiri bangsa yang telah berjuang keras sepanjang hayatnya, menjaga dan merawat kebhinekaan. Singapura saja, bisa begitu menghormati perbedaan ketika mengangkat Presidennya yang notabene bukan dari suku mayoritas. Tapi yang ia heran, kenapa  di Indonesia masih ada yang mempersoalkan seseorang dari asal usulnya.

"Masa kita kalah sama Singapura, sekarang wanita presidennya suku Melayu. Sebelumnya presidennya India. Sebelumnya etnis Cina. Yang penting warga negara republik Indonesia. Harusnya itu yang disuarakan," kata Tjahjo (ZKA Warouw)

Add comment


Security code
Refresh